Kamis, 11 November 2010

Menghindari Syubhat

"Sesungguhnya yang halal sudah jelas dan yang haram sudah jelas, diantara keduanya ada perkara syubhat yang tidak diketahui manusia. Barangsiapa berhati-hati dengan yang syubhat, ia telah memelihara agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjatuh pada syubhat, maka ia telah terjerumus pafa yang haran." (HR Muslim)

Hadits itu diucapkan Nabi Muhammad sekitar 14 abad silam, sebagai peringatan bagi umatnya untuk berhati-hati dalam masalah halal dan haram, serta sesuatu yang tidak jelas (abu-abu) antara halal dan haram. Baik terkait dengan rizki yang didapat, makanan yang dikonsumsi, pakaian yang dikenakan, nafkah kepada keluarga, maupun hal lain yang terkait dengan hidup kesehariannya.

Semuanya hendaklah berasal dari yang halal, baik halal secara hukum maupun halal secara materi. Allah memerintahkan manusia untuk selektif dalam mengonsumsi segala hal yang menjadi kebutuhan hidupnya. (QS. Albaqarah :168)

Karena itu berimlplikasi sangat signifikan pada kehidupan seseorang, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia berdampak pada perilaku, akhlak, psikologi, emosi, kesehatan, dan bahkan keturunan.

Adapun di akhirat, ada dua kemungkinan: surga dengan segala kenikmatannya, atau neraka dengan segala siksanya. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa suatu hari pembantu Abu Bakar datang kepadanya dengan membawa makanan. Seketika Abu Bakar mengambil satu suap dan memakannya. Pembantu itu pun berkata, "Wahai Tuan, biasanya setiap kali aku datang membawa makanan, Tuan selalu bertanya dari mana asal makanan yang aku bawa. Kenapa sekarang Tuan tidak bertanya?" Abu Bakar menjawab, "Sungguh hari ini aku sangat lapar, sehingga lupa untuk menanyakan hal itu. Kalau begitu ceritakanlah, dari mana kamu mendapat makanan ini?" Pinta Abu Bakar.

Pembantu itu menjawab, "Dulu sebelum aku masuk islam, profesiku adalah sebagai dukun, suatu hari aku pernah diminta salah satu suku untuk membacakan mantra di kampung mereka. Mereka berjanji akan membalas jasaku itu. Pada hari ini, aku melewati kampung itu dan kebetulan mereka pun menyiapkan makanan untukku sebagai balasan atas jasa perdukunan yang pernah kuberikan."

Mendengar hak itu, spontan Abu Bakar memasukkan jari ke tenggorokannya agar bisa muntah. Setelah muntah, sahabat dekat Nabi itu pun berkata, "Jika untuk mengeluarkan makanan ini aku harus menebus dengan nyawa, pasti akan aku lakukan karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, "Tidak ada daging tumbuh dari makanan yang haram, melainkan neraka lebih layak untuk dirinya."


Subhanalloh, momentum beberapa tahun lalu ketika membaca tulisan ini, sehingga membuat saya tetap berpegang teguh untuk tidak menikmati sesuatu yang memang bukan hak saya. Semoga Alloh menguatkan, dan melimpahkan rizki yang halal dan thoyyib, sehingga mampu membina keluarga yang dekat dengan Alloh.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host