Rabu, 25 Januari 2012

Allah pun Cemburu. Really?

Alloh memberikan banyak perasaan pada diri seorang manusia. Rasa rindu, cinta, kangen, marah, atau cemburu. Apa jadinya kalo Alloh cemburu? Jangan salah asumsi dulu ya, sebelum baca kisah ini:

Sudah menjadi kebiasaan di pekan pertama Rabi’ul Awwal, seorang pemuda bernama Hasan Al Banna bersama rekan-rekannya mengadakan kunjungan ke rumah salah satu sahabat secara bergiliran. Bisa dibayangkan setiap malam mulai tanggal 1 hingga 12 Rabiul Awwal, mereka berangkat sambil mengalunkan nasyid penuh semangat dan kegembiraan.

Malam ini mereka berangkat ba’da Isya menuju rumah Syaikh Syalbi Ar Rijal. Rumah Syaikh Syalbi sangat terang, bersih dan rapi. Dihidangkannya serbat, kopi dan qirfah seperti biasanya. Mereka duduk dan meminta nasihat-nasihat Syaikh Syalbi.

Ketika Hasan AlBanna dan rekan hendak pergi, Syaikh Syalbi berkata dengan senyum yang lembut, “Datanglah kalian besok pagi-pagi sekali, agar kita bisa menguburkan Ruhiyah bersama-sama.” 

Ruhiyah adalah putri beliau satu-satunya. Allah mengaruniakan Ruhiyah kepadanya kurang lebih setelah sebelas tahun dari usia pernikahannya. Ia sangat mencintainya, sehingga tidak pernah meninggalkannya sekalipun sedang sibuk bekerja. Ruhiyah kemudian tumbuh menjadi seorang gadis. Ia menamainya ‘Ruhiyah’ karena putrinya menempati kedudukan ‘ruh’ pada dirinya.

Tentu Hasan Albanna dan rekan-rekannya terperanjat. “Kapan ia meninggal?” Tanya mereka spontan. 
“Tadi menjelang maghrib!” jawabnya tenang.
“Kenapa syaikh tidak memberitahu kami semenjak tadi, sehingga kami dapat mengajak kawan lain untuk kemari bersama?” 
“Apa yang terjadi telah meringankan kesedihanku. Pemakaman telah berubah menjadi peristiwa yang membahagiakan. Apakah kalian masih menginginkan nikmat Allah yang lebih besar daripada nikmat ini?”

Beliau mengemukakan bahwa kematian putrinya adalah kecemburuan Allah kepada hatinya. Memang sesungguhnya Allah merasa cemburu  kepada hati para hambaNya yang shalih, apabila sampai terikat dengan selainNya, atau apabila ia berpaling kepada selainNya. Beliau mengambil bukti dalil dengan kisah Ibrahim as. Hati Ibrahim begitu terikat dengan dengan Ismail, sehingga akhirnya Allah memerintahkannya untuk menyembelih putranya, Ismail.

Begitu pula kisah Nabi Ya’qub ketika hati beliau terikat dengan anak kesayangannya, Yusuf. Allah pun membuat Yusuf hilang dari sisinya sekian tahun.

Dahsyat! Satu kata untuk menggambarkan kisah-kisah diatas. Sebuah ujian supaya hati kita tidak terikat selain kepada Allah. Pertanyaannya? Apa sajakah yang telah mengalihkan cinta kita dari Cinta kepadaNya? Pekerjaankah? Kekasihkah? Harta? Atau bahkan Popularitas?

Selamat berkontemplasi
(diolah dari ‘Memoar Hasan Al Banna’)

Iswandi Banna
Twitter iswbanna

3 komentar:

Niswatun Nafi'ah mengatakan...

subhanallah, luar biasa!!!

NF mengatakan...

kisah ini harus dibaca dengan hati yang 'bersih'.. krn kalau cuma selentingan doang akan menimbulkan ambigue, apalagi dibaca oleh orang2 yg tdk senang akan Allah SWT.. nice post :)

Joko Priyono MtiPl mengatakan...

mas mohon share yo,,,

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host