Selasa, 20 September 2011

Dialog Kocak Wartawan dan Polisi Pasca Tawuran


Kisah Paijo polisi senior yang bertugas mengamankan misi  isu yang sedang hot: tawuran.

Pagi ini, pasca tawuran antar SMA yang notabene nya berasal dari kalangan borju di bilangan Blok M, Paijo bergerak menuju TKP. Kondisi diperparah ketika bentrok terjadi antara Wartawan dengan siswa SMA 6 ketika aksi protes wartawan di depan SMA 6.

Pagi ini terlihat lengang, tapi tiba-tiba muncul seorang wartawan. Wartawan tersebut mengajak ngobrol sejenak.
W: Wartawan
P: Polisi

W: “Parah tuh pak, anak-anak jaman sekarang. Nggak cuman berani antar sekolah saja, tapi wartawan pun dikeroyok. Wong edan.”

P:”Memangnya sampeyan di TKP juga kemarin?”

W;”Ya iyalah. Hari pertama saat tawuran SMA 6 dan 70 saya sempat meliput, sampai tragedi pemukulan Okta wartawan Trans 7. Brutal. Preman. Bengis, bahkan lebih mengerikan dari kanibal.”

P: “Wah. Kalo saya di TKP mungkin sudah saya pentungin tuh orang.”

W: “Saya juga heran. Emangnya di sekolah nggak diajarin apa ya? Tentang moral dan akhlak. Jangan-jangan sekolah dan orang tua hanya mengejar IQ IQ IQ saja.”

P: “Terlalu memang. Sebagai orang tua kita memang harus pintar. Dan jangan lupa pilih sekolah yang memiliki kredibilitas tinggi nggak cuman pinter doang.”

W: “Sepakat pak, apa jadinya negeri ini kalo mereka jadi pemimpinnya nanti. Nambah rusuh saja. Makanya pak kalo punya anak sudah SMA jangan dimasukkan ke sekolah yang suka tawuran ya. ”

P: “BTW, kamu sendiri ngapain disini? Bukannya wartawan dilarang meliput lagi saat ini?”

W: “Ini pak, saya mau jemput anak saya. Dia sekolah di SMA 6.”

P: “Woalah, ternyata sekolah disini juga. Tapi nggak terlibat kan?”

W: “Terlibat sih tapi cuman sedikit mukul dua kali aja kok nggak ampe bonyok.”

P: “ Ya sudah sana.”

Saat wartawan hendak meninggalkan sang polisi, tiba-tiba datang bocah dengan baju SMA nya,menghampiri pak Polisi tadi.
S:Anak SMA
P:Polisi

S: “Pah, mana uangnya, Gilang mau beli BB (Blackberry) Dacota baru nih."

P: “Nih, 7 juta kan, kembalinya kamu tabung ya.”

S: “Ngga bisa Pah, kan harus ngobatin memar kemarin abis tawuran.”

P: “Ya udah cepetan sana ke Rumah Sakit dulu. Terus jangan lupa akun twitter nya di ubah dan postingan kemarin di-delete ya.”

S: “tweet yang mana Pah?”

P: “itu lho yang "Puas gua mukulin wartawan di jalur sampe bonjok2 emosi bet gua.”


Wartawan, yang masih berada di dekat mereka, sempat nyeletuk:
“Waduh gawat, itu kan Gilang Perdana, biang keroknya kerusuhan kemarin. Nggak nyangka bokapnya polisi patroli juga”

Kisah ini hanyalah fiksi ya, terinspirasi dari kerusuhan SMA 6 vs Wartawan. Semoga menghibur di tengah panasnya suasana.

(tweet me @isw_banna)








0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host