Rabu, 14 September 2011

Belajar dari Penjual Serabi yang Dermawan


Di sudut persimpangan jalan itu ia menjejerkan tiga tungku kecilnya. Satu tungku lainnya terbuat dari batu yang disusun hingga menyerupai tungku.  Bara api dari kayu bakar yang memerah mememnuhi  bagian bawah tungku, kemudian satu per satu wajan kecil yang terbuat dari tanah liat di atas tungku itu dituangkan adonan kue serabi.

Beberapa orang terlihat menunggu kue serabi itu masak, menikmati kue serabi dalam keadaan masih hangat pasti menjadi sebab mereka rela menunggu kue diangkat dari wajan.

Malam itu, satu malam sebelum memasuki bulan suci Ramadhan, Bu Ikah tampak sedih. Setumpuk kue serabi yang sudah dimasaknya belum terjual, dan bara api pun dipadamkannya sambil menunggu pembeli.

“Berapa harga satu kuenya bu," sapaan saya membuyarkan lamunannya, entah apa yang sedang dilamunkannya, tapi sangat jelas wajahnya mmancarkan kesedihan.

Rupanya, malam itu tidak banyak uang yang diperoleh ibu tiga anak itu.  Pesanan 10 kue serabi dari saya membuatnya sedikit tersenyum, kecil terdengar suaranya berucap syukur. Tapi tetap saja belum menghilangkan gurat muram di wajahnya.

Lukisan di wajahnya itu yang memaksa saya untuk lebih lama lagi di tempat itu, namun bukan untuk menambah pembelian jumlah kue.

“Sudah berapa kue terjual malam ini bu?" tanya saya mengagetkannya. Nampaknya ia tak menyangka mendapat pertanyaan itu. Tak ada angka terbilang untuk pertanyaan itu, pun ketika pertanyaan tentang keuntungan yang diperolehnya malam ini.

Kemudian ia tersenyum, dengan mata menerawang ia seperti sedang membaca langit.

"Sejak hari pertama jualan di sini, saya dapat untung banyak. Tapi tiga hari terakhir ini, hanya uang kembali modal yang terbawa pulang. Ada sih sedikit lebihnya, tapi…." ia menghentikan kalimatnya dan tertunduk sesaat.

Sadar saya menatap wajahnya, Bu Ikah buru-buru membenahi wajahnya  dan memaksakan sebuah senyum.

"Kenapa bu? Kok sedih," saya bisa melihat dengan jelas ia sangat bersedih dan menduga kesedihan itu dikarenakan sedikitnya keuntungan yang diperolehnya tiga malam terakhir.
 Ternyata saya salah.
"Bukan itu pak, biar cuma jualan kue serabi saya merasa sebagai orang berpenghasilan. Saya nggak mau dianggap orang lemah, karenanya saya selalu menyisihkan sedikit dari keuntungan berjualan kue utk zakat atau sedekah ke orang yang lemah”"Entah berapa yang bisa saya sedekahkan dari sedikit keuntungan saya malam ini?"

Nyaris tak ada kata lagi yg mampu terucap oleh saya mendengar alasan kesedihannya. Jika tak ia lanjutkan kalimatnya pun, saya mngerti maksudnya. Kalimat terakhirnya begitu menohok makna kedermawanan yg selama ini saya pahami.

Bu Ikah membuktikan, bukan hanya orang kaya yang mampu menyandang status dermawan.

Thanks Bang Bayu Gawtama atas kultweet inspiratifnya.



1 komentar:

Anonim mengatakan...

luar biasa.....

very inspiratif...

teruskan info-info inspiratif yang lain ya kang....

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host