Kamis, 24 Mei 2012

Guru Menyelamatkan Siswa Begundal

Seni Pagi Cerah

Lapangan upacara hening. Semua siswa tegang mendengarkan Pembina upacara berkoar-koar. Pak Hadi dengan lantang menyudutkan para pesakitan yang sedang berdiri di depan peserta upacara "SMA Negeri 5 Pondok Cinta". Enam siswa yang seringkali dicap begundal teronggok malu dengan kepala botak dipajang di hadapan 600 siswa-siswi di sekolah. Benar-benar senin pagi yang payah bagi mereka.

Pak Hadi melanjutkan perkataannya,” Lihat anak-anak. Perhatikan keenam siswa kelas XII yang sedang berada di depan kalian. Ini contoh murid-murid yang tidak taat aturan. Ingat jangan ditiru! Bayangkan, saat di kelas mereka terang-terangan merokok. Jelas guru yang melihat mereka geram dan segera berlari menuju mereka untuk menghukumnya. Ehh mereka malah lari lewat jendela dan kabur melewati gerbang sekolah. Benar-benar tidak tahu aturan.” Siswa-siswi dengan kompak menyahut dengan seruan “Huuuuuu Huuuuu” kepada keenam begundal itu.

-----------------
Sabtu Dua Hari Lalu

Pak Yana guru favorit di sekolah menyambangi kami begundal. Apalah daya, kami telah tertangkap basah merokok di kelas. Konsekuensinya setelah kabur melarikan diri, pihak sekolah dengan sadis mengeyahkan rambut hingga plontos kepala.

Pak Yana mengumpulkan kami di mushola. Beliau memang tipikal guru yang lembut namun tegas plus religious. Komplit deh.
“Sekarang bagaimana rasanya dicap anak nakal?” Pak Yana membuka percakapan
“Sebetulnya risih juga Pak disebut nakal. Tapi, karena terlanjur sudah buruk ya kami pikir ga ada salahnya menjadi buruk sekalian.” Dino menjawab dengan lantang
“Saya ga suka pak, Semua guru dengan arogan sering menyudutkan kami dengan slogan-slogan  nakal, bermasalah, bodoh bahkan liar. Kami kan punya harga diri!” Kali ini ketua geng Jaja angkat bicara

“Baik, kalo kalian punya harga diri, maka jagalah kehormatan diri kalian. Caranya dengan tidak berbuat aneh-aneh yang merugikan diri sendiri apalagi sampai mencemarkan nama sekolah. Oleh karena itu, Bapak siap menjadi teman dekat kalian. Asalkan janji ya, komitmen menjadi siswa baik dan taat setelah kejadian ini. Janji?” Pa Yana memberikan pencerahan

“Tapi, tolong kami Pak supaya tidak diadili pas upacara Senin nanti. Kan malu dilihat teman-teman dan adik kelas. Berdiri di depan peserta upacara layaknya terdakwa yang sedang disidang. Kami mohooon ya Pak”

“Baik. Tapi sepakat dengan perjanjian kita, "Kalian harus berubah". Harus! Kalo bukan dari diri kalian sendiri, dari mana lagi?” Pa Yana menyampaikan dengan cool.
“Satu lagi pesan saya, setiap kamis pulang sekolah kalian berkumpul di Musholla untuk mengaji dengan Bapak ya. Jangan lupa!”

“Okey Pak. Sipppp.”
--------

Kembali ke Upacara
Selesai Pembina upacara menyampaikan amanatnya, pa Yana izin mengambil alih mic untuk menyampaikan satu hal penting. “Terima kasih atas waktunya. Saya ingin meluruskan bahwa keenam siswa tersebut sekarang dalam pembinaan saya. Sabtu lalu mereka berkomitmen untuk berubah. Jadi, mohon hilangkan tatapan sinis saat melihatnya.”

“Setiap orang  pasti memiliki kesalahan.Beri mereka kesempatan untuk menghapusnya. Menggantinya dengan kepingan-kepingan kebaikan.” Pa Yana menutup klarifikasinya

Hikmah:
Di kala banyak pihak menyudutkan para pesakitan, Pak Yana justru datang  dengan senyuman menghibur keenam siswa bermasalah tersebut. Hal tersebut yang kini memotivasi mereka untuk berbuat baik.
Well done guys!

Best Regards
Iswandi Banna
twitter iswbanna

terinspirasi dari kisah nyata

1 komentar:

sonyfiffandi mengatakan...

Good Posting... copas to share...

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host