Kamis, 08 Maret 2012

Belajar Bisnis dari Ajib Hamdani

gambar:facebook
Pekan ini masih diselimuti kehebohan rekening gendut yang dikabarkan oleh media. Setelah DW kini muncul nama AH (Ajib Hamdani) yang ternyata sudah lama non aktif dari instansi Pajak. Media begitu rajin memblow up kasus ini. Hingga muncul testimonial bang Ajib dalam blog-nya. Blognya sendiri termasuk kategori yang jarang diupdate. Sebelum namanya mencuat ke media, ia terakhir menulis pada Juni 2011.


Saya tidak berhasrat mengomentari kasus beliau. Ada yang menarik saat membaca satu dari trilogi tulisannya di blog.  Selain klarifikasi terkait kasusnya ternyata terselip pelajaran penting yang bisa kita ambil. Semangat berbisnisnya! Tepat sekali daya juang menjadi enterpreneur memang patut diacungi jempol. Saya pribadi belum sempat mengenalnya meski sama-sama tinggal di Pondok Aren. Berikut cuplikan testimoni Ajib Hamdani tentang perjalanan bisnisnya.

BISNIS, KARYA DARI SEBUAH IDE

Terkadang orang enggan atau bahkan tidak mau menjalankan bisnis karena tidak punya modal. Itu adalah sebuah persepsi yang sangat tidak tepat. Kalau memang hukum tersebut benar-benar berlaku, maka kesuksesan hanya milik mereka yang mempunyai modal.

Bukan, bukan itu yang dibutuhkan dalam sebuah bisnis. Dalam sebuah pengembangan bisnis, yang dibutuhkan ada 3 (tiga)hal. Yang pertama ide, yang kedua jaringan, dan yang ketiga adalah modal. Dan ini berlaku secara berurutan. Ketika kita mempunyai ide dan jaringan modal bisa dicari. Tetapi, disini, ide itu adalah output dari sebuah visi. Bagaimana kita bisa melihat sesuatu yang belum terlihat. Dan jaringan adalah output dari sebuah integritas. Walaupun jaringan kita luas, tetapi misalnya kita tidak mempunyai integritas, jaringan tersebut bukan sebuah jaringan.

Jadi, kalau ada pertanyaan, berapakah angka yang dibutuhkan untuk men-develop bisnis-bisnis Ajib yang ada? Rp0,- (nol) rupiah, itulah jawabannya.

Memang bisa? Bisa. Kalau orang lain melakukan cara yang sama, apakah itu bisa berjalan juga? Bisa.

Bisnis yang dikembangkan oleh Ajib Hamdani, secara garis besar dibagi dalam 3 bidang usaha (mulai tahun 2012, menjadi 4 bidang usaha). Usaha yang pertama adalah industri, bergerak di bidang zinc and allumunium casting. Bendera yang dipakai sekarang adalah PT Alto Star Casting.

Bidang bisnis/usaha yang kedua adalah jasa olah raga, yang meliputi futsal, fitness, badminton dan cafe. Bendera yang dipakai adalah CV Karunia Usaha Sejahtera. Brand yang digunakan adalah Diamondgroup. Bisa diakses di http://www.diamondgroup.co.id.

Bidang usaha yang ketiga adalah properti. Dimulai dengan membangun kamar-kamar kos, kemudian meningkat menjadi konsultan properti untuk ke depannya menjadi pengembang properti. Bendera yang dipakai adalah Zee Property. Bisa diakses di http://www.zeeproperty.co.id.

Bisnis yang terakhir dibuat adalah bidang pendidikan, dengan bendera PT Mitra Bersama Makmur, dengan brand MBMEducation. Informasi bisa diakses di http://www.mbmeducation.net.

MENGUMPULKAN MODAL TANPA JAMINAN

Sebenarnya, yang dimaksud tanpa modal, adalah tanpa modal tabungan kita. Jadi kita bisa mengoptimalkan seluruh potensi, kita mendapatkan fresh money tanpa modal, bahkan kalau perlu tanpa jaminan (collateral) aset.

Dalam hal ini, Ajib bisa mendapatkan pinjaman tanpa asset collateral totalnya sebesar Rp600.000.000,- (enam ratus juta rupiah).

Rincian yang pertama, Ajib adalah PNS Direktorat Jenderal Pajak (waktu itu) golongan IIIA. Dengan posisi seperti itu, maka Ajib bisa mengajukan pinjaman ke BRI sebesar Rp100.000.000,- (seratus juta rupiah), cukup dengan mengagunkan SK PNS.

Tambahan dana yang lebih besar adalah pinjaman dari isteri, atas nama Ratna Sari. Dengan PNS golongan IIIB, maka bisa meminjam dari BRI sebesar Rp200.000.000,- (dua ratus juta rupiah).

Selanjutnya adalah pinjaman atas nama Ratna Sari lagi, sebesar Rp100.000.000,- (seratus juta rupiah) dari koperasi kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), tanpa asset collateral lagi.

BIDANG PROPERTI

Ajib Hamdani mempunyai latar belakang pendidikan di bidang properti. Sewaktu kuliah di STAN, mengambil jurusan Penilai/PBB selama 3 tahun. Kemudian sewaktu kuliah kedinasan di Universitas Diponegoro (UNDIP) mengambil jurusan Ekonomi Spesialisasi Penilai Properti. Di kedua kampus itu, Ajib menamatkan sekolah dengan nilai yang, relatif, bagus. Bukannya untuk sombong, tetapi untuk menunjukkan bahwa memang bidang itulah yang digeluti dan passion-nya di properti.

Dengan mengandalkan ilmu yang didapat waktu kuliah, Ajib merintis usaha di bidang properti. Dimulai dari hal-hal yang kecil. Yaitu membangun kos.

Proyeknya adalah membangun 26 kamar kos di dekat kampus STAN. Wah, hebat membangun kamar kos? Nggak hebat juga. Bisnisnya sih biasa aja. Tetapi, memang idenya yang “sedikit” luar biasa.

Bagaimana memulainya?

Ajib menerapkan prinsip dalam salah satu teori Build, Operate and Transfer (BOT). Yaitu kita membangun sebuah properti di tanah orang lain, kemudian mengoperasikan dan kemudian menyerahkan properti tersebut kepada pemilik lahan pada masa akhir BOT sebagai bentuk kontraprestasi.

Detailnya begini: Ajib melihat ada lahan kosong menganggur seluas sekitar 500 m2. Kemudian Ajib mencari pemilik lahan tersebut, ternyata punya Pak Haji di kampung sekitar lokasi. Kemudian setelah melobi, Ajib berhasil mendapatkan masa BOT selama masa 5 (lima) tahun (tentu saja Ajib menjabarkan konsep BOT dengan bahasa sederhana kepada pemilik lahan). Jadi selama 5 (lima) tahun tersebut, Ajib tidak usah membayar sewa. Cukup membangun kamar kos, bisa mengambil hasil kos selama 5 (lima) tahun, dan pada akhir tahun ke-lima, Ajib menyerahkan bangunan tersebut kepada pemilik tanah sebangai kontraprestasi.

Tanah sudah didapat. Sekarang bagaimana cara membangun kamar-kamar kos yang berjumlah 26? Kembali prinsip investasi dijalankan. Ajib membuat proposal untuk investasi pembangunan kos. Dijual per kamar. Dari 26 (dua puluh enam) kamar, dijual 20 (dua puluh) kamar. Hak investor adalah mendapatkan hak sewa selama 5 (lima) tahun tersebut.

Pemilik tanah mendapatkan bangunan pada akhir tahun ke-lima. Itu sudah sangat bagus. Toh, kalaupun lahannya tidak diserahkan untuk dikelola, belum tentu lima tahun ke depan bisa membangun. Pemilik modal untung, bisa mendapatkan pengembalian investasi yang relatif bagus.

Ajib mendapatkan apa? Pembangunan kamar kos itu sangat menguntungkan. Dari pembangunan 2 kamar, kita bisa mendapatkan 1 kamar tambahan dengan hanya mengeluarkan sedikit biaya. Karena temboknya saling menyambung. Jadi, dengan modal relatif kecil, Ajib bisa mendapatkan 6 kamar.

Everybody happy :)

Demikian paparan singkat tentang unit usaha yang dikembangkan. Berangkat dari sebuah ide yang sederhana, memulai langkah demi langkah, menikmati semua proses termasuk permasalahannya, fokus pada goals dan impian, tetap positif, itulah pesan-pesan klasik yang terus dan harus terus dipegang untuk menjalankan sebuah usaha. Memang tidak mudah, tetapi bisa. Memang akan ada satu dua orang yang mencibir, tetapi akan banyak orang yang bisa tertolong dengan usaha kita.

iswandi banna
twitter iswbanna

 

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host