Jumat, 01 Juni 2012

Terenyuh Membaca Reportase Anggota DPR Ini : Save Dina

Semalam dapat kiriman email ekslusif dari Wakil Rakyat yang kerap kali berkunjung ke pelosok  untuk memantau kondisi masyarakat Banten. Ibu Siti Saidah anggota DPRD Banten dari Fraksi PKS. Di tengah segudang aktivitas seperti Sidak pelaksanaan e-KTP di kecamatan Pondok Aren, mengisi taklim, beliau masih menyempatkan diri  menyambangi beberapa pintu rumah anak atau balita gizi buruk Ahad, 27 Mei 2012 lalu.

Support dari anak-anak menjadi penguat langkah beliau. “Ia bunda, nggak apa-apa, berangkatlah..”  ujar anak-anaknya. Terlebih sang suami yang menemani sambil mengemudi menjadi suplemen bagi spirit Ibu Saidah. Suami sudah berkoordinasi di 14 titik rawan gizi buruk yang tersebar di kecamatan wilayah Kota TangSel . Di Seluruh Kabupaten dan Kota di Provinsi Banten mereka bersama ustadz dan ustadzah serentak turun menyambangi anak-anak Banten yang kurang gizi. Pak Bisri lah yang mengantarkan mereka berkenalan dengan Dina.

Berikut Reportase lengkap Ibu Siti Saidah:

Siapakah Dina? Apakah ia orang penting di Tangerang Selatan? Dina hanyalah seorang anak yang memiliki semangat tinggi untuk sekolah. Usianya baru menginjak 12 tahun. Ayahnya seorang kuli kontrak. Kulihat ketika akan berkunjung ke rumahnya, ayahnya sedang menunggu truk pasir lewat, di bahu kanannya memanggul cangkul, di bahu kirinya tergantung sebuah tas usang berisi perlengkapan tukang. Dengan sigap Pak Itang, ayah Dina menaiki truk pasir yang berhenti di tepi jalan raya. Bagaimana dengan ibundanya? Ibu kandung Dina meninggal sesaat setelah melahirkan Dina, ayahnya tak lama kemudian menikah dengan ibu tirinya yang telah merawat Dina dengan sabar. Profesi Ibu Dina adalah menawarkan tenaganya untuk ditukar beberapa rupiah saja.

 Pintu rumah petak kumuh sangat sederhana itu terbuka. Saat kami beruluk salam hanya terdengar erangan kecil. Itu Dina, seru Pak Bisri. Kami pun memencar mencari ibunya yang sedang bekerja di salah satu rumah di sekitar. Lokasi rumah petak keluarga Pak Itang berada di kelurahan Kademangan, kecamatan Setu Tangerang Selatan. Hanya lima menit dari gedung DPRD Tangsel, BLK, yang dekat dengan perumahan mewah serta restoran aneka macam. Miris sekali!

Aku mengelus dada. Rumah petak keluarga Pak Itang amat sempit. Luasnya hanya 1 x 1,75 meter. Dina dibaringkan di lantai semen kusam, dilapisi kain-kain usang dan kasur kapuk tipis. Ia terbaring amat lemah. Wajahnya memerah karena demam tinggi . Bibirnya gemetar mengaduh kesakitan. Sang adik terpekur sedih melihat kakaknya yang tidak bisa diajak bermain. Sang bunda mengusap peluh yang membanjir.

Sebelum sakit, Dina tercatat sebagai murid kelas 5 SD. Hingga satu ketika tiba-tiba ia mengalami panas tinggi sehingga sulit  melangkah. Mulailah Dina kecil mengisi hari-hari panjangnya sendirian mengintip melalui pintu rumah yang dibiarkan terbuka  setahun belakangan ini.

Para tetangga di rumah petak sederhana itu menyayangi Dina. Dengan tulus mereka membantu semampu yang mereka bisa. Hebat! Meski kondisi ekonomi mereka tidak jauh berbeda. Terkadang ada yang membantu menggunting kuku Dina, menyisir rambutnya, memapah keluar untuk melihat indahnya pepohonan yang rimbun bahkan untuk menyuapinya. Begitulah keajegan di lingkungan Kademangan ini.

Pak Itang sudah membawa Dina ke Puskesmas dan diminta oleh pihak Puskesmas untuk segera dibawa ke rumah sakit. Suhu badan Dina terlalu tinggi, melihat kondisi ini khawatir ada penyakit katanya. Aaaaaargh untuk seorang kuli bangunan yang berharap selalu ada proyek pembangunan, membayar biaya berobat ke Puskesmas terasa berat menyesakkan jiwa. Pak Itang hanyalah seorang kepala rumah tangga asal Garut sederhana yang mengadu perubahan nasib di Tangerang Selatan beberapa tahun lalu

Segera kuhampiri Dina, kupegang keningnya. Yaa Allah , suhunya sangat tinggi. Aku berpikir cepat, ya, harus dikompres untuk menurunkan suhunya. Lalu, membujuknya untuk minum. Kugenggam tangannya yang teramat mungil dengan lengan yang kurus hanya belulang dan kulit. Yaa Allah ILlahiy Robbiy, suhunya tinggi sekali, panas tubuhnya seperti menjalar ke seluruh sel darahku hingga mataku perih. Hatiku terasa pilu.  Terlintas ingatan saat anak-anakku sakit. Dina berusaha tersenyum apalagi ketika tisue basah itu kuusap perlahan  keubun-ubunnya. Haaaauuuusss....desahnya. Segera kami ambilkan segelas air dan membantunya untuk duduk.

Ibu Dina berkisah pihak Puskesmas selain memberikan obat-obatan juga meminta Dina makan yang banyak agar cepat sembuh. Tapi perut Dina membesar, Bu.  Saya jadi bingung. Ketika periksa darah katanya sel darah putih Dina banyak sedangkan sel darah merahnya sedikit. Hatinya juga terkena infeksi, katanya karena banyak mengkonsumsi obat-obatan.

Benar! Kulihat memang perut Dina membesar.  Akupun membujuk Dina untuk mau makan dan minum. Dina suka minum susu?  tanyaku. Matanya pun membulat riang, ia pun mengangguk semangat.  Bu Dina berkata lirih, Dina memang suka minum susu, tapi karena kami orang susah, susu tak terbeli. Hatiku terpilin nyeri.

 Dina suka maem biskuit? Biskuit susu loh, eeeenaak banget apalagi dienclom susu hangat. Mau kan sayang? Dina lagi- lagi mengangguk. Ini supaya  Dina kuat mengalahkan penyakit ya, juga bisa berkumpul dengan teman- teman di sekolah. Dina masih mau sekolah kan ? Aku terus membujuknya.
 Iya, mau. Itulah kalimat pertama Dina. Anak ini punya semangat yang tinggi, dia bertahan dari penyakit setahun lebih  di usianya yang baru membilang 12.

Beberapa paket bungkusan susu,biskuit,bubur, beras, buah-buahan dan beberapa botol minyak telon untuk menghangatkan tubuh dinginnya pun berpindah tangan. Persediaan keperluan Dina untuk satu bulan ke depan.

Tiba-tiba Dina merajuk ketika mendengar kami meminta Pak Itang bersedia membawa Dina ke rumah sakit. Kami ingin penyakit yang diderita Dina segera diketahui, diobati dan Dina bisa segera sembuh. Kami pun berbagi tugas, Pak Bisri yang sholih yang akan mengantar ke rumah sakit dan mengurus persyaratan jamkesda. Bu Yulhida dan para ustadz& ustadzah di FPKS DPRD TangSel akan membantu mempercepat  proses birokrasinya. Akupun berencana mengetuk pintu-pintu pengambil kebijakan, mengumpulkan bantuan untuk keperluan Dina berobat dan sekolah kembali.

Tengah hari begitu cepat menghampiri dan mengingatkan kami segera menunaikan hak- hak keluarga ketika azan zuhur memanggil.  Dengan berat hati kami pun pamit. Aku mengusap kembali kepala Dina dengan segenap rasa, menyabarkannya, menyemangatinya bahwa bangku sekolah juga rindu padanya, serta mendoakan kebaikan untuknya.

Aku bersyukur ketika Pak Bisri mengabarkan Dina sudah masuk rumah sakit dan mendapatkan perawatan. Esoknya, datang kabar mengejutkan menginformasikan bahwa  kondisi Dina menurun dan harus segera dilakukan cek darah dan transfusi darah. Sementara biaya harus segera disiapkan agar Dina mendapatkan perawatan.  

Hari berikutnya, kondisi Dina  semakin parah dan pihak rumah sakit pun tidak sanggup menangani . Akhirnya Dina dirujuk ke RSCM.  Hingga BBM dari suamiku membuat hati gerimis deras :

InnalilLahi wa Inna Illahi rajin, telah dipanggil Allah SWT Siti Julianti (Dina) binti Itang,pasien dari Kademangan, Setu, TangSel, di gerbang RSCM hari ini jam 13 45 dalam perjalanan dari RS Tangsel ke RSCM. Kita telah berusaha, tapi semua tak terlepas kehendak Allah SWT.

Akupun menulis dengan hati yang teramat ngilu, innalilLahi wa Inna Illahi rajiun. Baru saja berencana menengok Ananda. Baru saja hendak mengetuk pintu pembuat kebijakan, membuat gerakan 'Save Dina' Ternyata Allah lebih sayang, tubuhnya terlalu mungil untuk melawan panas tinggi yang dideritanya hampir setahun lebih.

Selamat jalan Ananda Dina. Ananda tidak perlu lagi sakit panas dan terbaring sendiri dalam kesunyian. Terima kasih Nak, engkau telah membiarkan tangan ini mengusap kepalamu, mengompresmu, menggenggam jemarimu dan berbagi rasa denganku. Beristirahatlah nak.
Selamat Jalan Dina sayang...

Bintaro, 31 Mei 2012
Mengenang Siti Julianti binti Itang (Dina)
Wafat : 31 Mei 2012 pukul  13.45

My Regards:
Subhanalloh speechless, ingin teriak melihat kejadian tragis ini. Mana pemerintah? Ahh bukan saatnya menyalahkan pihak lain. Do what you can do. Terima kasih Bu Siti Saidah atas perjuangan menyelamatkan Dina. Alloh has saved her then.

Iswandi Banna
twitter iswbanna

8 komentar:

ceria mengatakan...

T_T

emon gundul mengatakan...

T.T
heart touching...

Ayyubi mengatakan...

اِنَّالِلَه وَاِنَّااِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

سُبْحَانَ اللّهُ

Memang bukan saat-a utk saling menyalahkan, namun perlu berapa banyak lagi (mngkn almh Dina satu dr sekian) untuk dapat mengetuk hati mereka !!

اَللّهُ tau yg terbaik untukmu de'..

Dinda Rina mengatakan...

Ya Allah....#speechless...

Berbagi Informasi mengatakan...

Aku juga speechless :(
Ini yang terbaik untuknya, semoga...

terapi qolbu mengatakan...

cerita perjalanan anak manusia

psychologymania mengatakan...

Subhanalllah....,
cerita nyata yang mengharukan

hairul mengatakan...

ijin copas ya mas

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host