Minggu, 14 November 2010

Serakahkah Anda?

Serakah adalah satu sifat buruk yang tak layak dimiliki oleh orang-orang beriman. Dengannya, seseorang akan berperilaku bengis, dzolim terhadap orang lain, lagi lebih mementingkan kepuasan diri sendiri, keluarga, ataupun para sekutu-sekutunya, ketimbang mempedulikan kemaslahatan umum.

Untuk memenuhi keserakahan mereka, tidak sedikit orang harus menempuh jalur ‘kiri’, dalam arti, yang penting tujuan tercapai, tak peduli dengan cara apapun jua, haram-halal dilabrak. Tidak bisa dengan cara damai, jalur paksa pun ditempuh. Buntu dengan negosiasi, cara tak manusiawi, pun terkadang dilakukan.

Ketika fenomena ini menjalar di tengah-tengah masyarakat, dan menjadi budaya praktek kehidupan mereka, maka bisa dipastikan tatanan hidup sosial tidak akan pernah berjalan harmonis. Yang kaya memeras yang miskin, yang kuat menindas yang lemah, yang pintar mengibuli yang bodoh, begitu seterusnya, dan begitu seterusnya.

Tidak hanya itu saja efek negatif yang bisa ditimbulkan oleh orang yang memiliki sifat serakah. Yang paling berbahaya, dia pun akan menantang/durhaka terhadap Allah SWT. Sebagai ‘cermin’, kita bisa beraca pada keserakahan yang dimiliki Fir’aun terhadap kekuasaan, kedudukan, dan kemegahan, yang telah menyebabkannya buta hati, sehingga tega mengdzolimi masyarakat jelata. Dan yang paling fenomenal, dia menetapkan satu keputusan yang sangat sepihak demi mempertahankan kedudukannya yang nyaman, yaitu; dengan membunuh setiap anak-anak laki-laki dari Bani Isroil, karena khawatir kalau di kemudian hari, mereka akan merebut kekuasaan yang berada di kendalinya.

Allah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika kami menyelamatkan kamu dari Fir’aun dan pengikut-pengikutnya. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu.  Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan besar dari Tuhanmu”. (Q:S. 2:49). 

Yang lebih celaka, raja yang konon memiliki nama asli Menephthan anak Ramses ini, pun berujar: “Aku lah Tuhanmu yang Maha Tinggi”, (Q:S.79:24), ketika dia diingatkan oleh Nabi Musa untuk kembali ke jalan yang benar, menyembah Allah semata.

Jejak buruk yang ditinggalkan Fir’aun tersebut, termaktub dalam beberapa surat dari al-Quran, yang tidak lain tujuannya, agar kita (khususnya kaum muslimin) mampu mengambil ‘mutiara’ yang tersirat dari bencana yang menimpa Fir’aun. Sayangnya, dalam praktek lapangan, tidak sedikit orang justru mengikuti gaya hidup raja bengis tersebut.

Sejalan demikian, Allah pun menegur manusia melalui firman-Nya: “Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (pada Allah).” (An-Naziat: 26)

Penghubung Kehancuran

Sejatinya, tidak ada kebahagian yang dimiliki oleh orang serakah. Mereka terus diliputi oleh kekurangan, serta senantiasa dihantui ketakutan atau kekhawatiran akan pudarnya kekuasaan. Boleh jadi, dari segi fisik (materi) yang nampak, mereka sepertinya diliputi kesenangan, dikelilingi kemewahan, dan disertai kedamaian, namun, bila ditilik lebih jauh lagi, sesungguhnya mereka senantiasa diliputi oleh kegalauan batin, dan kekeringan jiwa. Pertanyaannya, adakah kebahagiaan bagi orang yang hatinya setiap saat diliputi kecemasan? Bukankah kebahagiaan itu sendiri bermuara dari ketenangan hati? Bila hati tenang, nyaman, bukankah seluruh permasalahan akan terasa ringan? Adakah kebahagiaan lebih besar dari ketenangan jiwa (hati)?

“Sungguh beruntung orang yang telah mensucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang telah mengotorinya.” (Q:S.91: 9-10)

Dan untuk mereka yang jiwanya telah terjangkit keserakahan, maka tunggulah kehancuran. Karena, sejatinya atas perbuatannya tersebut, dia tengah mengaktifkan bom waktu, yang tiap saat  bisa saja meledak dan membinasakannya. Bagaimana tidak, orang yang serakah acap kali menimbulkan kedzoliman bagi orang lain. Dengan demikian, orang yang tersakiti tersebut, lambat laun menanti kesempatan untuk membalas dendam. Ketika waktu itu tiba, maka akan ditumpahkannyalah siksa batin yang selama ini dipendam.

Di lain pihak, Allah pun telah menjanjikan kehancuran hidup di dunia dan di akhirat bagi mereka yang berbuat serakah, dan semena-mena, semisal Fir’aun dan sejenisnya. Firman-Nya (lanjutan ayat di atas) “Maka Allah menghukumnya dengan adzab di akhirat dan siksaan di dunia.” (Q:S.79:25).

Singkatnya, orang yang serakah, cepat atau lambat, pasti akan musnah, dan siksa api neraka telah menanti kedatangannya. Na’udzubullah tsumma na’udzubillah min dzalik.      


(hidayatullah)

1 komentar:

4reep mengatakan...

Jujur terkadang ane serakah gan...
walau kadang bisa di handle seringan sih kaga

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host