Sabtu, 11 Juni 2011

Kejujuran Bu Siami Berbuah Malapetaka setelah Melaporkan Tragedi Menyontek Massal saat Ujian Nasional


Sungguh miris ketika harga kejujuran malah berujung malapetaka. Begitulah yang dialami keluarga Bu Siami dan anaknya AI terkait tragedi menyontek saat Ujian Nasional (UN) 10-12 Mei lalu di SDN 2 Gadel, Surabaya.  Bu Siami dan keluarga diusir dari kampung oleh ratusan warga karena dituduh mencemarkan nama baik kampung dan sekolah? Oalah kalo memang bobrok ya perlu dilaporkan toh! Sedih melihat Bu Siami hanya bisa menangis pilu.

Mendengar tragedi ini saya jadi teringat masa-masa sekolah dahulu, hampir selama mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar tidak punya keinginan untuk menyontek sedikitpun. Apa karena jaman saya, mata pelajarannya masih mudah-mudah ya? tidak seperti saat ini, melihat anak-anak SD sudah terbebani bermacam-macam ilmu eksak, hitung, hingga sosial. Baguslah mungkin untuk upgrading atau mengejar ketertinggalan.

Terlepas dari itu semua, tidak bijak memang hanya menyalahkan mata pelajaran yang semakin sulit untuk ukuran SD ditambah standar kelulusan yang cukup bikin mumet anak-anak se-usia mereka. Oleh karena itu, lebih bijak kalau kita memikirkan perkembangan kualitas mental siswa siswi negeri ini. Mental disiplin hingga jarang untuk membolos, mental jujur sehingga enggan untuk menyontek, mental juara untuk terus fighting meraih mimpi, dan bukan mental tempe!!! kok jadi nyalahin makanan ya? padahal tempe is the food of my country.hehe.

Back to topic, Bu Siami dituding sok pahlawan setelah melaporkan wali kelas anaknya, yang diduga merancang kerjasama contek-mencontek dengan menggunakan anaknya sebagai sumber contekan. Masya Allah, menurut Bu Siami, beliau telah melakukan prosedur yang sesuai, melapor ke Kepala Sekolah, Komite Sekolah dan DInas Pendidikan. Namun sayangnya warga yang kebanyakan menyekolahkan anaknya di SD tersebut geram dan memaksa Bu Siami meminta maaf di hadapan publik. Apa kata dunia??????? Wong bener kok malah disuruh minta maaf sama pihak yang salah......

Semoga peristiwa ini tidak terulang kembali, seperti yang diberitakan Surya Online, pilu melihat Bu Siami dengan tangan gemetar meminta maaf (bukan karena kesalahannya) di depan ratusan warga sambil berucap, “Saya tidak menyangka permasalahan akan seperti ini. Saya hanya ingin kejujuran ada pada anak saya. Saya sebelumnya sudah berusaha menyelesaikan persoalan dengan baik-baik.”

Turut Berduka atas Wajah Pendidikan Negeri Ini

Alhamdulillah tulisan ini masuk headline vlog vivanews juga





19 komentar:

emon_shares_some_stories mengatakan...

ironis sekali
"aku heran,aku heran, yang salah dipertahankan
aku heran, aku heran, yang benar disingkirkan"
--Franky Sahilatua-perahu retak--

banna mengatakan...

@emon: lagunya pas banget,,,, semoga tidak terulang kembali ya

Anonim mengatakan...

yaudah lah... kalo di paksa minta-maaf ma yg salah, lakukan aja drpd ribut. tapi abis itu dibakar aja warga kampung + sekolahnya

biar adil smw. sama-sama hilang, sama-sama rugi

Anonim mengatakan...

begitulah wajah masyarakat ini semakin tidak menjujung harga sebuah kejujuran, hal yang tidak penting seperti nilai ujian semakin membuat SEMANGAT UNTUK BERBOHONG DAN CURANG!!!!!!
Mulai kapan Indonesia mau berubah....... kalau masyarakatnya tidak siap jujur....... innalillahi,,,,,,,

isw_banna mengatakan...

@anonim: bisa jadi musibah untuk negeri

Anonim mengatakan...

Betul. Bakar aja kampung dan sekolahnya. Cuma jadi pabrik para pecundang doang.

Anonim mengatakan...

Berarti Warganya Guoblox.......!!!!!!!!!!!!!!!!

Anonim mengatakan...

Ya.., masyarakat kita memang sakit berat. Apakah ini juga buah demokarasi kita? Asal mayoritas jadi menang? Merinding rasanya kejujuran dikalahkan oleh masyarakat yang sakit..

isw_banna mengatakan...

@anonim: ngeri juga kali satu kampung udah jadi loser,hi

@anonim: kalo masyarakat udah sakit perlu banyak dokter jiwa dong he2

faceleakz mengatakan...

Menyedihkan sekali membacanya.

aku jadi teringan dengan sebuah lagu yang mengatakan:

if you feel just like a tourist in the city you were born
Then, it's time to go
And you find your destination with so many different places to call home
Cos' when you find yourself a villain,
In the story you have written
It's plain to see
That sometimes the best intentions.
(Death Cab For Cutie: You Are A Tourist)

Najma Azmy M mengatakan...

INNALILAAHI WAINNAILAIHIROOJI'UN......

Anonim mengatakan...

si ibu siami sok sok an,,yg kyk gitu bukan cuma di sekolahan dia aja,, tp yg bodoh ya jelas panitia UN nya,,ga bisa main rapih dan cantik sehingga bisa ketahuan gitu,,

banna mengatakan...

@faceleakz: liriknya pas banget dgn kondisi miris ini

@najma: innalillahi juga

@anonim: bukan sok2an lah gan, memang sepatutnya begitu,,,, untuk panitia UN juga harusnya tegasss

Anonim mengatakan...

sekarang ma udah biasa bohong korupsi menyuap menjilat tipu menipu, pemerintah dg para pejabatnya yg memulai akhirnya masyarakat ikut, kita semua harus terima kenyataan bahwa masyarakat akan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya, kalau mau berubah gantung dan tembak para koruptor

Kodok kampus mengatakan...

ironis sekali itulah fakta yang terjadi di negara kita.tapi saya yakin orang jujur memang banyak rintangannya

Anonim mengatakan...

ini PR kita juga loh..bagaimana mengajarkan pada anak2 kita bahwa nyontek itu salah & jujur itu benar; buang sampah sembarangan itu salah & buang sampah ditempatsampah itu benar;menerobos lampu lalulintas saat lampu merah atau kuning yang nyala itu salah & baru maju ketika lampu hijau menyala itu benar..dan lain sebagainya.selamat bu Siami,insyaAllah kejujuran anda sekeluarga pasti mengundang Berkah

Almu mengatakan...

Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra., bersabda, “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia. Pada saat itu pendusta dipercaya, sedangkan orang jujur didustakan; amanat diberikan kepada pengkhianat, sementara orang jujur justru dikhianati. Kala itu Ruwaybidhah turut bicara.” Lalu beliau ditanya oleh seorang Sahabat, “Apakah ruwaybidhah itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum/rakyat.” (HR Ibnu Majah).
Selamatkan Indonesia dengan Syariah & Hidup sejahtera dibawah naungan Khilafah Allahu Akbar!
http://hizbut-tahrir.or.id/2011/06/02/pernyataan-hti-tentang-konferensi-rajab-1432-h/

adiutomo mengatakan...

stupid people!! may they rotten in hell!! scumbag!!

Muammar abdi mengatakan...

Seandainya sekolah-sekolah lain kayak STAN semua, kalo nyontek lansung D.O. hehehe..

apapun itu, ada tanggung jawab pemerintah (kemendiknas) yang memaksakan standardisasi kemampuan untuk lulus ujian, dengan terang-terangan mengesampingkan aspek moralitas, sehingga orang tua siswa juga ikut2an menghalalkan segala cara demi kelulusan anaknya...semoga jadi pelajaran bagi pemerintah.

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host