Selasa, 20 Desember 2011

Renungan di Atas Udara bersama Burung Besi


Perjalanan di atas udara bisa menjadi obat yang ampuh untuk lebih dekat padaNya. Terlebih bila kita take-off sendiri tanpa keluarga menemani.

Saat roda pesawat lepas landas meninggalkan bumi, hampir dapat dipastikan semua flight-attendant a.k.a penumpang berdoa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing. Saya sendiri termasuk yang tak luput untuk memohon kepada Yang Maha Menciptakan Awan dan Udara, Alloh swt. Sesaat setelah announcement terdengar, saya merasa sedikit nyaman untuk mencari aktivitas lain di dalam kabin.

Maha suci Allah yang menciptakan udara yang mampu menghempaskan 'burung besi' hingga 30.000 kaki dari permukaan laut dengan mengangkut seratus lebih penumpang. Meskipun sudah beberapa kali lepas landas, momen di atas pesawat menjadi begitu berharga dan penuh kontemplasi bagi saya.

Pekan kemarin, saat harus pulang seorang diri dari masa berlibur di Samarinda, dalam perjalanan Balikpapan-Jakarta saat melihat fenomena begitu khusyuknya seorang ibu tilawah (membaca Quran) dari mushaf sakunya. Sampai-sampai saya sodorkan bacaan koran terbaru beliau menolaknya. Ya iyalah enakan baca Quran kali bisa jadi investasi kebaikan, mungkin begitu isi hatinya.

Saya sendiri mencoba membaca buku inspiratif yang sudah disiapkan dari rumah guna mengisi kekosongan selama 1 jam 45 menit. Berharap ini merupakan investasi kebaikan terakhir jikalau ini merupakan kesempatan hidup terakhir. Apalagi ketika diumumkan 'mohon maaf kondisi cuaca sedang memburuk' hati jadi sedikit was-was hingga memicu untuk lebih banyak berdzikir sambil terus membaca (multitasking banget ya).

Satu lagi momen yang hampir tak terlupakan adalah mengingat wajah-wajah saudara seperjuangan dalam kebaikan dan mendoakan mereka supaya diberikan kemudahan menjalani hidup dan terus istiqomah. Bukankah salah satu waktu dikabulkan doan adalah saat dalam perjalanan jauh alias musafir?

Japos, 20/12/11
twitter iswbanna

4 komentar:

maryu mengatakan...

Hm... sampai umur segini ane belum merasakan indahnya alam di atas 30rb kaki. eh... a.k.a apaan sih maksudnya akh?

Ansar mengatakan...

hehee jadi ketawa baca postingnya,, ketawa soalnya saya juga kalo naik pesawat langsung pucat kalo ada pengumuman nyuruh ikat setbelt karna cuaca sedang buruk :)

terapi qolbu mengatakan...

memang dulu orang tidak percaya ada besi yang bisa terbang, tapi adanya pesawat membuktikan batasan logika tidak berlaku dari zaman ke zaman.

banna mengatakan...

@maryu: belum sempat ya akhi, insya Alloh secepatnya kan sdh jadi transportasi biasa di kalangan masyarakat. a.k.a (also known as) aatau alias

@ansar: wah berarti sama ya dengan yg saya alami

@terapi: subhanalloh Maha Suci Alloh

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host