Minggu, 21 November 2010

Pengalaman Persalinan Pertama (P3)

Begitu Indahnya mendapatkan amanah seorang anak yang telah dinanti 9 bulan terakhir.
Sore tadi menjenguk sahabat yang istrinya baru saja melahirkan di Rumah Sakit di daerah Ciledug. Bayinya laki-laki berat 3,1 kg panjang 51cm.


Teringat 2 tahun yang lalu tepatnya di bulan Oktober, istri akhirnya masuk rumah sakit yang sama untuk melahirkan anak pertama kami. Siang itu, 30 Oktober 2008, istri merasakan ada ketuban pecah, lalu oleh keluarga di rumah dibawa ke RS tersebut. Saat itu, saya masih beraktivitas seperti biasanya di kantor. Segera setelah mendapat telepon dari orang rumah,
saya langsung menuju RS yang memang membutuhkan waktu sekitar 1 jam dari kantor.


Tiba di RS, dokter dan beberapa suster sedang memeriksa sang istri. Diputuskan untuk diperiksa, sudah pembukaan berapa.  Katanya sih sudah pembukaan dua. Satu jam kemudian, dokter memutuskan untuk di-induksi. Diberikan obat induksi melalui infus
hingga sore hari. Perut istri makin mules-mules. Hingga menjelang isya' istri merasakan seperti hendak membrojolkan  sang bayi. Kami beritahu suster,lalu mengharapkan mereka segera menangani. Suster menyatakan sudah hampir pembukaan  terakhir. Namun ada berita buruk, dokter kami tidak ada di tempat. Setelah dihubungi dia masih di daerah salemba sedang mengisi seminar. Oalah! padahal dia yang memberikan induksi tadi siang, dan memprediksi, akan brojol malam ini.


Akhirnya kami meminta suster untuk menghubungi dokter lain. Alhamdulillah terhubung dokter perempuan yang baru beberapa bulan bertugas. Saat ditelpon beliau memang tidak sedang waktu bertugas. Saat itu beliau sedang di plaza di daerah Bintaro. Syukurnya, beliau mau segera ke RS untuk membantu persalinan istri saya.


Setengah jam berikutnya, 'dokter baru' tersebut datang, lalu dengan lemah lembut membimbing istri untuk melakukan persalinan. Alhamdulillah lancar. Bayi laki-laki, berat 3 kilo pas, panjang 50 cm. 


Seminggu kemudian, saya menulis pengalaman buruk dengan dokter kandungan yang pertama di surat pembaca di harian Republika. Dimuat juga, dengan mengganti
nama dokter yang saya komplain dengan inisial. Kronologis saya tuliskan, dan complain serta masukan yang seharusnya dilakukan oleh Dokter tersebut.


Seharusnya dokter pertama tadi memberitahukan pihak manajemen RS bahwa dia tidak bisa menangani pasien XXX, dan mencarikan dokter pengganti. Kenyataaannya TIDAK. Itu yang membuat kami kecewa.


Semoga Anda tidak mengalami hal ini...

----> Terbukti, mencari Rupiah Halal disini, sederhana dan logis


petunjuknya klik PANDUAN MENDAFTAR IDR-CLICKIT

2 komentar:

alamendah mengatakan...

(Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
Masa-masa persalinan, apalagi untuk yang pertama kali, menjadi masa-masa yang paling mendebarkan.

isw_banna mengatakan...

@alamandeh: thanks for coming, betul2 mendebarkan he2

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host