Jumat, 12 November 2010

Khutbah Idul Adha 1431 H/ 2010- Qurban dan Hikmah di Balik Bencana

Memetik Pelajaran Berharga dari ‘Idul Qurban dan Hikmah di Balik Bencana
Al-Ustadz Setiawan Budi Utomo


الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita bisa hadir pada pagi ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha. Kehadiran kita pagi ini bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai lima juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang memenuhi panggilan haji di Tanah Suci. Semua ini karena nikmat terbesar yang diberikan Allah swt kepada kita, yakni nikmat iman dan Islam.
Shalawat dan salah semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikuti setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Allah Ar-Rahman Ar-Rahim yang kita sebut berulang-ulang asma-Nya dalam setiap gerak saat ini sedang menguji bangsa ini khususnya dengan berbagai bencana letusan gunung merapi, tsunami dan rentetan gempa serta petaka yang melanda negeri ini.

Melihat bencana alam maupun peristiwa apapun di dunia ini, sebagai umat beriman kita harus merenungkannya dengan kacamata iman dan kasih saying Tuhan yang tiada terbatas itu. Sebab semua peristiwa yang terjadi di alam semesta ini atas kehendak Allah yang tidak lepas dari sifat mulia kasih sayang-Nya. Allah Swt berfirman yang artinya:
”Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS al-Hadid [57]: 22).
 
Demikian juga terenggutnya ratusan ribu jiwa dalam bencana tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari takdir-Nya, dimana tak seorang pun anak manusia yang bisa menunda atau memajukan usia manusia meskipun hanya sesaat saja (QS Yunus: 49). Allah Swt juga menegaskan, apabila ajal itu telah datang, kematian pun datang menjemputnya, meskipun manusia bersembunyi di dalam benteng yang kokoh dan berlapis-lapis. Firman Allah Swt: ”Di mana saja kamu berdoa, kematian akan mendapati kamu, kendatipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS al-Nisa’: 78).
 
Dengan meyakini, bahwa segala musibah yang menimpa manusia berasal dari Allah, maka sikap positif akan muncul apa yang disebut nabi Saw sebagai sifat khair. Sebab, Allah Swt Dzat Yang Maha Adil itu tak mendzalimi hamba-Nya. Allah Swt Yang Maha Benar tidak akan salah dalam menetapkan qadha-Nya. Jika keyakinan itu tertanam kuat di dalam jiwa dan bersemayam kokoh di dalam dada, maka setiap bencana akan dipandang sebagai karunia; setiap ujian akan ditatap sebagai anugerah, dan setiap peristiwa akan menjadi pelajaran yang berharga. Sikap seperti itulah yang menuntun pelakunya menjadi orang-orang yang sabar dan ridha atas semua qadha yang menimpanya.  Sikap demikian, tidak membebaskan manusia dari keputusasaan dan kegetiran hidup, namun justru menjadikan pelakunya mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt dan memperoleh pahala besar dari-Nya. Allah SWT berfirman:
 
Sesungguhnya Kami akan menimpakan cobaan atas kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang jika ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn." (QS al-Baqarah [2]: 155-156).
 
Karena itu, pada kesempatan ini kami mengingatkan kepada mereka yang tertimpa musibah agar menerima musibah tersebut dengan penuh kesabaran. Bersabarlah terhadap qadha-Nya, niscaya Allah Swt akan mengangkat derajat kalian menjadi hamba-hamba yang dimuliakan di sisi-Nya. Kemudian, sisingkan baju dan gunakanlah segala daya yang masih tersisa untuk menghadapi problem yang masih terus berdatangan. 
 
Bagi yang tidak tertimpa musibah, mereka wajib meringankan beban penderitaan saudaranya yang terimpa musibah. Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan Ibn Umar:
 
Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain, ia tidak akan menzaliminya dan tidak akan membiarkannya binasa. Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesusahan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya pada Hari Kiamat” (HR Muttafaq ‘alaih).
 
Abu Hurairah juga telah meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw: ”Setiap anggota badan manusia wajib atasnya sedekah. Setiap hari—apabila terbit matahari—engkau mendamaikan antara dua orang (yang berselisih), itu adalah sedekah. Menolong orang berkenaan dengan tunggangannya (kendaraannya)—engkau mengangkatnya atau mengangkat barang-barangnya ke atas tunggangannya—itu adalah sedekah. Kata-kata yang baik itu adalah sedekah. Setiap langkah yang diayunkan untuk shalat adalah sedekah. Menyingkirkan sesuatu rintangan dari jalan adalah juga sedekah” (HR al-Bukhari dan Muslim).
 
Maka, sudah selayaknya kaum Muslim berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan bantuan kepada para korban bencana. Bukan hanya makanan, pakaian layak pakai, atau kesehatan, namun juga pemulihan jiwa bagi saudara-saudara kita yang terguncang serta memberikan proteksi terhadap akidah dan keimanan mereka dari rongrongan kaum Kufar yang hendak merenggut akidah mereka. Bukan hanya sekarang, namun sampai kondisinya benar-benar pulih. Pendek kata, pengakuan bahwa mereka adalah saudara kita, harus benar-benar kita buktikan secara bentuk riil, dengan membantu meringankan beban penderitaan mereka. Inilah makna solidaritas yang harus kita tunjukkan, sebagai wujud pengorbanan (tadhhiyyah) kita di hari yang mulia ini. 
 
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Diberkati Allah.

Jadi korelasi dan relevansi kuat dapat kita hayati antara momentum haji ‘Idul Qurban atau ‘Idul Adha dengan berbagai persitiwa bencana di negeri ini dalah pelajaran tentang Keimanan, Ikhlas, Tawakkal Dan Ukhuwwah

Hari ini kita kenang kembali manusia agung yang diutus oleh Allah swt untuk menjadi Nabi dan Rasul, yakni Nabi Ibrahim as beserta keluarganya; Ismail as dan Siti Hajar. Keagungan pribadinya membuat kita bahkan Nabi Muhammad saw harus mampu mengambil pelajaran dan keteladanan darinya, Allah swt berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِى اِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS Al Mumtahanah [60]:4).

Dalam kehidupan Nabi Ibrahim as, Nabi Muhammad saw dan para Nabi lainnya, kit dapat meneladani keempat pelajaran tersebut sekian banyak hal yang harus kita contoh. Komitmen keimanan yang begitu kuat kepada Allah swt yang kemudian melahirkan ketaatan terbuktikan ketika Nabi Ibrahim as diperintah Allah swt untuk menempatkan isterinya Siti Hajar dan anaknya Ismail ke Bakkah (Makkah), meskipun sangat berat harus berpisah dan menempatkannya di daerah yang belum ada kehidupan, tapi Nabi Ibrahim melaksanakannya. Begitu pula dengan perintah menyembelih Ismail yang lebih berat lagi, tapi itupun dilaksanakannya karena komitmen imannya yang begitu kuat kepada Allah swt dengan penuh tawakkal kepada-Nya dan tulus ikhlas.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah swt.

Oleh karena itu, dalam situasi dan kondisi sesulit apapun, hal itu tidak boleh membuat kita menjadikannya sebagai alasan untuk menghalalkan segala cara, menyalahkan takdir dan berprasangka buruk  kepada Allah, sedangkan bagi yang mengalami kesenangan hidup, keselamatan dan kesuksesan tidak akan sampai lupa diri, susah dihadapi dengan kesabaran dan senang dijalani dengan rasa syukur kepada Allah swt, inilah yang membuat seorang mukmin menjadi pribadi yang mengagumkan, Rasulullah saw bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ اِنَّ اَمْرَهُ كُلَّهُ لَخَيْرٌ وَلَيْسَ ذَالِكَ ِلأَحَدٍ اِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ ِانْ اَصَبَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَاِنْ اَصَبَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya baik baginya dan tidak ada yang demikian itu bagi seseorang selain bagi seorang mukmin. Kalau ia memperoleh kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya. Kalau ia tertimpa kesusahan, ia sabar dan itu baik baginya (HR. Ahmad dan Muslim).

Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Pelajaran
tentang persaudaran dan solidaritas (ukhuwwah) serta peduli lingkungan, begitu kuat dipesankan oleh syariat Qurban. Dalam syariat penyembelihan Qurban sebagaimana dalam syariat islam yang lain selalu mengaitkan antara kesalihan spiritual vertical dengan kesalehan material horizontal. Untuk mencapai kesempurnaan dan keterkabulan suatu ibadah dipersyaratakan untuk memberikan pengaruh kepada perilaku dan perlakuan yang baik kepada lingkungan dan sekitarnya, baik itu shalat, puasa, zakat maupun haji. Qurban dipersyaratkan hewan ternak berkaki empat baik itu sapi, domba, kambing, maupun unta harus sehat dan tidak cacat. Hal itu karena Nabi mengajarkan bahwa Daging Qurban itu sebagian besar untuk dibagikan kepada lingkungan yang erutama paling membutuhkan, sebagian untuk disimpan sebagai jaga-jaga atau diolah untuk kemanfaatan yang lebih luas, dan sebagian dikonsumsi oleh keluarga pekurban untuk turut serta merayakan hari Qurban.

Dengan momentum saat ini sebagai komitmen ukhuwwah, mengingat banyak saudara-saudara kita yang terkena becana sebagai ujian dari Allah untuk menaikkan derajat di sisi-Nya, atau untuk menghapuskan dosa dan kesalahan umat manusia atau sebagai teguran dari-Nya agar kita lebih mendekatkan diri dan masyarakat kepada-Nya agar lebih arif dan bijaksana dalam kehidupan social dan bersahabat dengan lingkungan, maka sebagai bangsa dan umat yang bagaikan satu tubuh, semestinya kita sangat peduli dan saling membantu.    

Kalaupun kita tidak bisa membagikan harta kekayaan dan mensyukuri kedudukan atau kenikmatan apapun untuk kemaslahatan umat dan lingkungan, paling tidak buatlah orang-orang dan lingkungan merasa nyaman, damai dan diberkahi  dengan kehadiran diri kita. Sabda Nabi  (Khoirunnaas anfa'uhum linnaas) ”Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya” (HR.Bukhari). Atau paling tidak mengajak kepada kabjikan dan kebaikan.
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرِ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِفَاعِلِهِ.                                             
Barangsiapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Tirmudzi).

Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Akhirnya, marilah kita tutup khutbah ibadah shalat Ied kita pada hari ini dengan berdo’a:
اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ
Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

Demikian khutbah kami, semoga diberkati..
Wabillahit Taufiq wal Hidayah
Wassalamu’alaiakum Wr.Wb.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host