Rabu, 04 Juli 2012

Kisah Inspiratif: Anakmu bukan Anakmu

Menarik memang berbicara tentang perkembangan psikologis dan kematangan anak. Kalau pekan lalu sempat diposting mengenai kelakuan anak kelas dua SD menuliskan cita-citanya yang luarr biasa menggugah (read here). Kali ini inspirasi datang dari remaja usia SMA yang tidak kalah mencerahkan. Ini kisah dari sepasang orang tua yang sedang galau dengan keputusan sang anak:

Seperti kebanyakan keluarga, bulan Mei dan Juni adalah bulan yang cukup “memeras” kami sekeluarga. Diperas tenaga sudah pasti, diperas isi kantong sudah menjadi kewajiban, diperas pikiran merupakan kepastian sebagai orang tua. Jika dahulu kami tidak merasakan betapa beratnya Bapak dan Simbok pontang panting mencari utangan untuk biaya sekolah. Jika dulu di kampung Bapak harus menjual sapi atau kambing untuk biaya sekolah  ke kota, maka sekarang kami harus melakukan ‘adjusment’ di sana sini untuk menyiasati pengeluaran awal tahun ajaran baru.

Meskipun prestasi pelajaran anak biasa-biasa saja namun tetap menjadi anak kebanggan. Kami berusaha untuk menjauhkan “perbandingan-perbandingan” dengan Mas Izzat anak rekan kantor  yang sejak SD sampai lulus SMA selalu menjadi bintang kelas.

Kami selalu berusaha untuk memberi sanjungan atas apa yang sudah berhasil diraihnya, meskipun tidak menjadi juara namun Rayhan pernah mewakili sekolahnya dalam lomba atletik cabang  lempar lembing dalam rangka Sumpah Pemuda tingkat Kabupaten, keberhasilannya masuk finish sudah cukup membanggakan. Saat ditanya apa yang membuatnya tertarik dengan lempar lembing, jawabannya singkat saja “saat mengayun , melempar lalu menancap jatuh ke tanah seperti membuang kekesalan jauh-jauh”.

Sejak kecil tidak seperti anak laki-laki pada umumnya, di sekolah Rayhan termasuk anak pendiam.  Ini yang membuat sebagian besar rekan tidak percaya  jika Rayhan adalah anakku. Sambil bergurau mereka selalu mengatakan jangan-jangan salah ambil bayi  waktu di Rumah Sakit Bersalin. Sangat berbeda dengan gayaku yang sejak SD hingga SMA tidak pernah bisa diam baik di dalam maupun luar kelas. Sedangkan Rayhan sebaliknya, saat teman-teman asyik bermain bola di halaman sekolah, ia lebih senang menjadi penonton.
Pernah sekali kutanya saat rapat POMG sewaktu Rayhan SD,

“Mas Rayhan gak seneng maen bola bareng temen-temen ?? ” 
“ Enggak Pak, ntar bajuku kotor dan bau keringat ntar pas belajar habis istirahat gerah terus gatal-gatal ”

Aku kaget dengan jawabannya, namun kejujurannya dalam berbicara dan bersikap serta ketegasannya dalam menentukan sebuah pilihan patut aku acungi jempol. Seperti saat akan Ujian Kenaikan Kelas kemarin, Rayhan yang selama ini belajar di boarding school minta ijin untuk masuk jurusan IPS. Di hadapannya kami berdua sebagai orang tua hanya bisa mengiyakan saja. Namun sesampai nya di rumah istriku langsung mengajukan “hak interpelasi” seperti anggota dewan yang terhormat.

“ Mas ikhlas kalau Rayhan masuk jurusan IPS?”
“Lha memang kenapa kalau masuk IPS?”
“Lha keinginannya masuk jurusan arsitek tertutup dong Mas?”

Meskipun di depan istri aku bisa beradu argument tentang “pembiaran” pilihan Rayhan masuk jurusan IPS, namun dari bahasa tubuhku tidak bisa bohong  sehingga  berimbas kepada kesehatan tubuhku. Alat ukur tekanan darah langsung “bereaksi” memberi jawaban. Hasilnya sungguh di luar dugaan 190/110.

Bakat menggambar Rayhan sepertinya mengalir dari  Ibu mertuaku. Menurut kami itu salah satu modal berharga untuk menunjang bakatnya masuk jurusan arsitektur. Namun manakala Rayhan berbalik 180’ dari jurusan eksakta ke jurusan social membuat kami kebingungan. Apalagi notabene kami berdua saat SMA masuk di jurusan IPA, menambah kalut pikiran.

 “Aku ingin terjun langsung ke masyarakat, aku ingin kerja seperti Om Imam anaknya Mbah Hasyim yang kerja di LSM itu, sepertinya asyik dan enak tidak terikat jam kantor dan menjadi pembela kaum marginal, membela rakyat kecil yang selalu kalah dengan aparat, yang selalu kalah dengan para birokrat kotor makanya aku mau masuk IPS terus nanti kuliah di Fakultas Hukum”

Begitu antara lain bunyi sms yang aku terima dari Rayhan.

Menghadapi kejanggalan ini akhirnya kami berdua “mengadu” kepada Ibu kami.  Meskipun hanya seorang perempuan ndeso dan lulusan SMP namun kami yakin beliau akan mampu memberikan jalan keluar terbaik.
“Kalian ini memang orang tua  kekanak-kanakan. Kalau memang anakmu minat di bidang sosial dan berbeda dengan kalian, apakah salah? Tentu tidak khan. “ komentar ibu 

Beliau melanjutkan
“Dengan ketidakikhlasan kalian justru bisa berakibat buruk pada anak kalian dalam belajar. Kalau Rayhan memang ingin aktif di LSM, mbok tinggal diarahkan saja kepada LSM rekomendasi. Dan yang paling penting adalah jaga kesehatan kalian.  Kalau kalian sakit, siapa yang akan mengurus anak-anak? Jadi ikhlaskan saja pilihan Rayhan asal ia bertanggung jawab dengan pilihannya.”

Bonus puisi karya Kahlil Gibran

ANAKMU bukan anakmu !

“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap

Thanks to Pak Ardani atas kisah inspiring-nya

Best Regards
Iswandi Banna
twitter iswbanna


2 komentar:

Rumah Al Banna mengatakan...

bener sekali pak, sebagai orang tua hanya bisa mendidik dan mengarahkan, akan tetapi tetaplah si anak yg menentukan tujuan dia mau kemana

Going the Extra miles mengatakan...

hanya ingin berbagi :
dulu saya korban ambisi saya ingin masuk IPA karena modal gengsi liat teman2 masuk IPA, padahal saya tidak di ijinkan pihak sekolah untuk masuk IPA, tapi akhirnya saya dan ortu memohon agar bisa masuk IPA saja, dan akhirnya diperbolehkan, dengan bersyarat,jika nilai saya semakin jelek maka akan dimasukan kembali ke IPS.
tp kini saya hanya bisa menyesal, karena prestasi saya tdk kunjung membaik. kini saya kuliah yg berkaitan dg IPA, tp IPK pun pas-pas an.

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host