Senin, 10 September 2012

Kisah Murid 'Durhaka' Menggotong Keranda Sang Guru

Bisa Anda bayangkan ada seorang murid yang telah dibina oleh sang guru secara spiritual, emosional dan leadership akhirnya memilih memisahkan diri darinya karena perbedaan pandangan. Hal ini tejadi di Turki, kisah dua orang hebat yang pernah menjadi sebagai Perdana Menteri, Erbakan (sang guru) vs Erdogan (sang murid).

Ketika partai besar di Turki (Refah,-Red) pecah, terjadi friksi di kalangan aktivis islami. Kelompok muda reformis Erdogan menginginkan demokratisasi di internal partai, sementara kelompok tua merasa nyaman dengan gaya kepemimpinan sang Hoca (guru spiritual) Erbakan. Hingga akhirnya kaum muda mendirikan kendaraan politik baru Partai Keadilan dan Pembangunan (Adalet ve Kalkinma Partisi-AKP).

Uniknya, AKP sebagai parpol baru meraih suara terbesar 34% di pemilu 2002 mengalahkan jauh partai kaum tua besutan sang Hoca, Erbakan. Pasc-Pemilu bahkan hubungan Erbakan dengan Erdogan semakin merenggang. Erbakan dikabarkan enggan menemui Erdogan hingga beliau wafat. Pendirian AKP seolah menjadi puncak kemarahan sang Hoca atas diri sang murid, Erdogan. Bahkan dalam sebuah wawancara di tahun 2007, Erbakan menyebut Erdogan sebagai produk gagal tarbiyah (pendidikan islam) madrasah Milli Gorus.

Meskipun dicap ‘durhaka’ oleh sang Hoca, Erdogan ternyata menyerap semua ide Erbakan dalam memerintah Turki, kecuali dalam hal gagasan politik. Hubungan Erbakan dan Erdogan bisa dikatakan unik antara sang guru dengan muridnya. Erbakan sangat kecewa dengan langkah politik Erdogan yang meninggalkan madrasah dan partai yang didirikannya. Karena itu, dia dijuluki pengkhianat.

Ini dia bagian yang paling menarik. Saat sang Hoca wafat (Februari 2011), Erdogan segera memperpendek lawatannya di Jerman dan membatalkan pertemuan dengan Presiden Uni Eropa untuk menghadiri pemakamannya. Dalam pesannya, Erdogan menyebut Erbakan sebagai guru dan pemimpin teladan bagi generasi muda karena perjuangan dan prinsip yang dipegangnya.

Di tengah lautan manusia yang menghadiri pemakamannya, Erdogan menunjukkan kecintaannya kepada sang Hoca dengan ikut memanggul keranda Erbakan bersama rekan sejawatnya Abdullah Gul menuju tempat persemayaman terakhir. Subhanalloh, ini menunjukkan kedewasaan dan kematangan Erdogan. Such a touching moment. Bahkan, dikabarkan Erdogan menggunakan nama depan sang Hoca menjadi nama anak lelakinya.

Silahkan diambil hikmah sebanyak-banyaknya dari kisah nyata diatas.

(diposting setelah mengikuti bedah buku dan diskusi “Kebangkitan Pos-Islamisme: Analisis Strategi dan Kebijakan AKP Turki)

Best Regards
Iswandi Banna
Twitter iswbanna

Referensi:
Buku “Kebangkitan Pos-Islamisme: Analisis Strategi dan Kebijakan AKP Turki” (2012)   

Foto:
sulekha.com

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host