Kamis, 09 Desember 2010

Muharram dan Puasa Asyura


Kedudukan Bulan Muharram

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam
ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat
bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu
menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…” (QS. At-Taubah (9): 36)

Rasulullah j sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari shahabat
Abu Bakrah ra bersabda:

« إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ
السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ، السَّنَّةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً، مِنْهَا
أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ: ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ؛ ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُوْ
الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى
وَشَعْبَانَ » [متفق عليه]

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah
menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya
termasuk empat bulan yang dihormati: Tiga bulan berturut-turut; Dzul Qoidah,
Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang terdapat antara bulan Jumadal
Tsaniah dan Sya’ban.”[1]

Pada empat bulan ini Allah menekankan agar kita kaum muslimin jangan
melakukan perbuatan aniaya (az-zulm), sebagaimana firman-Nya:

﴿ Ÿxsù (#qßJÎ=ôàs? £`ÍkŽÏù öNà6|¡àÿRr& 4 ÇÌÏÈ ﴾
“Jangan kalian aniaya diri kalian.”

Ada dua penafsiran az-zulm (الظلم) dalam ayat di atas.
Pertama, adalah berperang. Maksudnya tidak boleh berperang pada bulan-bulan
yang diharamkan. Namun ketentuan ini –sebagaimana dikuatkan oleh Al-Qurtubi
dalam tafsirnya- telah mansukh (dihapus). [2]

Kedua, Perbuatan maksiat dan dosa. [3] Namun hal ini bukan berarti bahwa
bermaksiat dibolehkan pada bulan lainnya. Karena kemaksiatan, apapun
bentuknya adalah dilarang, kapan pun dan dimana pun tanpa terkecuali. Namun
sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Jarir at-Thabari dalam tafsirnya bahwa
dikhususkannya larangan bermaksiat pada bulan-bulan ini menunjukkan
kemuliaan dan keagungan bulan ini di banding bulan-bulan lainnya, dimana
kemaksiatan di dalamnya mendapat penekanan untuk dijauhi oleh setiap muslim.
[4]

Kedudukan bulan Muharram juga dapat dilihat dari nama bulan itu sendiri dan
julukan yang diberikan kepadanya.

Nama Muharram merupakan sighat maf’ul dari kata Harrama-Yuharrimu, yang
artinya diharamkan. Maka kembali kepada permasalah yang telah dibahas
sebelumnya, hal tersebut bermakna bahwa pengharaman perbuatan-perbuatan yang
dilarang Allah Ta’ala memiliki tekanan khusus yang sangat kuat pada bulan
ini.

Kemudian dari sisi istilah, bulan ini disebut sebagai “Bulan Allah”
(Syahrullah), sebagaimana terdapat riwayat yang akan disebutkan dalam
pembahasan berikut. Berarti bulan ini disandingkan kepada Lafzul Jalalah
(Lafaz Allah). Para ulama menyatakan bahwa penyandingan makhluk kepada
Lafzul Jalalah, memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaiman istilah
Baitullah, Rasulullah, Abdullah, dsb.

Mengapa Muharram Ditetapkan Sebagai Awal Tahun Hijriah?

Banyak yang mengira bahwa penetapan bulan Muharram sebagai awal tahun
Hijriah adalah karena peristiwa Hijrah Rasulullah j ke Madinah terjadi pada
bulan itu. Perkiraan tersebut keliru, karena Rasulullah j memulai perjalanan
Hijrahnya pada akhir bulan Shafar dan tiba di Madinah pada awal bulan
Rabi’ul Awal [5]. Benar bahwa peristiwa hijrah dijadikan sebagai patokan
untuk memulai penanggalan Hijriah, dimana tahun kejadiannya dijadikan
sebagai tahun pertama dalam penanggalan hijriah. Maka kalau sekarang
dikatakan sebagai tahun 1427 H, hal itu berarti telah berlalu 1427 tahun
sejak peristiwa hijrahnya Rasulullah j ke Madinah. Namun penetapan Muharram
sebagai awal tahun Hijriah adalah karena alasan lain.
Bahkan ketika dimusyawarahkan pada zaman Umar bin Khattab tentang bulan apa
yang akan dijadikan sebagai bulan pertama dalam penanggalan Hijriah, pada
awalnya diusulkan adalah bulan Rabi’ul Awal, ada pula yang mengusulkan bulan
Ramadhan. Namun akhirnya yang disepakati adalah bulan Muharram, karena pada
bulan ini kaum muslimin telah pulang dari melaksanakan ibadah haji yang
merupakan akhir dari rukun Islam yang lima.[6] Disamping itu -terkait
dengan peristiwa hijrah- karena bulan Muharram dianggap sebagai awal dari
keinginan Hijrah, mengingat peristiwa Bai’atul Aqabah kedua [7] terjadi pada
pertengahan bulan Dzulhijjah, dan karenanya diperkirakan bahwa pada bulan
Muharram keinginan untuk melakukan hijrah sudah bulat. [8]

Puasa ‘Asyuro

Dibulan Muharram ini berdasarkan syariat Islam, terdapat sebuah hari yang
dikenal dengan istilah Yaumu ‘Asyuro, yaitu hari tanggal sepuluh bulan
Muharram. Asyuro berasal dari kata ‘asyarah’ yang artinya sepuluh.

Pada hari Asyuro inilah terdapat sebuah sunnah yang telah diajarkan
Rasulullah J kepada umatnya untuk dilaksanakan sebagai bentuk ibadah dan
ketundukan kepada Allah Ta’ala. Yaitu ibadah puasa, yang lebih dikenal
dengan istilah shaum Asyuro, atau puasa Asyuro.

1- Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: “Rasulullah j bersabda:

« أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ،
وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ، صَلاَةُ اللَّيْلِ »
[رواه مسلم وأصحاب السنن. صحيح مسلم، حديث رقم: 202-(1163)]

2- Diriwayatkan dari Aisyah ra, dia berkata: Dahulu orang-orang Quraisy pada
masa jahiliah berpuasa pada hari ‘Asyuro, maka ketika beliau (Rasulullah
saw) datang ke Madinah beliau berpuasa dan memerintahkannya, kemudian ketika
telah ditetapkan kewajiban puasa bulan Ramadhan, beliau meninggalkan
(perintah wajib) puasa ‘Asyuro, siapa yang berkehendak maka dia berpuasa,
dan siapa yang tidak maka dia (boleh) meninggalkannya. (Muttafaq alaih) [9]

2- Abu Qatadah ra meriwayatkan, Rasulullah j bersabda:

« وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ
السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ »
[رواه مسلم وغيره. صحيح مسلم ، حديث رقم: 196-(1662)]

“Dan puasa hari Asyura, aku berharap kepada Alllah menjadi penghapus dosa
selama setahun sebelumnya.” [10]

3- Ibnu Abbas ra berkata:
« مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ J يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى
غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ، يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَهَذَا الشَّهْرَ،
يَعْنِي: شَهْرَ رَمَضَانَ » [متفق عليه. صحيح البخاري، حديث رقم 2006، صحيح
مسلم، حديث رقم: 131-(1132)]

“Saya tidak pernah melihat Rasulullah j mengupayakan untuk puasa pada suatu
hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyuro, dan
bulan ini yaitu Bulan Ramadhan.” [11]

4- Ibnu Abbas ra berkata: “Ketika Rasulullah j tiba di Madinah, beliau
menyaksikan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyuro, maka dia berkata:
“(Hari) apa ini?” Mereka menjawab: “Ini adalah hari istimewa, karena pada
hari ini Allah selamatkan Bani Isra’il dari musuhnya, karena itu Nabi Musa
berpuasa pada hari ini.” Rasulullah saw bersabda:

« فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ »
“Saya lebih berhak kepada Musa dari kalian.”

Maka beliau berpuasa dan memerintahkan para shahabatnya untuk berpuasa.”
[12]

5- Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, dia berkata: “Ketika Rasulullah saw
berpuasa pada hari ‘Asyuro dan memerintahkan (kaum muslimin) untuk berpuasa,
mereka (para shahabat) berkata: ‘Ya Rasulullah! Ini adalah hari yang
diagungkan Yahudi dan Nashrani,’ maka bersabdalah Rasulullah J:

« فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلًُ - إِنْ شَاءَ اللهُ- صُمْنَا الْيَوْمَ
التَّاسِعَ »
“Jika (bertemu) tahun depan, Insya Allah, kita akan berpuasa pada hari
kesembilan (bulan Muharram).”

Namun ternyata tahun depannya Rasulullah j sudah meninggal dunia.” [13]

6- Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya juga
meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah j bersabda:

« صُوْمُوا يَوْمَ عَاشُوْراَءَ وَخَالِفُوا فِيْهِ الْيَهُوْدَ، وَصُوْمُوا
قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً »
[رواه احمد وابن خزيمة بسند ضعيف. ضعفه الألباني في ضعيف الجامع، رقم: 3506]

“Puasalah pada hari Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi pada masalah ini,
berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” [14]

Kesimpulannya adalah: Tidak ada ibadah dalam syariat terkait dengan hari
‘Asyuro, kecuali puasa yang telah diajarkan Rasulullah j.

Fase Penetapan Puasa ‘Asyuro

Dari sejumlah riwayat yang ada, dapat disimpulkan bahwa pada masa Rasulullah
j, ketetapan puasa ‘Asyuro memiliki beberapa fase penetapan, yaitu:

Pertama, Rasulullah j telah melakukan puasa ‘Asyuro sejak awal sebagaimana
orang-orang Quraisy pada masa Jahiliah melakukannya, namun beliau tidak
memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.
Kedua, Ketika beliau datang ke Madinah dan mengetahui orang-orang Yahudi
juga berpuasa pada hari ‘Asyuro, beliau berpuasa dan memerintahkan para
shahabatnya untuk berpuasa juga. Sebagian ulama berpendapat bahwa saat itu
puasa ‘Asyuro wajib hukumnya, sebagian lagi menyatakan Sunnah Mu’akkadah
(Sunnah yang sangat ditekankan).
Ketiga, Setelah diturunkan kewajiban puasa Ramadhan (tahun 2 H), maka
setelah itu beliau beliau tidak memerintahkannya lagi namun juga tidak
melarangnya dan membiarkannya sebagai perkara Sunnah. Kebanyakan para ulama
menyatakan bahwa saat itu, puasa ‘Asyuro sebagai Sunnah ghoiru mu’akkadah
(sunnah yang tidak ditekankan).
Keempat, Diakhir kehidupannya Rasulullah j bertekad untuk tidak hanya puasa
pada hari ‘Asyuro saja, tetapi juga menyertakan hari lainnya (tangal
sembilan), agar berbeda dengan ibadahnya orang Yahudi. [15]

Bagaimana Berpuasa ‘Asyuro?

Ibnu Qoyim dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad[16] –Berdasarkan riwayat-riwayat
yang ada- menjelaskan tentang urutan puasa ‘Asyuro: Yang paling sempurna
adalah puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal sepuluh dan sehari sebelum dan
sesudahnya (9, 10, dan 11), urutan yang kedua adalah puasa tanggal sembilan
dan sepuluhnya dan inilah yang banyak disebutkan dalam hadits, sedang urutan
ketiga adalah puasa tanggal sepuluhnya saja.

Terkait dengan dalil yang memerintahkan puasa sebanyak tiga hari (9,10 dan
11) para ulama mengatakan bahwa riwayat Ibnu Abbas (lihat hadits no. 6 dalam
pembahasan ini) yang sering dijadikan landasannya adalah dha’if, [17] dan
karenanya tidak dapat dijadikan dalil. Akan tetapi pengamalannya tetap
dibenarkan oleh para ulama dengan dua alasan.

Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak
tepat, maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang
mendapatkan puasa Tasu’a dan ‘Asyuro. [18]
Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul Bidh). [19]

Adapun puasa tanggal sembilan dan sepuluh, dinyatakan jelas dalam hadits
yang shahih, dimana Rasulullah j pada akhir kehidupannya sudah berencana
untuk puasa pada tanggal sembilannya. Hanya saja beliau lebih dahulu
meninggal. Beliau juga memerintahkan para shahabatnya untuk berpuasa pada
tanggal sembilannya (bersama tanggal sepuluh) agar dapat membedakan diri
dari perbuatan orang-orang Yahudi. Bahkan jika seseorang tidak sempat
berpuasa tanggal sembilannya, maka setelah tanggal sepuluh, dia disunnahkan
berpuasa pada tanggal sebelasnya untuk membedakan dirinya dari puasa orang
Yahudi.

Sedangkan puasa tanggal sepuluhnya saja, sebagian ulama menyatakannya
makruh, meskipun pendapat ini tidak dikuatkan sebagian ulama lainnya.
Secara keseluruhan dan berdasarkan keumuman hadits-hadits yang ada, puasa
‘Asyuro adalah ibadah yang sangat dianjurkan Rasulullah j.

Bid’ah Pada Hari ‘Asyuro

1- Memperingati Hari Kematian Husain ra

Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah cucu Rasulullah j dari perkawinan Ali
bin Abi Thalib ra dengan putrinya Fatimah binti Rasulullah j. Dia juga
dikenal sebagai orang yang sangat mirip fisiknya dengan Rasulullah saw.
Beliau sangat mencintainya. Hal tersebut tampak dalam beberapa ungkapan dan
sikapnya kepada Husain ra, di antaranya adalah sabda beliau j:

« حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ، أَحَبَّ اللهُ مَنْ أَحَبَّ
حُسَيْناً ، حُسَيْنٌ سِبْطٌ مِنَ اْلأَسْبَاطِ »
[رواه الترمذي وابن ماجه. صححه الألباني في صحيح الترمذي رقم 225 وصحيح ابن
ماجه، رقم 29]

“Husain adalah bagian dariku dan aku bagian dari Husain,Allah mencintai
orang yang mencintai Husain, Husain termasuk cucu keturunan(ku) .” [20]

Bersama saudaranya; Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, keduanya dinyatakan
sebagai Pemimpin Pemuda di Surga, sebagaimana sabda beliau:

« الحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ »
(رواه الترمذي وابن ماجه. صححه الألباني في صحيح الترمذي رقم: 3775 وصحيح ابن
ماجه، حديث رقم: 29)

“Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda di surga.” [21]

Peristiwa Terbunuhnya Husain

Husain ra terbunuh pada peristiwa yang sangat tragis, yaitu pada tanggal 10
bulan Muharram tahun 61 H, di sebuah tempat bernama Karbala, karenanya
kemudian lebih dikenal dengan Peristiwa Karbala.

Hal tersebut bermula ketika Khalifah Mu’awiyah bin Abu Sufyan wafat tahun
60 H, lalu digantikan oleh anaknya Yazid bin Mu’awiyah, namun Husein tidak
bersedia memberikan bai’at kepadanya karena perilakunya yang tidak baik.
Lalu orang-orang Kufah meminta Husain ra untuk meninggalkan Mekah menuju
Irak dan mereka akan membai’atnya sebagai khalifah dan berjanji akan
membelanya. Ketika itu masih terdapat fitnah di antara kaum muslimin sebagai
kelanjutan fitnah yang terjadi antara kubu Ali bin Thalib dan Mu’awiyah
radhiallahuanhum ajma’in. Penduduk Kufah waktu itu berjanji kepada Husain
untuk melindungi dan membelanya jika dia bersedia pergi ke Kufah dan menjadi
pemimpin mereka.
Sebenarnya tokoh-tokoh shahabat seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar telah
menasihatinya untuk tidak memenuhi tawaran itu karena melihat hal tersebut
tidak memiliki maslahat, namun ternyata Husain berkeras untuk pergi juga.
Maka berangkatlah beliau menuju Kufah bersama 145 orang rombongannya
ditambah kaum wanita dan anak-anaknya. Ternyata apa yang diharapkan bertolak
belakang, orang-orang yang berjanji membela dan melindunginya tidak berbuat
apa-apa ketika ditengah perjalanan di sebuah tempat bernama Karbala, Husain
ra dan rombongannya diserbu oleh 4000 tentara Ubaidillah bin Ziyad, wali
kota Bashrah dan Kufah saat itu yang masih loyal terhadap Khalifah Yazid bin
Mu’awiyah. Ditempat itulah Husain ra dan rombongannya dibunuh dengan cara
yang sangat mengenaskan setelah beliau memberikan perlawanan sekuat tenaga,
sedangkan para wanita dan anak-anak ditawan. Namun yang perlu diketahui
adalah bahwa pembunuhan tersebut tidak diingini Yazid bin Mu’awiyah,
walaupun dia sedang bertikai dengan Husein ra. Karena itu dia murka besar
terhadap apa yang dilakukan oleh Ubaidillah bin Ziyad.
Yazid berkata:

« رَحِمَ اللهُ حُسَيْناً لَوَدِدْتُ أَنْ أُتِيْتُ بِهِ سِلمًا »

“Semoga Allah merahmati Husein, aku sungguh berharap dia dibawa ke hadapanku
secara damai.”

Kemudian kaum wanita dan anak-anak dari keluarga Husein, dipulangkan kembali
ke Madinah dalam keadaan terhormat sebagai Ahlul Bait-nya Rasulullah j. [22]

Kejadian tersebut memang sangat tragis dan pasti menimbulkan rasa sedih yang
sangat mendalam bagi siapa yang mengenang atau membaca kisahnya, apalagi
terhadap orang yang dicintai Rasulullah saw, dan kita pun sebagai umatnya
tentu mencintai dan memuliakannya.

Akan tetapi, apapun musibah yang terjadi dan betapapun kita sangat mencintai
keluarga Rasulullah j, namun hal tersebut tentu bukan alasan untuk
bertindak dan berbuat melanggar ajaran Allah Ta’ala sebagaimana yang
dilakukan oleh orang-orang Syi’ah pada peristiwa Asyuro. Sebab berbagai
peristiwa tragis juga pernah terjadi sebelumnya, seperti peristiwa
terbunuhnya Hamzah bin Abdulmuththolib, atau peristiwa pembantaian yang
menimpa puluhan shahabat Nabi yang diutus untuk mengajarkan Al Quran dll,
namun hal tersebut ternyata tidak membuat Rasulullah j dan para shahabatnya
mengenang atau memperingatinya sedemikian rupa sebagaimana yang dilakukan
oleh orang-orang Syi’ah untuk mengenang terbunuhnya Husain radhiallahu anhu.
 
from: syariahonline.com
----> Terbukti, mencari Rupiah Halal disini, sederhana dan logis


petunjuknya klik PANDUAN MENDAFTAR IDR-CLICKIT

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host