Jumat, 02 Desember 2011

Mau berbuat Maksiat? Belajarlah dari Ular Sirkus ini

Kemarin sore menyempatkan diri membuka file penting dan dapat renungan yang simpel namun menggugah dari pak Hartono Achmadi.

Mari kita simak kisah berikut ini:

Seorang pemain sirkus memasuki hutan untuk mencari anak ular yang akan dilatih bermain sirkus. Beberapa hari kemudian, ia menemukan beberapa anak ular dan mulai melatihnya. Mula-mula anak ular itu dibelitkan pada kakinya. Setelah ular itu menjadi besar dilatih untuk melakukan permainan yang lebih berbahaya, di antaranya membelit tubuh pelatihnya. Sesudah berhasil melatih ular itu dengan baik, pemain sirkus itu mulai mengadakan pertunjukan untuk umum. Hari demi hari jumlah penontonnya semakin banyak. 

Suatu hari permainan segera dimulai. Atraksi demi atraksi silih berganti. Akhirnya, tibalah acara yang mendebarkan, yaitu permainan ular. Pemain sirkus memerintahkan ular itu untuk membelit tubuhnya. Seperti biasa, ular itu melakukan apa yang diperintahkan, ia mulai melilitkan tubuhnya sedikit demi sedikit pada tubuh tuannya. Makin lama makin keras lilitannya. Pemain sirkus kesakitan. Oleh karena itu, ia segera memerintahkan agar sang ular melepaskan lilitannya. Sayangnya, sang ular tidak taat.

Sebaliknya, ular semakin liar dan lilitannya semakin kuat. Para penonton menjadi panik, ketika jeritan yang sangat memilukan terdengar dari pemain sirkus tadi, dan akhirnya ia meninggal.

---------
Hikmah:
Seringkali kita merasa bahwa dosa yang kita lakukan terlihat tidak membahayakan. Kita merasa tidak terganggu dan dapat mengendalikannya. Bahkan parahnya, kita merasa permisif dan terlatih untuk mengatasinya. Namun, kenyataannya, apabila dosa-dosa itu telah mulai melilit hidup kita, sukar rasanya untuk melepaskan diri darinya.

Bonus:
Semoga kita bukan termasuk orang yang digambarkan oleh Ibnul Qayyim terkait dosa, bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu, mempunyai akibat yang dapat menutup hati, pendengaran, dan penglihatan. Sehingga, terkuncilah hatinya, tersumbat kalbunya, karena ia penuh dengan kotoran yang berkarat. Allah yang membolak-balikkan hatinya, sehingga ia tidak memiliki pendirian, membuat jarak antara diri dan hatinya.  Naudzubillah.

Komen:
So guys, segera isi hari dengan kebaikan niscaya tak ada peluang untuk berbuat maksiat.  Sehingga hati kita tidak 'mati' seperti yang dianalogikan oleh kematian nahas pemain sirkus tadi. Walahu ‘alam bish showwab.

3 komentar:

andre mengatakan...

mantaps,,, keren kang wandi,,, mampir please...

Eswahyudi Kurniawan mengatakan...

Assalamualaikum Pak,,,kok lama blog nya nggak di update n_n

trims postingan diatas

banna mengatakan...

@andre: yup sukses juga ya blognya

@eswahyudi: wslkmwrwb, iya syukron atensinya

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host