Senin, 26 Mei 2014

Lagu Generasi Kreatip TTKM (Tuhan Tahu Kita Mampu)

Satu kreativitas anak-anak muda di bawah label #GKreatip ingin berbagi kisah dalam sebuah video inspiratif berikut ini. Simpel namun begitu menggoda sendi ukhuwah dan keyakinan tentunya. Mengapa simple? Karena dengan ikon-ikon fitur media chatting whatsapp diolah menjadi sebuah video asyik. Ditambah lagu positif “Kita Mampu” milik kang Ali Sastra feat. D’Jenggots yang sarat akan pesan-pesan penuh makna.

Penasaran? Ini Videonya:




Lirik Tuhan Tahu Kita Mampu (TTKM) – Ali Sastra feat. D’Jenggots

Saat kau terpuruk dan terjatuh
pakai pundakku dan kita lawan terpuruk itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU
saat beban penuhi pundakmu
genggam bahuku dan kita bagi bebanmu itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU

pernahkah dirimu merasa gelisah
begitu hebatnya beban yang harus engkau bawa
kurasa susah, semangat payah, lalu kau pasrah, hentikan langkah,
hingga akhirnya kau mengalah

di saat itu kau harus tahu
bahwa Tuhan sebenarnya memberi ujian padamu
ujian untuk mengukur kadar keimananmu
ujian untuk mengangkat meninggikan levelmu


karena tak ada ujian yang tak bisa dilalui
karena Tuhan telah mengukur diri ini
lebih baik hadapi segala beban diri
hadapi dengan ikhlas di hati

engkau tak sendirian menghadapi cobaan
saudara seiman pasti kan ulurkan tangan
kita hadapi semua dengan hati terbuka
yakin ini hanyalah ujian semata

saat kau terpuruk dan terjatuh
pakai pundakku dan kita lawan terpuruk itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU
saat beban penuhi pundakmu
genggam bahuku dan kita bagi bebanmu itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU

bertubi-tubi cobaan pun silih berganti
seakan-akan tak habis-habis dan tak berhenti
kita rasakan semakin lemah setiap hari
bahkan muncul keinginan tuk coba bunuh diri

tapi sejenak cermatilah kehidupan ini
betapa luasnya karunia dari Ilahi
meski kadang di tengah, kadang di sisi, kadang di atas, kadang dibawah
kadang tak dimengerti

sadarlah kawan, di sepanjang perjalanan
sungguh hidup ini terus memberi pelajaran
karena bagaimanapun selalu ada Tuhan
yang memberikan kekuatan

satu persatu, seiring berjalannya waktu
kita akan tahu sebenarnya yang Tuhan Mau
Tuhan ingin kita jadi manusia yang TANGGUH
Tuhan ingin agar kita tak mudah tuk mengeluh

saat kau terpuruk dan terjatuh
pakai pundakku dan kita lawan terpuruk itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU
saat beban penuhi pundakmu
genggam bahuku dan kita bagi bebanmu itu
karena TUHAN TAHU KITA MAMPU, KITA MAMPU

aku di sini sedia menemani
siap bantu jika beban itu mau kau bagi
jangan pikirkan pamrih, hilangkan semua perih
jangan lagi terpuruk dan tenggelam dalam sedih

genggam erat pundakku, cengkram erat bahuku
biar segera terbagi semua beban itu
bersama kita maju dan melangkah tanpa ragu
hapus semua pilu agar kita terus melaju

Tuhan tak pernah tidur, apalagi mendengkur
semua ini jelas-jelas telah Tuhan ukur
mungkin dengan begini kita kan tahu bersyukur
mungkin dengan ini kita takkan pernah takabur

TUHAN ADA DI SINI, DI DALAM JIWA INI
Ebiet G Ade pernah melantunkan syair ini
ayo bangkit berdiri kalau perlu kita lari
tetap semangat tuk hadapi semua ini

Best Regards
Iswandi Banna
twitter iswbanna

Bonus:
Kisah di balik lagu Tuhan Tahu Kita Mampu (TTKM) (diambil dari http://alijumena.wordpress.com/)
Berbicara lagu “Tuhan Tahu Kita Mampu” (selanjutnya disingkat TTKM), adalah seperti kita meneropong dunia dan menyatukannya dalam satu lirik.

There are a lot of problems in this earth. Tapi itulah hidup. Manusia hidup, pasti punya masalah. Kalau tidak mau bermasalah, ya jangan hidup. Simpelnya sih begitu. Dan Lagu TTKM ini berusaha meneropong segala permasalahan hidup yang terjadi. Masalah, masalah, dan masalah. Kita ganti saja kata masalah itu dengan ujian.

Ya, ini lagu bercerita tentang bagaimana manusia menghadapi ujian yang kadang dianggap sebagai sebuah masalah yang rumit, hingga akhirnya mengalah, pasrah, depresi, stres, bahkan sampai mau mengakhiri hidup. Saya angkat akibat-akibat dari kurang kuatnya Kita dalam menghadapi masalah di bait-bait awal rapnya.

Namun pada akhirnya, di lagu ini Saya mencoba mengingatkan diri Saya khususnya dan Pendengar pada umumnya, bahwa ini semua skenario Alloh. Dan Alloh sudah memberikan skenrioa terbaik untuk kita semua.

Pada akhirnya, TTKM dihadirkan -sudah pasti atas ijin Alloh- sebagai bentuk penyemangat agar kita bangkit lagi dan berusaha untuk menghadapi masalah dengan ikhlas dan tawakkal.

Semoga TTKM bisa menjadi sebuah oase, sebuah semangat, agar kita semua selalu yakin bahwa Alloh memberi yang terbaik untuk kita, dan bahwa ujian itu dihadirkan untuk kita, karena kita akan naik kelas. Berbahagialah orang yang sabar atas ujian Alloh, karena sudah dapat dipastikan, bila Ia lulus, maka level atau kelasnyapun naik.

Rabu, 14 Mei 2014

Oleh-oleh dari Suriah

Ustadz Ferry Nur (Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina) membawa 'oleh-oleh' dari Suriah. Beliau menceritakan perjalanan beliau beberapa hari lalu ketika menyampaikan bantuan kemanusiaan ke Suriah.

Kata Ustadz Ferry Nur:
"Ketika pergi ke daerah konflik, misalnya untuk menyalurkan bantuan, kita harus dibekali dengan fiqhud da'wah. Kita pun harus tau bagaimana adat istiadat, tradisi, atau kebiasaan masyarakat setempat."

Ustadz Ferry Nur menambahkan:
"Gadis-gadis dan para muslimah Suriah tidak suka dan tidak mau difoto. Hanya anak-anak mereka -yang belum baligh- saja yang diizinkan berfoto. Itu sudah menjadi kebiasaan hidup mereka. Jika ada seorang laki-laki memandangi wanita (muslimah) Suriah, maka wanita tersebut pasti segera pulang untuk mengadu kepada orang tua atau keluarganya bahwa ada laki-laki yang menggodanya. (Hal itu menunjukkan betapa mereka begitu kuat menjaga keimanannya). Orang-orang Suriah itu kulitnya halus-halus, putih-putih, lembut-lembut.

"Kebiasaan saya adalah mengucapkan salam kepada orang yang saya jumpai.Suatu kali saya melewati kaum muslimin dan muslimah Suriah. Saya pun mengucapkan salam kepada mereka. Pemandu saya, seorang warga asli Suriah, bergegas mengingatkan saya. Dia bilang, kalau mengucapkan salam ke sesama laki-laki saja, jangan kepada yang perempuan.

"Pernah pula kejadian, seorang laki-laki merokok. Orang yang melihatnya langsung mengambil rokoknya, lalu memukulnya. Setelah itu rokok dikembalikan kepada pemiliknya, dan yang tadi memukul menasehatinya bahwa rokok itu haram. Bagaimana kalau di negeri kita, Indonesia, coba?

"Di Suriah, saya pun sering melihat dengan mata kepala sendiri, mujahidin kencing sambil berdiri dan tidak bercebok. Diantara pemudanya ada yang tatoan. Mereka adalah korban pendidikan yang tidak layak dari rezim penguasa. Kita yang tau ilmunya kan tidak mungkin serta merta langsung mengusir mereka dari medan perjuangan ini.

"Selama di Suriah, dentuman bom terjadi di sana-sini. Pesawat-pesawat tempur militer berlalu-lalang setiap saat dan tank-tank militer berpatroli di setiap titik. Di tengah kondisi yang mencekam tersebut, anak-anak dan para pemuda Suriah tak henti-hentinya menyibukkan diri dengan belajar Al Quran dan menghafalnya, tanpa sedikitpun merasa takut dengan bom-bom yang sehari bisa mencapai 50 kali dijatuhkan.

Ada cerita menarik: salah seorang rekan saya dari Solo, mengatakan kepada anak-anak Suriah, "Siapa yang hafal Surat Ar Rahman saya kasih hadiah (dalam jumlah besar)." Rekan saya mengira paling hanya sedikit yang hafal. Nggak taunya, semua anak Suriah mengangkat tangan, semua hafal Surat Ar Rahman. Alhamdulillah semua pun diberi hadiah."

Disampaikan oleh Ustadz Ferry Nur dalam Kajian Selasa Siang
Masjid Baitut Taqwa DJBC, 13 Mei 2014

#Syukron Bro Shidiq Gandhi resensinya maknyoss

Best Regards

Iswandi Banna
twitter iswbanna

Jumat, 03 Januari 2014

Perjuangan Muslimah Batam Melawan Pemerkosa


Satu lagi kisah perjuangan seorang muslimah mempertahankan kehormatannya. Tergugah membaca tragedi Batam berikut ini:

Dikabarkan dari Islampos.com, Sabtu sore (28/12/2013), pukul 17.00 WIB, seorang muslima Juni Esti Siregas (24) pulang dari tempat pengajiannya menggunakan sepeda motornya. Ia seorang karyawan PT. JMS Batam. Salah satu kegiatan pekanan Juni adalah aktif mengisi mentoring ke pelajar Sekolah Menengah di kota Batam setiap pekannya. Juni adalah sosok muslimah aktivis yang lembut dan ramah.

Tempat pengajian Juni di daerah Tiban, dan rumahnya di Tembesi, Batu Aji. Berpikir bahwa saat tidak ada agenda lagi, entah kenapa, tiba-tiba Juni terpikir untuk mencoba jalur baru menuju rumahnya. Lama berjalan, Juni sadar bahwa ia tersesat. Selidik punya selidik, ia malah hampir ke Pelabuhan Sekupang.

Saat itu hanya ada dua orang yang berada di sekitar tempat ia tersasar. Satu bapak berambut panjang dan satu lagi seorang pria yang mengendarai sebuah motor. Merasa ada orang, Juni memberanikan diri menyapa pria yang tengah menyalakan starter motornya itu.  “Kalau mau ke Batu aji belok mana, ya? Ini udah buntu ya?”

Si Abang mendelik. “Iya, ini udah buntu. Batu aji dimananya?”

“Daerah Tembesi,” jawab Juni.

“Oya udahlah bareng. Saya juga deket daerah itu, deket pom bensin Melati Subur,” ajak si pria itu.

Jadilah Juni mengikuti abang tersebut. Ia mengendari motor di belakang si abang. Sepanjang jalan, pria itu kerap bertanya. Menurut Juni, pria ini termasuk ramah, sehingga tak pernah terbersit sedikitpun ada pikiran yang bukan-bukan di kepalang.

Lama menyusur jalan, Juni sadar, mereka sampai di daerah Tanjung Riau. Juni tak tahu sama sekali tentang daerah mana. “Bang, kok belum nyampe-nyampe juga? Saya pernah dulu nyasar ke Sekupang, ada ini ada ini, ada kuburan Kristen, koq sampe sekarang belum jumpa juga, lama kali, kan udah jauh kan, udah sunyi lagi?”

Si Abang menjawab, “Oh, mau gak motong?”

“Motong? Dari mana?”

Pria tersebut menunjukan jalan menuju seperti hutan. Juni mulai curiga. Ketika memasuki daerah itu, setelah agak jauh, Juni bertanya, “Bang, kok sunyi?”

Si abang menghentikan motornya, dan menahan laju motor Juni. Pria itu mengeluarkan sebuah gunting. “ Turun!!! Mau mati atau mau hidup?”

Juni terkesiap. “Kenapa Abang ini? Bicara baik-baiklah Bang, kalau mau motorku ambil, mau handphoneku, ambil…”

Pria itu tak menjawab. Malah dengan satu sentakan yang keras, ia menarik jaket Juni. Juni berontak. Ia diseret lelaki itu. Selintas Juni berpikir, pria ini hendak memerkosanya.

Pria itu terus menyeret Juni, dan berusaha untuk membuka helnya. Merasa gelagat sudah tidak beres, Juni berusaha bangkit, dan sebisa mungkin memukul orang tersebut. Ia berusaha meraih kayu untuk memukul si lelaki yang sudah beritikad tidak baik tersebut. Tapi sia-sia. Tenaga lelaki itu terlampau besar untuknya.

Lelaki itu berhasil mempreteli jaket yang dikenakan Juni. Tapi tidak baju gamis lebarnya. Ia menyekap Juni. Juni terus berontak, dan menjerit-jerit. Kesal, si lelaki itu memukul Juni sekuat tenaga. Juni menggeloso ke tanah, dan pura-pura pingsan. Si lelaki menyangka Juni betulan pingsan. Ia menjadi agak lengah, sementara Juni berdoa dalam hatinya, “Ya Allah, ini makhlukMu,… janganlah matikan aku di tempat seperti ini dengan cara yang seperti ini.” Juni terus berdoa tiada henti. Juni mengumpulkan tenaga dan dengan sebat, sambil berterak keras “Allahu Akbar!”, Juni menendang si lelaki. Juni tidak tahu bagian mana yang ia tendang.

Si lelaki beringas kembali. Ia kembali menodongkan gunting ke arah Juni. “Kamu mau mati ya?”

Juni menukas, “Lebih baik aku mati!”

Si lelaki merangsek dan menusukkan gunting itu beberapa kali ke perut Juni.  Tapi ajaib, ketika itu, Juni tidak merasa sakit, dan tak ada darah yang keluar dari perut Juni. Melihat itu, si lelaki tambah beringas. Diarahkannya gunting itu ke leher Juni. Digesek-gesekkannya sebat. Juni berusaha melindungi dengan tangannya sambil bertanya-tanya dalam hati,  “Ya Allah, udah putus belum ya urat leherku ini…”

Juni bisa bangkit. Si lelaki kalap. Mungkin karena Juni ternyata masih belum mati juga. Juni sendiri tidak merasakan apa-apa lagi. Yang ada di kepalanya hanya satu, ia berdoa agar ia selamat dan tetap terjaga.

Si lelaki yang geram kemudian menerkam Juni dengan sambil tetap menusukkan guntingnya ke seluruh tubuh Juni. Juni terjerambab. Ia meronta-ronta. Sekarang, ia merasakan mulutnya berdarah. Ia terus meronta-ronta.

JUNI terjengkang kembali. Menggeloso di tanah. Tak bergerak. Si laki-laki tampaknya menyangka Juni sudah mati, dikarenakan tusukan dan pukulan sudah bertubi-tubi mencabik tubuh Juni.

Entah dapat pikiran dari mana, Juni perlahan bangkit, berdiri dan menghampiri si lelaki itu. “Aku hidup kembali…” geram Juni pada lelaki itu.

Tanpa dinyana, si lelaki itu terlihat jelas ketakutan. Juni sendiri berpikir ketika itu ia sudah mati. Ia dengan jelas bisa merasakan bahwa muka dan tubuhnya dipenuhi darah. Giginya sudah tanggal di beberapa bagian, dan akibatnya penglihatannya juga kabur, sama-samar.

Si lelaki berlari. Juni mengejar. Seluruh tubuh Juni sudah dipenuhi dengan darah. Tangan, rambut, muka, dan kaki Juni dibaluti warna merah.

Ketika si lelaki sudah kabur, Juni duduk menggeloso, lemas dan lemah. Ia mencoba meraih tasnya, namun susah karena tangannya berlumuran darah. Pun begitu ketika akan meraih telepon selulernya. Dengan sekuat tenaga, ia meraih, dan berhasil.

Biasanya, sinyal ponsel di daerah itu selalu jelek, namun saat itu, mungkin dengan izin Allah, tidak ada gangguan. Juni langsung mencoba menghubungi kawannya yang terdekat.  Tapi tidak bisa karena tangannya penuh darah.

Juni diam. Ia tidak bisa melihat. Dan sejenak, samar-samar dan jauh, Juni terbayang, siapa yang akan menemukannya di situ? Sepuluh menit berlalu, dan pikiran Juni juga tidak bisa mengenyahkan bayangan jika lelaki jahat itu datang kembali.

Juni berusaha bangkit. Ia berusaha mencari jilbabnya. Alhamdulillah, ia menemukannya. Namun ia tidak berhasil menemukan jaketnya. Dalam kondisi antara sadar dan tidak, yang ada dalam pikiran Juni adalah, ia akan segera keluar dari hutan, dan mungkin bertemu dengan orang banyak, sehingga ia harus mengenakan penutup auratnya.

Keluar dari hutan, Juni terus berjalan, namun hanya beberapa langkah, tenaganya habis. Ia terduduk.

Ketika itu, lewatlah seorang anak laki-laki tanggung. Tentu anak laki-laki itu kaget. Namun Juni berusaha meminta tolong untuk menelepon orang-orang penting lewat ponsel milik Juni.

Beberapa saat kemudian, berdatangan orang-orang. RT setempat berusaha mengamankan motor Juni dan ia dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Polisi Batam sampai sekarang tengah mengusut pelaku. Keluarga Juni berharap pihak kepolisian segera mengusut tuntas kasus ini agar tidak memakan korban lainnya.

Kamis (2/1/2014), Juni sudah bisa pulang ke rumah. Sekitar satu pekan ia dirawat di rumah sakit.

Mari kita doakan kesembuhan untuk Juni
Untuk para muslimah, lebih berhati-hati ya berkendaraan di malam hari

Best Regards
Iswandi Banna

Twitter iswbanna

Selasa, 31 Desember 2013

Selamat Jalan Kang Aden edCoustic

Dunia nasyid nusantara berduka, semalam (30 Desember) kita harus merelakan seorang musisi religi Kang Deden edCoustic menuju keharibaanNya. Di usia 34 tahun, kang Aden (panggilan akrab) menorehkan duka mendalam bagi penggiat nasyid Indonesia.

Kita mengenal kang Aden melalui karya-karyanya yang bersemayam dalam tiap lirik menggugah jiwa. Dengan nama edCoustic, bersama rekan tercinta kang Eggie, beliau menyuarakan pesan dakwah khas anak muda. Maka, pantas jika album perdana bertitelkan 'Masa Muda' mendapat tempat khusus bagi penggemar nasyid di tahun 2004.

Sebut saja nasyid: Cinta berkawan, Pertengkaran Kecil, Masa Muda, Nantikanku di Batas Waktu, begitu melekat di kalangan nasyid. Saya pribadi, begitu berkesan dengan satu lagu 'Find The Way' yang dibawakan kang Aden ala Josh Groban. Edcoustic pun menghadirkan satu nasyid perjuangan berjudul Pemuda Palestina.

Seiring kematangan bernasyid duo edcoustic,  mereka merilis album kedua 'Sepotong Episode' di tahun 2008. Singel perdana 'Muhasabah Cinta' mendadak booming seantero nusantara. Subhanalloh! Persembahan lagu-lagu inspiratif bertebaran di album kedua ini, seperti 'Aku Ingin MencintaiMu, 'Sendiri Menyepi' dan 'Sebiru Hari Ini.'

Di blantika musik  Indonesia,  karya kang Aden juga mendapat tempat.  Terbukti lagu 'Ketika Cinta Bertasbih' digarap kang Aden bersama Melly Goeslow untuk soundtrack film laris KCB. Termasuk lagu 'Muhasabah Cinta' yang dibawakan oleh Trio Fatima (Nia Paramitha,  Puput Melati,  Pipiek Uje).

Di penghujung tahun 2013 ini,  Alloh lebih sayang dengan lelaki soleh bernama lengkap Deden Supriadi. Di usia muda, kang Aden telah meninggalkan fananya kehidupan dunia.  Seorang vokalis hebat,  penulis lagu inspiratif,  penggiat musik-musik positif di negeri ini. Dikabarkan dari teman nasyid Indonesia,  beliau sakit gangguan pencernaan akut.  Kondisi Kang Aden Alhamdulillah sempat membaik di awal Desember ini, bahkan sempat konser di Medan pekan lalu.


Mari kita persembahkan doa terbaik,  semoga almarhum diampuni dosa-dosanya,  diterima semua amal kebaikan, dan mendapat tempat terbaik di sisiNya. Aamiin.

Best Regards
Iswandi Banna
Twitter iswbanna

Selasa, 29 Oktober 2013

Doa tuk Kesembuhan Satu Maestro Nasyid Indonesia

Kata-kata cinta terucap indah
Mengalun berzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku


Terngiang penggalan lagu nasyid (baca: mupos > music positif) karya kang Deden edCoustic, satu maestro nasyid yang berkiprah sejak tahun 2004. Lirik tersebut cocok  menggambarkan ujian yang sedang melanda vokalis sekaligus penulis lagu berbakat ini. 

Saat ini rekan dan sahabat blantika nasyid nusantara serempak memberikan support dan doa terbaik untuk kesembuhan kang Deden.

Seperti yang disampaikan kang Teddy, salah satu rekan terdekat, Kang Deden sedang dirawat di Rumah Sakit Advent Bandung sejak beberapa hari lalu. Beliau belum bisa makan, dikarenakan selalu mual. Ketika diasup makanan, beliau muntah dan muntah lagi hingga berakibat malnutrisi (kurang gizi).

Salam dan doa terhatur untuk kesembuhan kang Deden ya. Semoga lekas pulih dan diberikan kekuatan oleh Yang Maha Menyembuhkan.

Best Regards
Iswandi Banna
Twitter iswbanna

Berikut video musik paling fenomenal karya edCoustic









Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host