Kamis, 13 September 2012

A Tribute to STAN: Antara Kuliah, Sepeda, dan Perjuangan

Tahun ini resmi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tidak membuka penerimaan mahasiswa baru untuk tahun akademik 2012/2013. Kebijakan yang terdengar tidak populis memang, karena tercatat sudah dua tahun berturut-turut kampus kedinasan ini tidak membuka ‘kursi’bagi lulusan SMA sederajat untuk Diploma III.  Bisa dicek di pengumuman resminya disini.

Sambil menunggu pembukaan kembali tahun depan (semoga), yuk kita simak kisah seorang sahabat yang berjuang menamatkan studi-nya di kampus yang terkenal dengan sistem DO (Drop-Out)-nya ini:

Pertengahan 2002

Senangnya bisa menjadi bagian dari kampus Idaman, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Jujur, alasan ikut seleksi penerimaan STAN adalah karena “gratis”, tak ada pungutan biaya dari pihak kampus selama perkuliahan. Pastinya, tidak akan membebani kedua orang tua di kampung. Untungnya lagi, ada saudara di dekat Jurangmangu yang bisa ditumpangi selama kuliah. Tak perlu lagi keluar biaya untuk membayar kos/kontrakan.

Berikutnya, saya harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan hidup selama di Jakarta. Kendati ‘nebeng’ dengan saudara, mereka tak mungkin memberikan banyak ‘amunisi’ untuk bertahan selama kuliah. Kondisi orang tua, bisa ku mahfum dengan kondisi mereka. Namun, saya tetap bangga dengan mereka yang telah mendidik hinggaseperti ini.

Minggu pertama

Studi Perdana Memasuki Kampus (Dinamika), sebuah kegiatan orientasi yang diadakan BEM kampus mengharuskan kami membawa macam-macam barang. Lagi-lagi Tuhan memberikan ujian bagaimana mendapatkan barang-barang tersebut. Dengan segala rasa saya lalui acara demi acara selama DINAMIKA. Bagaimanapun, saya bersyukur bisa merasakan euforia maba miba (mahasiswa mahasiswi baru) untuk mengenal kampus tercinta.

Minggu-minggu berikutnya

Alhamdulillah ada seorang pensiunan di kompleks belakang rumah kontrakan, yang tahu kalau saya berhasil masuk STAN. Beliau bersikap begitu simpatik, apalagi saya berasal dari keluarga yang sederhana. Yang menarik dari beliau adalah pribadi yang begitu ramah, cerdas, dan dermawan. Sampai akhirnya beliau memutuskan untuk membelikanku sepeda ‘federal’ sebagai moda transportasi pribadi ke kampus. Hal ini amat membantu saya untuk menghemat pengeluaran.

Ternyata, bersepeda asyik juga ya. Sesampainya di kampus, saya langsung menuju ke tempat parkir, mampir dulu di toilet security untuk mengganti kostum. Sengaja dari rumah memakai kaos dan jaket. Kemudian menggantinya dengan kemeja yang saya bawa dari rumah.

Tahun kedua

Indahnya kuliah di kampus jurangmangu ini. Alhamdulillah secara akademik tahun pertama berhasil dilalui dengan hasil yang memuaskan. Ditambah sudah punya link rekan-rekan satu angkatan. Saya pun sudah terlibat dalam beberapa kegiatan yang bisa menyalurkan energi muda saat itu. Tapi, ada satu hal yang selalu memotivasi saya yaitu saat ikut di Mentoring kampus. Bisa mengenal MBM (nama masjid di kampus) adalah sebuah anugerah. Mereka mengenalkan bagaimana menjadi pemuda muslim yang tangguh dan berprestasi.

Tahun ketiga

Kuliah tetap menjadi prioritas. Alhamdulillah sumber dana sudah dapat saya hasilkan sendiri dari kerja sampingan, yaitu mengajar les privat ke anak-anak SD maupun SMP door-to-door. Tinggal mengatur kembali fokus antara Belajar, Mengajar (mencari nafkah diri) dan Amanah organisasi/kegiatan.

September 2005

Berakhirlah tiga tahun perjuangan akademik maupun non akademik di kampus Jurangmangu. Saat diwisuda oleh Menteri Keuangan dan berhak mewakili jurusan untuk menjadi salah satu lulusan terbaik. Kedua orang tua menangis terharu saat anak kampung seperti saya berhasil menamatkan kuliah D-III nya di kampus ini. Batin saya berkata semoga perjuangan yang selama ini bermanfaat, berkah, dan membuat Alloh Ridho. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aaalamiin.

Terima kasih untuk sahabat yang telah berbagi cerita.

Best Regards
Iswandi Banna
twitter iswbanna

4 komentar:

Monika Yulando Putri mengatakan...

sedih dan nyesek rasanya mas...

btw saya ijin pake judul A Tribute to STAN juga ya mas (judulnya nanti A Tribute to STAN : Bukan Sekadar Kampus) buat tulisan saya, lagi nyiapin tulisan...

kampus ini bener2 tak terlupakan, pengen banget bisa ngajar di sini, dan sepertinya ga akan bisa kesampaian klo benar2 ditutup seterusnya :(

iswbanna mengatakan...

@monika: iya monggo silahkan ditulisa ya a tribute to stan. btw, mulia sekali dgn bebrgai ilmu di STAN, mantabs

.... panggonku sambatan .... mengatakan...

juga sempet ngalamin gimana rasanya hampir di-DO (bener2 bikin jantungan saat itu)
bayangin aja...dengan nilai minimal banget 56 u/ matkul Akuntansi Keuangan Menengah dan IP mepet 2.75, lolos dari 'lubang jarum'. Teman2 yg nilainya 55 kena DO tanpa ampun....walopun IP diatasku. Alhamdulillah gak henti2nya aku bersyukur... gak tau deh kalo sampe DO mau ditaruh dimana mukaku ini hehehehe,,,,, I love STAN!

soerip mengatakan...

Tulisannya ditambahin lagi mas, terus diajuin ke tim alumni yang mau bikin buku bunga rampai stan, siapa tahu masuk.

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host