Jumat, 08 Oktober 2010

Etika Rendah Oknum Wartawan

Wawancara FIKTIF di Jawa Pos?

30 Sep 2010 18:53
LEDIA HANIFAH AMALIAH
Wartawan yang Salah, Kok Saya yang Repot

Ledia Hanifah Amaliah (JPI/Nofellisa)

Senayan - Bagaimana bila tiba-tiba nama dan pernyatan muncul di media massa, tapi tidak
pernah diwawancarai oleh wartawan media bersangkutan? Tentu, bingung dan jengkel. Itu juga yang dirasakan anggota Komisi IX dari F-PKS Ledia Hanifa Amaliah.

Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba rekan satu partainya dari Jawa Timur memprotes komentarnya di versi online harian besar di Jawa Timur. "Katanya komentar saya dimuat di Jawa Pos
Online," kata Ledia kepada jurnalparlemen.com.

Ledia tersentak. Bagaimana mungkin komentarnya muncul di Jawa Pos Online, tapi dirinya tidak pernah diwawancarai? Setelah dicari-cari, anggota DPR berjilbab panjang itu menemukan berita yang dimaksud, dengan judul 'DPR Tuntut Fasilitas Medis Setara Menteri'. Berita yang dimuat di jejaring Jawa Pos News Network (JPNN) secara gamblang memuat namanya.

Dalam berita itu disebutkan, DPR menuntut pemerintah memberikan pelayanan kesehatan setara dengan menteri dan pejabat tertentu. Dimuat di dalamnya, Ledia Hanifa seolah menjelaskan, kel as VVIP yang diterima DPR tidak sama dengan VVIP yang diterima menteri dan pejabat tertentu. Padahal, menurut berita itu, kerja DPR lebih berat.

Diceritakanlah, perbedaan itu tampak pada pelayanan general check up dan pelayanan kesehatan di luar negeri. "Pelayanan luar negeri yang diberikan untuk DPR hanya terbatas di Malaysia dan Singapura saja. Sementara untuk menteri dan pejabat lainnya bisa bebas kemana saja," terangnya. DPR juga disebutkan menuntut PT Askes memberikan vitamin kepada seluruh anggota DPR. Dalam versi cetaknya, berita tersebut dimuat di Jawa Pos, 30 September 2010, halaman 15.

Mengetahui hal itu, Ledia Hanifa 'asli' langsung membuat catatan khusus di akun
Facebook miliknya. Dia meminta rekan-rekannya yang terkoneksi di situs jejaringnya untuk tidak terkecoh. "1. Saya tidak pernah diwawancarai si wartawan ini, 2. Saya tidak pernah memberi pernyataan sebagaimana tertulis di atas," tulis Ledia yang saat RDP tersebut mengaku absen
karena izin sakit.

Lucunya, jelas Ledia, berita dengan substansi sama juga termuat di harian Rakyat Merdeka, tapi dengan
narasumber berbeda. Ledia menyadari, wartawan adalah manusia biasa, yang bisa salah. "Tapi kalau salahnya sampai kayak begini, menulis berita dengan yakinnya sambil mencantumkan nama jelas dan jabatan seseorang yang ternyata salah sama sekali, tentu kebangetan juga ya," tulisnya.

Ledia menyadari berita salah itu juga akan disalin pula pada beberapa media online yang satu grup dengan Jawa Pos.
Dan tentunya termuat  juga oleh beberapa situs dan blog yang memang berisi kumpulan berita. "Bisa dibayangkan dong efek bola saljunya.
Pembaca bisa tersesatkan dengan berita itu dan bahkan berkomentar negatif untuk sesuatu yang kemudian ternyata salah. Nah lho, repot k an," tulisnya.

Kepada jurnalparlemen.com, Ledia mengaku sudah melayangkan protes pada media bersangkutan dan
berharap semoga cepat mendapatkan respons. Ledia bahkan sudah menelepon sang wartawan yang malah menawarinya wawancara ulang untuk dimuat pada keesokan harinya. "Lho, yang saya inginkan itu diralat, bukan diwawancarai ulang. Wartawan yang melakukan kesalahan, kok saya yang repot," ujarnya.
 
komentar rekan Setia Lesmana:
Miris rasanya menyimak kelakuan sekelompok oknum wartawan yang makin jauh dari etika. Bukan hanya sekedar memelintir pernyataan seseorang bahkan lebih jauh dengan wawancara Fiktif.  Kasihan orang yang menjadi obyek fitnah dengan menempatkannya sebagai narasumber padahal tdk pernah diwawancarai.
Dua Pekan lalu, rekan saya juga mengeluh hal yang mirip. Dia muncul sebagai narasumber di berbagai media dan mayoritas dari group Jawa Pos. Hasil analisanya: ada sekelompok oknum wartawan yang dijadikan alat oleh pengusaha yang juga politisi yang kalah tender pembangunan gedung baru se buah Departemen.
Sangat disayangkan jika pimpinan media yang bersangkutan tidak melakukan tindakan apapun terhadap oknum wartawannya yang telah melakukan pelanggaran sedemikian berat.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host