Kamis, 29 Maret 2012

Keteladanan Tukang Semir Sepatu Mengusik Air Mataku

ilustrasi: google
Sore itu di peralihan siang menuju malam, setelah berjibaku dengan tugas kantor saya beranjak menuju sebuah masjid untuk menunaikan kebutuhan sholat Maghrib. Sholat berjamaah sudah menjadi komitmen saya. Ibarat udara yang kita hirup, sholat telah menjadi kebutuhan yang menuntun jiwa menuju ketenangan. Apalagi berjamaah di masjid.

Selesai bermunajat, saya bergegas pulang. Saat hendak mengambil sepatu, sekelebatan mata terlihat seorang bapak tua lengkap dengan peralatan sol dan semir sepatu. Sejenak saya teringat dengan paras ayahanda di kampung yang mungkin seusianya. Bapak itu pun menatap saya dan tiba-tiba menghampiri. Dengan mengiba ia menawarkan jasa semir sepatu.  Tak tega, maka saya pun merelakan sepatu kucel dijamahnya.

Dengan gesit sang Bapak membersihkan noda yang melekat di hamparan sepatu. Tak lupa memolesnya dengan semir berkualitas. Sambil menunggu saya sempat mengobrol hingga tak terasa lima menit berlalu. Seperti disulap sepatu kumel bin kucel berubah menjadi kinclong kembali.

“Berapa pak ..? Tanya saya sambil menyodorkan selembar Rp 10.000,-

“Nggak usah,Nak. Kamu telah menolong Bapak untuk beramal. Uang yang bapak dapatkan sudah cukup, tapi bapak merasa belum bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Dan kamulah  yang sengaja dipilih untuk menjadi ladang sedekah Bapak.” Jawabnya dengan polos

Subhanalloh! Hanya kata itu yang terucap dari lisan ini mendengar penuturan sang Bapak.

“Sekarang Bapak bisa bantu saya nggak?” Tanya saya dengan sedikit gemetar

“Kenapa, Nak..?

“Bapak tolong bantu  untuk menjadi ladang amal saya hari ini. Jadi, mohon terimalah uang ini. Meski tidak seberapa, mudah-mudahan berkah di tangan Bapak.” saya pun berusaha meyakinkannya
“Masih ada ya anak muda seperti kamu, Nak” ujarnya dengan mata berkaca-kaca
 “Justru saya yang berterima kasih karena Bapak telah menegur dan mengingatkan saya akan pentingnya berbagi dan bersedekah.” Saya pun tak tahan membendung air mata yang siap mengalir deras

Kami pun berpelukan untuk saling menguatkan dan mendoakan. Subhanallah! Energi dahsyat telah tercipta di antara kami. Terima kasih ya Alloh telah mempertemukan hamba dengan Bapak tua itu. Semoga sang Bapak diberikan kesehatan lahir batin, dilapangkan rezekinya serta dimudahkan langkahnya meniti fananya dunia menuju kekalnya akhirat nanti.

note: seperti yang diceritakan oleh  bang Satya Fadhil. Terima kasih atas kepercayaannya hingga saya dapat menuliskannya menjadi kisah inspiratif diatas.

Best Regards
Iswandi Banna
twitter iswbanna 

10 komentar:

emon gundul mengatakan...

subhanallah..super sekali.ijin share mas ya

iswbanna mengatakan...

@emon: monggo semoga bermanfaat

dekizugi mengatakan...

subhanallah... semoga masih banyak orang yg berhati mulia seperti bapak di atas... ijin share ya mas...

selffashion mengatakan...

jd mengingatkan kita untuk selalu besedakah dan beramal meskipun taq harus dengan uang.. :")

Fenomena Artis Banci mengatakan...

Wah, mantap ya si tukang semir tuh. kalau ane gk mungkin nolak deh.hehehe

sala kenal, berkunjung dan berkomentar juga ya di blog ane. salam kenal

Abu Fawwaz mengatakan...

Akhi luar biasa ceritanya, ane sampe mengeluarkan air mata! Subhanallah. Orang yang serba kekurangan menurut kacamata kita, malah merelakan hartanya untuk berbagi. Sedangkan kita kadang sangat pelit!

iswbannna mengatakan...

@deki: iya mudah2an banyak yg seperti bapak tsb, monggo dishare

@self: betul sekali makna sedekah

@fenomena: yuk kita sama2 belajar

@abu fawwaz: subhanalloh semoga menginspirasi

Ganiez mengatakan...

ijin share untuk post di blog ana , salan kenal bang

iswbanna mengatakan...

@ganiez monggo silahkan

Anonim mengatakan...

masya Allah. izin share ya mas

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host