Jumat, 16 September 2011

THR dan Harga Keimananku


Ramadhan tahun ini terasa beda bagi saya.  Tahun lalu  saya masih berstatus Mahasiswa, Alhamdulillah tahun ini melewati hari-hari selama Ramadhan dengan status PNS.

Status yang sebagian besar masih berebut untuk mendapatkannya. Menurut saya, menjadi pengusaha lebih memiliki nilai lebih dibandingkan status saat ini, meski hanya pengusaha tempe sekalipun.

H-5, di hari terakhir bekerja (di salah satu kementerian), perasaan senang, haru gembira bercampur aduk karena seperti ritual lebaran saya harus mudik ke tanah kelahiran di Pulau Kalimantan. Berkumpul dalam kehangatan keluarga besar. Saling berbagi cerita dan maaf memaafkan. Yang terpenting adalah bagi-bagi angpow kepada anak-anak, baik itu keponakan dekat maupun tetangga.

Sayangnya, status saya sebagai Calon PNS harus bertekuk lutut dengan penghasilan yang belum bisa dikatakan besar. Bisa jadi, hanya cukup untuk pulang pergi (PP) Jakarta-Kalimantan. Menyedihkan memang. Lebih baik mensyukuri setiap keadaan yang Alloh berikan.

Jumat Sore, di hari terakhir bekerja, atasan saya menghampiri dengan senyum mengembang.

“Anto, ini ada titipan dari para client kita. Mohon diterima.”
Teronggok empat amplop tebal di meja saya. Dan bisa dipastikan isinya uang semua.

“Maaf Pak ini uang apa ? “ saya masing terbengong-bengong melihat empat amplop tersebut 
“Yah, anggap saja uang THR buat kamu. Wong namanya menjelang Lebaran, ya bagi-bagilah.”
“Tapi, Pak….”
Belum sempat meyelesaikan kalimatnya, Atasan saya pergi dengan santai menuju ruangannya.

Sejenak saya teringat dengan pesan pak Dirjen saat memberikan pengarahan kepada pegawai-pegawai baru. Salah satu yang terus terngiang-ngiang adalah:
 “Setiap pemberian dari pengguna jasa (client/customer) adalah suatu bentuk gratifikasi. Jadi, kita tidak berhak menerimanya. Apalagi sekarang sudah masanya Kantor-kantor modern bereformasi secara birokrasi.”
Tepat sekali yang disampaikan Pak Dirjen beberapa waktu silam. Saya memerlukan waktu untuk memikirkan untuk apakah uang-uang ini?

Tiba-tiba, HP berbunyi  tanda pesan singkat masuk berhasil membuyarkan  lamunan saya.

Wah SMS dari Mas Andi.
”Mengingatkan, sahabat malam ini kita I’tikaf terakhir ya di Masjid Kantor. Kumpul isya ya

Alhamdulillah masih ada yang mengingatkan untuk kebaikan. Tiba-tiba terbesit ide brilian untuk apa uang-uang itu digunakan.

-----
Malam hari, di masjid dengan AC yang cukup dingin hampir menusuk kulit, Mas Andi sedang asyik membaca Qur’an.  Tiba-tiba datang Anto adik kelas beberapa tahun dibawahnya, dan meminta waktu sejenak untuk mengobrol.

"Mas, ini ada empat amplop, saya pikir ini bukan hak saya. Jadi, saya mau Mas menyalurkannya bagi yang membutuhkan. Saya belum lihat isinya, apalagi jumlahnya.” Anto mengutarakan isi hatinya yang mengganjal sejak sore tadi.

Seketika, wajah Mas Andi berubah mellow (entah terharu atau bangga dengan apa yang dilakukan adik kelasnya)

“Subhanalloh. Maha Suci Allah. Ini semua amplop yang Anto dapatkan dari kantor?”

“Iya mas, katanya THR. Cuman saya ragu itu ternyata dari penguna jasa. Saya nggak mau rizki saya tercampur dengan yang berbau syubhat. Saya takut dengan azab Alloh, Mas. Pun saya yakin Alloh Maha Adil dan Maha Pemberi Rizki.” Anto dengan suara bergetar menjelaskan

“Masya Allah, ane Bangga dengan pemahamanmu. Insya Alloh uang ini akan disalurkan ke yayasan pendidikan anak yatim yang akan dialokasikan untuk pembangunan WC/Toilet. “

“Terima kasih, Mas. Saya izin baca Quran dulu” Anto berlalu dan tenggelam dalam khusyuknya tilawah.

(Seperti yang disampaikan seorang adik kelas saat i’tikaf di kantor Ramadhan ini)


follow @XL123 @VIVAnews @VIVAvlog


0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host