Sabtu, 25 Juni 2011

Kontroversi Penutupan Pendaftaran Penerimaan STAN 2011 (D3)


"Sedih dengan Menteri Keuangan sekarang yang tidak care dengan STAN. Beda dengan Menkeu sebelum-sebelumnya. " begitu bunyi salah  satu tweet    (dosen &penulis artikel ekonomi) menanggapi statemen pak Menteri terkait penutupan penerimaan D3 STAN tahun ini (meskipun belum final, masih dikaji ulang)

Ada lagi tweet dari @ndankandarizkiPendidikan tinggi bukan cuma buat orang berduit. Berikan kesempatan itu. Jangan renggut mimpi dan cita-cita mereka. 

Lain halnya dengan pendapat salah satu Kaskuser: setiap warga negara yang capable harusnya punya hak SAMA untuk bekerja di kemenkeu, bukan hanya anak STAN. seharusnya nggak perlu ada pemrioritasan lulusan STAN untuk bekerja di kemenkeu. Langkah ini ane sambut positif. Semoga kemenkeu bisa makin baik kinerjanya (DSPLY2)
---------------------


Menjelang akhir pekan ini sedang marak pembahasan tentang kampus STAN lagi, setelah beberapa waktu lalu nama STAN mencuat bak roket akibat ulah oknum KORUPTOR bernama Gayus, kali ini dunia maya dan nyata digegerkan dengan isu penutupan penerimaan STAN untuk Diploma III. 


Kontroversi ini berawal saat Menteri Keuangan, Agus Marto menyatakan hingga saat ini penerimaan mahasiswa baru STAN untuk program D3 masih dalam pengkajian . Namun, penerimaan mahasiswa STAN untuk program D1 tidak ada halangan dalam pelaksanaanya.



"Kita ada penyelarasan kebijakan terkait pegawai termasuk penerimaan pegawai baru dan ini sedang dalam taraf finalisiasi untuk bisa kita laksanakan. Ada (pendaftaran) dan saya berkeyakinan, di STAN program D1-nya sudah berjalan yang D3-nya masih di review. D1 akan jalan," ujar Agus Marto saat ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (23/6/2011) seperti diberitakan oleh detik.com
Pendapat yang tidak setuju dengan penutupan penerimaan STAN (D3):
Beberapa komentator di detikforum:


Itu karena pak menteri tidak tahu realita di bawah, bahwa yang menjadi motor penggerak kementerian keuangan adalah alumnus stan.

Kalo memang benar jadi di tutup ya harus ada alasan yang jelas.... kenapa tidak dikurangi saja penerimaannya.

Klo alasan adanya pembengkakan pegawai, ngapain Kemenkeu buka penerimaan lulusan S1?? Negara justru lebih butuh biaya besar untuk bayar gaji dan diklat2 untuk mereka karena mereka 100% buta masalah pekerjaannya di Kemenkeu sebab tidak pernah mendapatkan ilmu itu di Universitas umum, APBN bisa terkuras sia2...... Lain halnya dengan lulusan STAN yg sudah siap Kerja begitu lulus kuliah...... Klo butuh tenaga di level S1, knapa ga memberdayakan pegawai yg sudah ada aja supaya bisa melanjutkan pendidikan. Lebih efisien dan efektif kan.....??

Dulu waktu awal bu SMI jadi Kemenkeu jg ada wacana buat nutup STAN. .tpi setelah dievaluasi ternyata semua unit eselon I mengaku sangat butuh lulusan STAN tiap tahunnya..

Kalau mau tutup beri tenggang waktu setahun pak....jgn mendadadak. kasihan ribuan calon yg sudah mengikuti bimbingan dsb. sdh kehilangan uang dan kesempatan....Tolong fikirkan pak...jgn semena mena dan mendadak 

Menurut saya menutup STAN adalah tindakan bodoh. Sistem penyeleksian dan pendidikan yang ketat membuat STAN mampu menghasilkan SDM yang berkualitas, buktinya terlihat dari bagaimana kinerja Kemenkeu saat ini, tidak akan ada yang menyangkal kalau Kemenkeu adalah kementrian yang kinerjanya paling baik saat ini,

di tengah pendidikan tinggi yg mahal nya, STAN yg pro thdp sekolah berkualitas dan gratis! Bnyk anak bangsa brilian dari ekonomi tdk mampu, akhirnya dpt kuliah, ke STAN. 

Wah ga ada lagi cerita romantis anak petani di kota kecil jd seorang PNS di kemenkeu 

Menurut saya yang harus diEvaluasi Pak Mentrinya deh (eva luasia)

Setau saya di STAN menghasilkan anak2 petani cerdas yg mampu disekolahkan sampai dengan S3 LN! Justru di indo yg perlu diperbanyak sekolah gratis model stan ini.



Ane bukan lulusan STAN Gan... tapi setau ane, kualitas anak STAN memang di akui, kenapa? karena kurikulum dan pelajaran yang di ajarkan di sana memang di arahkan untuk pekerjaan yg berhubungan dengan pemerintahan khususnya Pajak, Penilai, Akuntansi dll sesuai jurusan yg ada. jadi begitu lulusan STAN ini selesai sekolah, mereka langsung di pekerjakan di salah satu Instansi Pemerintah yang memerlukan, beda kalo pegawai di ambil dari PT lain Gan, mereka terpaksa di diklat dulu agar bisa menyesuaikan dengan pekerjaan yg ada di Instansi pemerintah.


bonus komentar kocak:  Saya mohon Pak Mentri, jangan ditutup, kuliah di STAN cita2 
org tua saya n saya sndri dr dulu pak... Tolong(ardiyan)


Pendapat yang mendukung dengan penutupan penerimaan STAN (D3):


“Jika pekerjaan yang sama dapat diselesaikan dengan jumlah pegawai yang lebih sedikit tentunya akan meningkatkan produktivitas karyawan,” sehingga pak Marto menutup kanal STAN

Kita tahu hampir 90% lulusan STAN bekerja di Kementrian Keuangan. Pengamat berpikir dengan background Pak Agus yang mantan Dirut Bank Mandiri yang memang memiliki kriteria khusus dalam menjaring pegawainya.


saya tahu, menurut prediksi saya,kemungkinan para pegawai dan calon pegawai akan digantikan oleh tenaga outsourchig, secara gitu lho ybs hobby pk outsourching ditempat lamanya...


Mungkin pertimbangan pak Agus Marto adalah penghematan, penghematan, penghematan.

Baik sahabat, kita tunggu saja hasil kajian pak Menteri dan timnya, semoga bisa menghasilkan keputusan yang bijaksana, strategis, visioner dan win-win solution.

foto: agung0prih0handoyo

26 komentar:

Mycom Banggai mengatakan...

kita liat aja, gimana om agus ini mau bertindak. kalo stan ditiadakan, kemenkeu bakalan diisi sama pegawai level menengah yang belum tentu bisa langsung kerja pas diangkat.

banna mengatakan...

@gus nuk: pada tataran teknis memang butuh lulusan2 STAn diakui

cawah mengatakan...

aku pengen daftar STAN hehe

banna mengatakan...

@cawah: lulus ga?

Anonim mengatakan...

Mau cari sensasi aja.........GAN

Anonim mengatakan...

mudah2an pak menteri mau berubah pikiran, AMINNNN #spiritforSTAN

Anonim mengatakan...

Lain halnya dengan pendapat salah satu Kaskuser: setiap warga negara yang capable harusnya punya hak SAMA untuk bekerja di kemenkeu, bukan hanya anak STAN. seharusnya nggak perlu ada pemrioritasan lulusan STAN untuk bekerja di kemenkeu. Langkah ini ane sambut positif. Semoga kemenkeu bisa makin baik kinerjanya (DSPLY2)

KELIATAN BEGONYA : RATUSAN RIBU LULUSAN SMA SEDERAJAT DIBERIKAN KESEMPATAN BUAT MASUK KEMENKEU MELALUI STAN.PEMRIORITASANNYA DIMANA?KALAU MAU MASUK STAN YA IKUT DONG TES.KALAU EMANG BAGUS KAN LULUS..
250.000 PENDAFTAR YANG DITERIMA HANYA 1000-1500 ORANG..
DI STAN DIDIDIK SECARA PROFESSIONAL.PULUHAN HINGGA RATUSAN ORANG DI DROP OUT TIAP TAHUN AKIBAT TIDAK MEMENUHI SYARAT.ITULAH KETATNYA PENDIDIKAN DI STAN.MASUKNYA SUSAH,LULUSNYA JUGA SUSAH.BISA DIBAYANGKAN BAGAIMANA BAGUSNYA KUALITAS LULUSANNYA.BIARPUN ANAK PETANI,ATAU PUN WONG DESO,YG PENTING ANAK STAN ITU MASUK DENGAN JUJUR DAN PAKE OTAK,BUKAN PAKE DUIT...SEPANJANG PENDIDIKAN SAMPE KERJA CUMA KELUAR 100.000 RUPIAH UNTUK DAFTAR UJIAN,SISANYA,GRATIS..DAN TANPA PUNGLI2AN.KURANG APALAGI..MAKIN HANCUR AJA NEGARA INI.YANG BAGUS DISINGKIRKAN..

Anonim mengatakan...

akalo masalah anggaran, kenapa anggaran untuk anggota dewan tidak dikurangi?? jumlah anggota dewan trus bertambah..
padahal mereka tidak melayani rakyat..

kalo pengen birokrasi tidak seperti ini caranya.. yang buruk malah disimpan,, korupsi akan terus ada,,

seharusnya perlu generasi baru yg fresh, yang sudah dididik sedemikian rupa agar menjadi pegawai yang profesional...

pengen anggaran yang kecil, coba buat sistem yang bener2 transparan aga setiap orang tw pengeluaran tiap depertemen dimana PNS itu bekerja..

jangan gunakan anggaran negara untuk hal mubadzir dan memperkaya pejabat..

semoga, aja pemeikiran anda berubah Pak Agus M..

Anonim mengatakan...

Kalau ada yang berpikir bahwa nanti kalau d-3 ditutup, penerimaan pegawai kemenkeu dari tes cpns, itu salah besar, malahan g ada sama sekali, murni 100% dari STAN. Alasan Pak Mentri penghematan itu tidak logis, karena faktanya di birokrasi kita malah kelebihan pejabat. Bayangkan saja jumlah pejabat kita dari esselon IV sampai I, dengan tunjangan sampai jutaan rupiah, belum lagi operasional nya dan pengadaan mobil dinas serta alat kelengkapannya. Kalau pemerintah ingin menghemat, contoh di negara2 Uni Eropa karena mereka sudah menghapus pejabat tingkat esselon karena terbukti di sanalah sarang korupsi.

Anonim mengatakan...

Kawan2 yang budiman, hari ini saya baru yakin dan percaya, ternyata di sekeliling saya banyak orang-orang yang mempunyai sifat dengki 'akut' (semula hanya katanya dan katanya)
Saya berada di antara kalian, berkat sistem yang dibuat atasan kalian. Saya berpangkat di atas kalian juga karena sistem yang sama. Jika memang kalian mau, silahkan kenakan pangkat yang ada di bahu saya ini di bahu kalian.

Kawan2 yang budiman, di institusi manapun, swasta ataupun pemerintahan, pengembangan SDM itu pasti ada. Hanya institusi primitif yang tidak memilikinya.

Kalian paling siap kerja karena sudah lebih dahulu melalui proses itu, di STAN. Dulu, waktu saya di Astra pun sama melalui proses diklat 3 bulan, kalau jelek langsung OUT. Sekarang pun sama, saya berada di institusi yang sama dengan kalian, kementerian keuangan, juga melewati proses diklat bermacam2. Jadi diklat itu diadakan bukan karena ada pegawai yang tidak tahu apa-apa, itu hanya secuil tujuan. Tujuan besarnya menjadikan para pegawainya profesional dalam bidangnya. Sehingga ukuran kenaikan pangkat atau jabatan bukan lagi karena satu almamater dengan kalian melainkan atas dasar profesionalisme semata.
Kalian sangat bangga ketika pejabat yang naik berasal dari almamater kalian. Kalian senang, kami pun ikut senang (karena bagaimanapun pejabat itu atasan kami juga meski tidak satu almamater).
Lain halnya jika pejabat yang naik itu bukan dari almamater kalian. Kalian kurang senang, menduga ada konspirasi ini itu. Sayang sekali.
Sehingga muncul pertanyaan, apakah yang berhak naik pangkat atau jadi pejabat itu harus dari almamater kalian? Sedangkan yang di luar 'golongan' kalian tidak berhak?
Budayakan TAWAZUN dan CERDAS serta BIJAK wahai kawan2 yang budiman!

Anonim mengatakan...

miris.. :(
saya benar-benar kecewa dengan Pak Menteri yang Terhormat. bahkan kekecewaan itu telah ada sejak tahun lalu, awal beliau menjabat. Menurut saya, beliau yang terhormat itu sungguh tidak bisa disamakan dengan Bu SMI yang begitu saya kagumi.

Anonim mengatakan...

Saya bukan alumni STAN, jadi saya akan bersikap netral. Saya rasa tujuan evaluasi yang dilakukan oleh Menkeu kita adalah bertujuan untuk membuat STAN menjadi jauh lebih baik dan percontohan bagi PTN-PTN lain yang makin mahal biaya kuliahnya. NAMUN, prosedur evaluasi tersebut (menurut kaidah umum) seharusnya tidak mengganggu kegiatan operasional instansi tersebut apalagi sampai harus menghentikan proses seleksi calon mahasiswa/i STAN. Jika yang dievaluasi adalah program dan kegiatan tahun ajaran yang lalu hingga tahun ajaran yang bersangkutan (sekarang), maka proses evaluasi harusnya dilaksanakan pada akhir tahun ajaran yang bersangkutan, sementara yang saya ketahui hingga bulan ini tahun ajaran 2010/2011 di kampus STAN masih berjalan (belum berakhir). Untuk Pak Agus Marto yang setingakat Menteri seharusnya sudah mengerti dan paham akan prosedur tersebut. Maaf bukan bermaksud menggurui Pak Menteri, sebab saya hanyalah rakyat kecil yang cuma tamat SMA.

heri mengatakan...

emm, gimana ya? menurut saya sih,mau pegawai yang dari stan kek, dari umum kek, atau dari mana kek, yang penting kalo kerja di kemenkeu ya harus mau kerja, cuman kan kadang kan orang udah kuliah tinggi-tinggi dikasih kerjaan kadang gengsi, kan saya lulusan bla bla bla masak ngerjaen kerjaan kek gini

Anonim mengatakan...

Heran.. STAN khan di bawah naungan DepKeu, DepKeu segala kebijakannya khan ada di pihak Menteri Keuangan. Jadi yang punya hak tawar khan Menkeu. Jadi buat apa ngributin sesuatu yang bernada pesimistis, berpikir optimis dan positif aja, Gan!
Syukur-syukur suara kita didengar, kalo gak ya sudah.. Itulah resiko Sekolah Tinggi Kedinasan, mau digratisin ato gak, mau ditutup ato gak, semua khan tergantung kebijakan Menkeu. Lagipula saya paham kalo Menkeu jauh lebih tahu kondisi Departemen secara menyeluruh daripada yang kita tahu. Kebijakan yang diambil juga berdasarkan pertimbangan dan kepentingan departemen yang dipimpinnya dari Sabang sampai Merauke..

Aditya Doni mengatakan...

Wah parah ni, kasian yg udah ikut tryout atau bimbel sana-sini. Mungkin kuotanya dikurangi atau apalah, dan jgn lgsg ditutup gitu.
Soalnya ane jga pernah liat di newsticker di TV akan ada pembatasan PNS pda 2012 karena APBN ga kuat biayain PNS.
Mungkin ini salah satu cara untuk membatasi PNS salah satunya di sektor Kemenkeu.

ajau mengatakan...

Jika Menkeu benar-benar menutup pendaftaran D3 STAN tahun ini, mungkin tidak ada lagi kisah seorang anak petani dari desa kecil yang menjadi seorang PNS di Kemenkeu.

Anonim mengatakan...

saya kira akan banyak sekali yang tidak setuju jika memang benar program d3 ditutup,,,,,, mungkin tidak akan ada lagi cerita atau kisah seorang anak desa atau rakyat miskin yang berjuang untuk mendapatkan kursi gratis di stan ataupun manjadi pns di kemenkeu,,, jujur saya ingin sekali duduk dan belajar di stan tapi jika d3 di tutup serasa kurang semangat untuk memperjuangkan agar bisa belajar di stan,,,,,,,,

karya nyata yang bisa ku persembahkan mengatakan...

Wah jujur saya juga gak setuju jika ditutup sebab D3 stan adalah pelaksana yang sangat dibutuhkan depkeu, untuk yang sarjana biasanya mereka eksklusif gan, kami sudah mencoba untuk mendekati mereka tapi mereka tetap kukuh dengan ego dan eksklusifitas mereka,

best regard faris

Anonim mengatakan...

D3 dan D4 STAN tulang punggung Kemenkeu..
Lulusan D1, mnrt saya kualitasnya kurang..
Lulusan S1 rata2 bossy..

Anonim mengatakan...

Gambaran background Pegawai di KEMENKEU saat ini
Lulusan D3 dan D4 STAN tulang punggung Kemenkeu..
Lulusan D1,saya kualitasnya masih kurang.suka ngeluh ini itu, banyak menuntut kesetaraan perlakuan dan pembagian beban pekerjaan dengan Lulusan D3 walaupun level mereka sama2 masih Pelaksana.
Lulusan S1 rata2 bossy.apalagi masih level Pelaksana, paling gak mau kerja, dan gak bisa kerja juga. Karena pola pendidikan mereka yang berbeda dengan Polan Pendidikan waktu di STAN yang serba sederhana, pas-pasan, dan penuh perjuangan, maka rata2 Almamater STAN menganggpa pekerjaan yang mereka dapatkan saati ini adalah benar2 sebuah anugerah dari proses perjuangan yang panjang selama menempuh pendidikan yang penuh dengan ancaman DO yang super ketat. berbeda dengan lulusan S1, kuliah rata2 masih dibayarin ortu, bisa sesantai mungkin dan klo perlu mengulang sampai mendapatkan nilai yang memuaskan..sikap dan sifat yang berasal dari pola pendidikan yang berbeda inilah yang kerap kali mencolok di permukaan dan amat sangat terasa di internal Kemenkeu sendiri... menurut saya, Menkeu saat ini, memberikan peluang yang sebesar2nya bagi Lulusan S1 untuk menjadi bossy yang sebenernya dengan cara mengkerdilkan cita2 , metamorfosa para Lulusan almamater STAN agar kelak kedepannya Level esselon dapat diisi oleh bossy2 kecil ini. bukan dari kalangan anak2 petani kecil hasil metamorfosa dari para lulusan D1,D3, dan D4 STAN yang luar biasa, karena rata2 mereka sering GOL mendapatkan beasiswa melanjutkan ke S2-S3 di LN dibandingkan para Lulusan S1.lihat saja!!

Anonim mengatakan...

D3 dan D4 STAN tulang punggung Kemenkeu..
Lulusan D1, mnrt saya kualitasnya kurang..
Lulusan S1 rata2 bossy....BETULLLLL 100%, singkirkan mereka dari sekarang juga...

Anonim mengatakan...

Saya kemungkinan salah satu dari wakil orang tua mahasiswa yang sekarang lagi menempuh D3 STAN menginjak semaster III. Saya sebagai orang tua dibikin bingung oleh keputusan P. menteri yang merubah keputusan SMI dengan keputusan AM yang hanya berjarak satu Tahun . Memang mungkin kebijaksanaan SMI dengan AM itu lain, tetapi jangan sampai kebijakan- tersebut jangan menjadikan anak-2 yang sedang menempuh pendidikan di STAN jadi resah terutama angkatan 2010 yang jadi korban . Sebagai contoh nya ,sebelum masuk kuliah di STAN , anak ini sudah diterima di ITB dgn bayar uang yang aduhai besarnya , tetapi anak tersebut kemudian diterima di STAN , tentunya dengan harapan bisa langsung masuk jadi CPNS , tetapi dgn keputusan P. Menteri AM bahwa lulusan STAN tdk langsung bisa diangkat menjadi CPNS tetapi hrs melalui test masuk selayaknya pendaftar baru yang baru mau masuk menjadi CPNS . Akibat nya anak tersebut frustasi dan berakibat prestasi belajarnya menurun drastis walaupun tidak sampai di DO , tetapi itulah sebuah contoh dari keputusan yang tidak berpihak kepada orang kecil seperti kami ini . Mudah-mudah an P.AM kalau memang akan membuat keputusan yang menyangkut lulusan D3 STAN hendaknya diberlakukan setelah angkatan terkhir D3 ( 2010 ) selesai semua dan jangan menerima mahasiswa baru lagi sejak tahun yang bersangkutan (2010) sehingga tdk ada lagi korban-korban akibat keputusan yang berpihak pada sekitar 3000 mahasiswa D3 dan ribuan lagi mahasiswa D4 yang akan terkena dampak dari keputusan tersebut.salam hormat saya utk P.AM.

Anonim mengatakan...

Wah, ada yg ngomong anak d3 stan iri sama anak s1.

Iri sama sekali nggak. Ada juga kok anak S1 yang kinerjanya bagus. Beberapa temen S1 yg saya kenal ada yg baik dan mau belajar. Tapi, sorry to say. Kebanyakan gitu2 aja. Coba cek setiap kantor dan bandingin kinerja mereka. Miliiiih bgt soal kerjaan. Teriak2 lagi dikasih penempatan jauh. Aneh. Idih.

Inget kasus anak dari S2 entah dari mana, yg katanya lagi kuliah lagi di UGM terus masuk penerimaan S1 dapet penempatan KPP Pratama Tobelo dan langsung mencak2 minta keluar dari DJP. Ewww, plis deh kerja juga belom. Keluar aja sono emang sapa jugaaa yg mau ngalangin.

Mau lulusan S2 Harvard sekalipun kalo masuk ke sini ya pasti belajar ulang dari awal lagi. Belum tentu juga pas udah kerja, kinerjanya lebih bagus dari anak D3. Emang ada jaminan?

Dan parahnya lagi udah rahasia umum angkatan yg baru masuk integritasnya diragukan.

Itu baruuuu bgt. Eh, udah buka penerimaan lagi. Katanya pembengkakan di IIIA, kok malah nerima IIIA. Harus ngajarin dari awal lagi, mending mau belajar.. Ada sih yg mau, tapi kebanyakan yaaa gitu deh.

Kalo nggak dianggep buang2 anggaran apa namanya?

#Catatan waktu internalisasi angkatan kami di KPDJP ada oknum mereka yg berani2nya ngatain kami "rombongan jurangmangu" dengan nada nggak enak. Maksudnya apa?

Yang kurang seneng siapa?

Kalo soal penerimaan D1 diperbanyak itu sih saya dukung. Mereka memang dibutuhin buat pekerjaan administrasi.
Pekerjaan yg kebanyakan anak S1 yg baru masuk nggak mau nyentuh2. (yg terakhir omongan jujur dari pelaksana2 di tingkat bawah, baik yg dari d3, maupun yg masuk dari SMA honorer, bukan opini pribadi saya)

Buat perenungan aja.

Anonim mengatakan...

Sebenarnya itu tergantung pemikiran pribadi lepas pribadi...kita jangan terlalu fokus mengejar dunia ini....nikmati saja hidup ini dgn bersyukur selama kita masih sehat....tidak hanya 1 jalan menuju berastagi....banyak jalan menuju kesuksesan asalkan kita mau belajar belajar dan bekerja serta berdoa .Amin

Anonim mengatakan...

miris banget,
padahal bnyak yg minat di STAN
kasih kesempatan bagi anak negeri yang ingin sukses tanpa harus membebani orang tua dengan biaya perkuliahan yang mahal di zaman ini !!!!!

pratama. adhi mengatakan...

KISAH PERJUANGAN DAN PENGORBANAN MASUK Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)

Saya Akan Perkenalkan Diri Saya
Nama: Alhadi
Asal Daerah: Bengkulu
Lulus Stan Tahun Ajaran 2013/2014

Dari sinilah saya selalu mencari informasi dari beberapa teman dan sahabat saya untuk memberikan masukan serta arahah agar aku bisa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Akhirnya saya diberikan Salah satu teman dari teman saya memberikan Saya NOMOR HP untuk saya Hubungi, hingga saya langsung menghubungi No HP tersebut, aku menelepon No HP itu sebanyak 2 kali baru bisa terjawab, akhirnya saya berbicara dan menyampaikan keluhan saya selama ini.

Dia merespon pembicaraan saya dan saya diberi petunjuk Untuk mengikuti 1 kali tes lagi, tapi bukan melalui jalur masuk USM STAN. Dan Penyampainyan beliau. begini kalau memang adik mau saya bantu dengan janji kelulusan, maka saya akan bantu, tapi dengan 1 catatan adik harus menuruti apa yang akan nantinya saya arahkan, DAN SAYA JAWAB Dengan sangat senang hati saya SIAP, akhirnya beliau menyuruh saya MENGIKUTI JALUR KEBIJAKAN/KEKELUARGAAN. Dan Saya jawab bukankah STAN.

Memiliki 3 Jalur Masuk:

1. Jalur Masuk USM STAN
2. Jalur Masuk Beasiswa BPKP STAN
3. Jalur Masuk Melalui Badan Kepemerintahan Perpajakan dan Keuangan.

katanya YA benar apa adik sampaikan. Dan mengenai jalur KEBIJAKAN memang tidak ada tertera dari salah satu dari 3 jalur masuk STAN. Jalur kebijakan adalah dimana dengan kata lainnya bisa di artikan sebagai jalur kekeluargaan. Dan Saya Kembali Bartanya kpd beliau, apakah ada biaya yang harus saya bayar untuk bisa masuk jalur kebijakan itu. Jawab beliau ya ada, saya balik bertanya berapa banyak biaya yang harus saya keluarkan dan apakah saya mendapat jaminan kelulusan bisa masuk Di STAN, beliau menjawab mengenai biaya yang harus adik keluarkan itu ada dan kelusan adik dijamin 100%. Tetapi adik tidak usah khawatir, saya bisa meluluskan adik dengan pembayaran yang tidak memberatkan hanya sebesar Rp. 25.000.000, saya menjawab bukankah biaya itu sangat sedikit, untuk bisa masuk jalur kebijakan, Ya adik memang benar apa yang adik bilang,

Dan saya jawab kalau biaya segitu pastinya saya sangat mau. Singkat cerita, hingga akhirnya berkat bantuan beliau, akhirnya saya dinyatakan LULUS masuk di STAN, yang saya idamkan dan yang membuat saya sangat kaget ternyata saya tidak mengikuti teks sama sekali, tetapi saya hanya dibekali kartu TEKS saja. Dan itu menjadi rasa syukur yang amat mendalam bagi saya.

Dan darisinilah saya mengetahui kalau orang yang membantu saya hingga LULUS, ternyata adalah Kepala Bidang Akademis Pendidikan Akuntan (STAN) PUSAT, Dia Adalah Kepala Kepala Bidang Akademis Pendidikan Akuntan (STAN)
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)
Jalan Bintaro Utama Sektor V, Tangerang Selatan, Banten
Akhmad Priharjanto, SE, M.Si.
Ini No Hp BELIAU.
0857-5753-3037

Anda mau seperti saya yang bisa masuk di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) , Sebaiknya tidak ada salahnya m'hubungi No hp Bpk Akhmad Priharjanto, SE, M.Si., Semoga beliau bisa membantu kelulusan anda seperti beliau meluluskan saya dengan hanya mengeluarkan biaya sebesar 25 juta saja.

Semoga bermanfaat.

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host