Selasa, 15 Mei 2012

Tobatnya Sang Aktivis JIL

Menarik membaca testimoni Pak Tanto (John Tantowan), seorang aktivis yang sebelumnya tergila-gila dengan konsep Islam Liberal (JIL) dengan segala keanehannya. Kemarin (14/5) di akun twitter-nya beliau membeberkan alasan tobatnya dari lingkaran setan JIL dan membongkar tetek bengeknya. Mencengatkan sekaligus menginspirasi! Bagus buat Anda yang masih berpikiran Liberal dalam memahami Islam juga bagus untuk menguatkan bagi Anda yang sudah bergabung dalam #IndonesiaTanpaJIL. Selamat menyimak.

Jaman sekarang yang melenceng dan sesat itulah yang diikuti. Alangkah sakitnya yang memilih jalan itu. Hanya orang berakal yang mau menerima jalan yang lurus. Rupanya paham liberal dalam Islam ramai dibicarakan di twitter. Saya pelajari akun-akun penggiat liberal dan muncul tanda Tanya besar di pikiran  'kok gitu ya?' Saya semakin menyadari akun-akun  Islam liberal itu mencoba menyesatkan pikiran orang awam. Rupanya jil menyasar kepada orang-orang  yang malas berpikir.

Saya temukan hashtag #IndonesiaTanpaJIL yang luar biasa pergerakannya. Hingga tergoda buat akun twitter karena  itu. Ternyata selama ini saya banyak tergoda bujuk rayu JIL yang menyesatkan. Alhamdulillah saya temukan akun-akun twitter yang memberikan pencerahan.  Saya terkesima ternyata di twitter banyak orang-orang pintar yang memberitakan dan mengajak ke jalan yang lurus. Saya pikir twitter cuma social media biasa.

Saya akui selama ini  terjebak dalam Islam yang liberal. Namun, di twitter ini saya tercerahkan. Ya Alloh ampunilah dosa hamba. Terimakasih twitter dan #IndonesiaTanpaJIL disini banyak orang  hebat yang memegang teguh keislamannya. Saya pasang hashtag #IndonesiaTanpaJIL bukan karena ikut-ikutan, tetapi karena menyadari pemikiran JIL pernah menipu hidup saya. Siapa saja tentu ingin jadi orang baik-baik.  Alloh masih memberikan saya kesempatan hidup yang mungkin tersisa sebentar saja.

Kehidupan saya di mata masyarakat biasa saja, namun keluarga memang terlihat bebas lepas, mau apa saja silahkan. Mau dugem silahkan, mau apa saja silahkan, pokoknya bebas lepas terserah. Tetapi itulah yang membuat saya bingung sendiri. Saya bergaul dengan banyak orang dari beragam komunitas. Rata-rata mereka suka mabuk padahal mengaku Muslim. Itulah awal mula pikiran saya berontak.

Satu saat kawan saya mengajak ikut sebuah acara pesta. Saya asyik saja wong namanya makan-makan gratis. Tapi saya tidak tahu acara apa itu. Acara begitu meriah setiap tamu yang datang diperlakukan layaknya artis. Makanan berlimpah dan kita semua menikmatinya. Di akhir acara semua diberikan bingkisan berisikan buku dan suvenir bertuliskan Rotaract . Saya nggak ngerti itu apa dan tidak peduli. Saya tidak tahu menahu  nama saya tiba-tiba terdaftar sebagai anggota komunitas tersebut. Saya asyik-asyik saja apalagi mereka suka mengadakan acara baksos dsb.

Satu ketika mereka  mengadakan bagi-bagi takjil di bulan puasa. Saya ikut partisipasi dan agak terburu-buru menyelesaikannya karena hendak sholat Maghrib.  Seorang anggota yang jadi pimpinan bilang, “Nanti aja sholatnya ‘kan kamu sibuk. digabung aja dengan isya ‘kan nggak papa lho.” Disitulah saya merasa ada yang janggal. Saya tidak di luar kota dan pembagian takjil juga tidak ribet, kenapa harus dijamak?  Tapi, sayangnya saya manut saja. Ternyata peristiwa itu jadi beban pikiran karena saya merasa dibodohi.

Hingga suatu saat ada kawan yang berkata, “Berislamlah yang liberal, jangan terlalu kaku dan kolot.” Sejak itulah saya mengenal JIL dan tokoh-tokoh  yang dijadikan panutan. Awalnya mereka terlihat 'bening' dan membuat saya kagum. Pemikiran mereka yang 'bebas' seperti mewakili jiwa muda saya saat itu. Saya 'dipaksa' memahami bahwa Islam itu bebas. Bersama komunitas rotaract, saya sering berkumpul. Pernah mereka menawarkan miras, saya tolak karena tahu miras itu haram. Tetapi, anehnya mereka menjawab minum miras boleh asal tidak mabuk.  Saya seperti  merasakan antara ditampar dan dibelai.

Kehidupan saya saat itu bimbang. Pelajaran agama yang diperoleh di sekolah (saya sekolah di  muhammadiyah) kok berbeda dengan yang terjadi di lapangan. Bertahun-tahun saya hidup seperti tanpa agama. Saya menyelidiki ulang JIL kelompok yg saya panuti selama itu. Dalam 'penyelidikan' itu saya mendapati buku “Islam Liberal 101” di rumah sepupu. Wow buku itu hebat, segala 'manis' nya JIL di patahkan di dalamnya.  Sejak itu saya semakin konsen mempelajari JIL. Menyesal karena selama ini saya adalah bagian dari orang-orang  yang disesatkan oleh ajaran JIL.

Saya masih harus banyak belajar, setidaknya #IndonesiaTanpaJIL telah membuka kebimbangan pikiran saya tentang Islam yang benar.

*seperti yang disampaikan John Tantowan dalam akun twitter-nya @PakTanto

Best Regards
Iswandi Banna
Twitter iswbanna

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host