Selasa, 16 November 2010

Relawan dituntut Akrab, Sigap, Ikhlas, dan Sabar

“Dialah (Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapa yang terbaik perbuatannya”, QS:Al Muluk:2.
Dunia ini adalah tempat untuk bekerja dan berbuat apa saja yang disanggupi manusia.Semua perbuatan manusia dilihat dan diketahui oleh Allah Azza wa Jalla.Dan semua perbuatan itu dinilai olehNya baik buruk serta tinggi rendah kualitasnya.
Prioritas amal
Masing-masing waktu, ruang, dan momentum memiliki prioritas perbuatan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang perbuatan yang terbaik lantas beliau menjawab: jihad di jalan Allah, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, kemudian shalat tepat waktu, dan di riwayat lain di awal waktunya.Tapi beliau juga pernah menjawab pertanyaan yang sama di lain kesempatan dengan; memberi makan. Ini erat hubungannya dengan waktu, ruang, dan momentum.
Seyogyanya kita jadikan bencana sebagai pintu rahmat dengan melakukan kebajikan, mengekspresikan kesalehan individu juga sosial.
Menangani bencana, bagi relawan kader dakwah sangatlah mulia sebab penanganan ini berporos pada maslahat. Pertama: maslahat bagi korban dengan bantuan-bantuan yang diberikan. Kedua: maslahat bagi relawan –kader dakwah- yaitu balasan dari Allah.Ketiga: maslahat bagi dakwah yaitu dengan bertambahnya penerima dan pendukung dakwah. Inilah manfa’at yang jauh lebih baik dari manfa’at yang diungkapkan pepatah Arab yang mengatakan, ”Mushibatu qaumin ‘inda qaumin manfa’ah (musibah yang menimpa satu kaum mendatangkan manfa’at bagi satu kaum yang lain)”. Seperti para penjual keperluan para korban maupun relawan yang terkadang menaikkan harga barang agar memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Saat bencana datang adalah saatnya para relawan kader dakwah melakukan aksi tanggap peduli. Aksi berarti bekerja, proaktif, dan dinamis. Tanggap artinya antisipatif, inisiatif, dan responsif. Peduli artinya menolong, mendampingi, dan membangun baik fisik ataupun kesadaran, mental serta ruhiyah. Inilah saat setiap kader dakwah memberikan kontribusi maliyah, tenaga, ataupun pemikirannya; di samping do’a yang sungguh-sungguh agar Allah meringankan dampak bencana yang menimpa, menghindarkan ummat dari adzab, dan menjadikan bencana yang sedang dan yang telah terjadi sebagai pintu rahmat dariNya. Minimal agar orang-orang yang berbuat dosa bertaubat kepada Allah, dan agar para pemimpin lebih bertaqwa kepada Allah dalam menjalankan kewajibannya terhadap rakyat.
Saat bencana terjadi itulah saat mentarbiyah diri dan orang lain agar lebih dekat kepada Allah Yang Maha Perkasa dan tiada tempat berlindung dari murka dan adzabNya kecuali kepadaNya. Dan itulah saat semua kader dakwah mensinergikan seluruh potensinya bersama struktur dakwah ataupun lembaga-lembaga kerja lainnya untuk memberi manfaat yang sebaik-baiknya seperti kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Khairunnaas anfa’uhum linnaas (sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia)”.
Akrab Membangun Relasi
Satu hal yang tak boleh dilewatkan oleh para relawan kader dakwah saat terjun di medan bencana ialah kesempatan berinteraksi dan akrab dengan sesama relawan dari berbagai lembaga. Hal ini menjadi penting oleh karena dakwah dan kerjasama dimulai dengan terbangunnya relasi positif dengan orang-orang disekitar.
Ta’aruf (perkenalan) mengawali rasa percaya antara satu sama lain. Dan ini adalah awal korelasi dalam berbagai kebaikan atau alkhair, dan bisa berlanjut kepada amar ma’ruf nahi munkar, sedangkan muaranya adalah alfalah (keberuntungan). Relasi yang telah terbina tidak hanya berguna di saat terjadi bencana, tetapi juga sesudahnya harus lebih akrab lagi dan terjalin kerjasama dalam hal-hal yang bersifat teknis maupun strategis.
“Dan hendaklah ada diantara kalian sekolompok orang yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.Dan mereka itulah orang yang beruntung”, QS:Ali Imran:104.
Sigap dalam bertindak
Di suatu malam terdengar teriakan minta tolong di kota Madinah. Maka segera orang-orang bergegas menuju sumber suara. Namun di tengah jalan mereka bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah kembali dari sumber suara dan menyuruh orang-orang kembali ketempatnya masing-masing karena beliau sudah membereskan masalahnya.
Betapa penting ketauladanan yang ditunjukkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya untuk diterapkan para kader dakwah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya ketika terjadi musibah.
Para relawan kader dakwah seharusnya selalu terdepan dalam bertindak dibanding orang lain. Sigap hendaknya menjadi ciri melakukan aksi tanggap peduli.
Ikhlas dan sabar
Melayani dan membantu sesama manusia adalah ibadah maka semestinya para relawan melandasi kerjanya dengan ikhlas untuk meraih ridlo Allah. Ikhlas melahirkan semangat, kesungguhan, dan kualitas kerja. Itulah sebabnya mengapa pekerja sosial seperti ini disebut relawan. Rela sebagai kata dasar relawan berasal dari kata ridlo.
Selain itu setiap relawan juga dituntut memiliki kesabaran yang tinggi sebab sudah pasti berhadapan dengan berbagai rintangan dan kesulitan, termasuk menghadapi banyak orang dengan berbagai macam karakter.Balasan sebuah amal kebaikan berbanding lurus dengan tingkat kesulitan yang menyertainya (al ajru ‘alaa qodril masyaqqoh). Menangani bencana memerlukan daya tahan yang tinggi.Hanya orang-orang yang memiliki kesabaran tinggi yang dapat melakukannya dengan baik.
Beribadah (bekerja) di medan bencana jauh lebih baik dibanding berta’abbud (melakukan ibadah-ibadah mahdlah) dengan khusyuk di tempat lain tanpa rintangan dan gangguan. Satu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalan sariyah bersama para sahabatnya radliyallahu ‘anhum beristirahat disebuah oase kecil tak berpenduduk. Terbetiklah di benak seorang sahabat tentang nikmatnya berta’abbud kepada Allah di tempat itu.Ia lalu berkonsultasi dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Namun beliau melarang dan menyampaikan bahwa berada sehari di tengah orang banyak dan bersabar dengan segala konsekwensi yang timbul lebih baik daripada berta’abbud di tempat seperti itu selama tujuh puluh tahun lamanya.
Selamat bekerja karena Allah, bersama Allah, dan Allah pasti memberkati.
(penulis: 
Daeng Mannuntungi, relawan) from p2bsleman

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host