Selasa, 04 Januari 2011

Tak Ada Gading Tak Retak (Tentang Persahabatan)


Ketika ada sahabat kita yang salah atau khilaf, dibutuhkan seni untuk memberikan masukan/saran/kritik

Pilihan kita adalah dari mana kita memulai sikap kritis ini. Dari kecurigaankah? ketersinggungan atau kemarahankah? atau dari kasih sayang dan kepedulian?

Memulai sikap kritis dari kemarahan, kecurigaan atau ketersinggungan akan berbeda sama sekali dengan memberangkatkan sikap kritis dari mahabbah (cinta) dan kepedulian.

Menurut Al-Ghazali, kita memang tidak mungkin menghindari kemarahan. Kemarahan tidak secara normatif dianggap sebagai penyakit, demikian tulis Said Hawwa. Kemarahan yang penyakit – lanjutnya - adalah kemarahan yang dzalim dan cepat marah serta lambat reda. Kemarahan yang baik dipicu oleh hal-hal yang baik. Sedangkan kemarahan yang dzalim dipicu arogansi, ‘ujub, senda gurau, kesia-siaan, pelecehan, pencibiran, perdebatan, pertengkaran, penghianatan dan ambisi dunia.

Kita tidak dapat mencintai sahabat kita dan menerima nasehat darinya selama di hati kita masih ada rasa arogan, congkak atau sombong. Bahkan kita menjadi mudah untuk menggunjing dan melecehkannya – dibelakangnya atau dihadapan  – selama di hati kita bersemayam keangkuhan.
Padahal amarah menghasilkan amarah, kekacauan menimbulkan kekacauan dan perang menciptakan perang  Sebaliknya cinta melahirkan cinta.

Semoga Allah menjaga kita semua. Mari kita hargai sahabat kita karena keunggulannya, bukan menilai mereka dari kelemahannya.

(diadaptasi dari tulisan Mas Eko Novianto)


----> Terbukti, mencari Rupiah Halal disini, sederhana dan logis


petunjuknya klik PANDUAN MENDAFTAR IDR-CLICKIT

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host