Jumat, 08 Juni 2012

Tragedi Tas Ini Hampir Membunuhku

Asyik memang bertugas sebagai panitia sebuah workshop/seminar. Seperti pekan lalu, kami diamanahkan menggarap event ‘Workshop Pengembangan Potensi’ di Pondok Aren. 

Agenda kegiatan cukup padat, mulai pembukaan di pagi hari dan penutupan menjelang ashar. Acara semakin berbobot karena diisi oleh para pembicara yang kapabel di bidangnya, termasuk Pak Kamino yang mengisi di sesi siang.

Panitia dengan cekatan mengurusi setiap kebutuhan peserta maupun pemateri. Sesi siang, Pak Kamino akan memberikan materi di kelas B. Proyektor sudah siap. Laptop  standby. Begitu pula peserta yang mayoritas kaum ibu. Pak Kamino menyampaikan materinya dengan lugas dan penuh analogi-analogi yang ciamik.

Penanggung jawab kelas B, Agus dan Qomar. Meski masih berstatus sebagai mahasiswa mereka telah melanglang buana di blantika per-panitia-an di Pondok Aren bahkan Tangerang Selatan. Mereka siap siaga di ruang sebelah.

Agus : ‘Seru juga ya jadi panitia event ini.
Qomar: ‘Iya Bro. Meski cukup repot juga sih sebelum pembukaan tadi pagi. Setting tempat, urus konsumsi, sampe mengingatkan pemateri. Nah, sekarang waktunya kita rehat sejenak.’
Agus: ‘Bagaimana kalo kita baca Quran dulu sambil menunggu materi di kelas B selesai?’
Qomar: ‘Boljug (Boleh Juga,-red) tuh.’
Agus: ‘Wah! Lupa euy. Mushaf ada di tas laptop lagi. Dan tas ane ketinggalan di kelas B.’
Qomar:  ‘Don’t worry Brader. I’ll take it for you. Di ruang sebelah kan?’
Agus: ‘Yup. Syukron akhi!’
---
Qomar segera masuk ke dalam kelas. Sekilas nampak para peserta dengan seksama menyimak penjelasan Pak Kamino. Setelah senyum ke Pak Kamino, Qomar dengan sigap mengambil tas hitam di dekat proyektor. Ia segera melengos keluar. Anehnya Pak Kamino memandang penuh keheranan ke arah Qomar.

Qomar: ‘Nih Gus, tasnya sudah diambilkeun.’

Agus: ‘Terima kasih ya. You’re such a good brother. Tapi…. lho lho bukan ini bang tas ane.’

Qomar: ‘Lha? Terus ini tas siapa dong?’

Agus: ‘Yang pasti ini bukan tas ane. Jangan-jangan punya Ustadz Kamino lagi?’

Qomar: ‘Wah gawat. Astaghfirullah.’
--

Qomar kembali masuk ke kelas B dengan wajah merah merona. 
Qomar: ‘Maaf Ustadz. Salah ambil tas.’

Spontan peserta yang menyaksikan adegan konyol ini tertawa geli.

Pak Kamino: ‘Lain kali tanya dulu ya. Jangan asal ambil.’

Ucapan ramah Pak Kamino yang singkat dan dalam itu semakin menusuk hingga ke tulang sumsum. Mau ditaruh dimana nih muka? Tragedi tas ini hampir saja membunuhku dengan rasa malu, Qomar membatin.

Qomar: ‘Afwan Ustadz’
Dengan senyum dikulum Qomar menuju pojok kelas mengambil tas milik Agus yang ternyata teronggok di atas meja paling depan.

Semoga bermanfaat

*Terinspirasi dari kejadian nyata
*Nama tokoh disamarkan

Best Regards
Iswandi Banna
twitter iswbanna


4 komentar:

Izinkan Aku Menikah Tanpa Pacaran mengatakan...

Komentar dulu ahhh baru baca ^_^

dinaremasku mengatakan...

hehe...ketawa sendiri..

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

malu bertanya tersesat ambil tas...

*lho??!

jejak pemuda mengatakan...

dimana sesi bunuh-bunuhannya ???
hehehe...

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host