Rabu, 20 Juli 2011

Astaghfirulloh! Saya Korban Hipnotis...

Sore itu, saya bergegas menuju masjid dekat kos-kosan saya di kawasan PJMI Jurangmangu. Sebelum sampai tujuan, tiba-tiba dua pengendara motor menghampiri saya. Wah, paling-paling mau nanya alamat, pikir saya.

Ternyata beda, masih di pinggir jalan, sang pengendara motor malah curhat bahwa adiknya kemarin baru saja dirampok oleh komplotan remaja di kawasan ini. Laptop, dompet, ponsel, dan berharga lainnya habis dirampok para remaja begundal, katanya. Saya pun turut prihatin mendengarnya. Anehnya, orang itu berbicara dengan speed yang luar biasa cepat, sehingga saya tertarik dengan pembicaraannya bahkan emosi pun terpancing untuk berempati dan berusaha menolongnya.

“Wah, kasian banget nasib adiknya, kayaknya perlu saya bantu.” Hati kecil saya bermonolog turut prihatin.

Sang pengendara tadi masih terus bercerita kurang lebih satu jam-an, hingga pada pertanyaan, 
“Tapi bukan adek kan? Salah satu begundal yang memalak adik saya?”

“Bukanlah, Bang” saya jawab dengan datar

“Ya sudah, kalo gitu adek ikut Abang ke motor, dan kita pergi ke rumah pak RT di daerah saya untuk membuktikan Adek tidak terlibat.”

Logika ini sebetulnya masih jalan, lho apa hubungannya saya harus menghadap pak RT disana? Tapi mulut dan raga berkata lain, saya bergerak bak kerbau dicocok hidupnya mengiyakan untuk ikut membonceng di belakang pengendara pertama. Sementara, pengendara motor kedua tetap bertahan di gang dekat kos-kosan.

Tibalah saya di satu daerah pelosok Kompleks Pondok Jaya yang sepi dari keramaian. Sang pengendara tadi mematikan motornya dan berkata, “Ya sudah, kamu tinggal disini ya, saya mau menghadap pa RT dulu dengan bukti kunci kamar kamu. Mana kuncinya?”

Lho lho lho apa hubungannya dengan kunci kamar saya?

Namun tangan berkata lain, saya pun menyerahkan kunci kamar saya. Selanjutnya,secepat kilat, pengendara motor tadi segera menyalakan motor kembali, ngebut dengan kecepatan tinggi meninggalkan saya terdampar dalam posisi terbengong-bengong dengan nasib kunci kamar yang raib..

Astaghfirulloh.... i was hypnotized and cheated.

(bersambung dengan ending yang seru insya Alloh)

note: seperti yang diceritakan seorang sahabat, mahasiswa STAN tingkat II, kejadian berlangsung jumat pekan lalu

7 komentar:

Iqbal mengatakan...

yah bersambung..

btw, sebenernya di koran2 dah sering ada berita dgn motif (nuduh adiknya ditipu)..

makanya sy kalo ketemu org di jalan yg tipe2 kaya gitu (mendadak ngedeketin dan ngajak ngobrol) langsung kabur aja..

logikanya kalo org jadi korban copet di jalan sy akan lapor dan minta bantuan ke polisi, atau ketua RT dan semacamnya, bukannya nemuin org2 sesama pejalan. jadi kalo dia malah laporan ke kita, kita wajib waspada.

banna mengatakan...

@iqbal: iya bro, kudu ati2 mungkintemen ane juga lagi lelah jadi gampang terpengaruh

priyayimuslim mengatakan...

pengalaman yang sama persis pas kuliah.

banna mengatakan...

@priyayi: gmana kisahnya gan?

Seseorang yang tak berhenti berharap mengatakan...

Ada yang aneh, ngapain minta kunci kamar, bukan dompet atau ponsel atau barang berharga lainnya? dan kenapa juga ditinggal enggak diminta menunjukkan dimana tempat kos dan kamar ybs kalau memang tujuannya untuk menjarah kamar.

KAlau saya sih nggak pernah bawa kunci kamar kos, orang kamarnay nggak bisa dikunci :)

Maryulisman mengatakan...

@Priyayi
@Banna

Ditunggu kisah lanjutannya ya...

isw_banna mengatakan...

@akh yudhi: sepertinya si begundal sdh mempelajari aktivitas korban, dan pas mau ke mesjid kan biasanya bawa kunci kosan doang

@kang maryu: insya Alloh besok ya

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host