Jumat, 03 Januari 2014

Perjuangan Muslimah Batam Melawan Pemerkosa


Satu lagi kisah perjuangan seorang muslimah mempertahankan kehormatannya. Tergugah membaca tragedi Batam berikut ini:

Dikabarkan dari Islampos.com, Sabtu sore (28/12/2013), pukul 17.00 WIB, seorang muslima Juni Esti Siregas (24) pulang dari tempat pengajiannya menggunakan sepeda motornya. Ia seorang karyawan PT. JMS Batam. Salah satu kegiatan pekanan Juni adalah aktif mengisi mentoring ke pelajar Sekolah Menengah di kota Batam setiap pekannya. Juni adalah sosok muslimah aktivis yang lembut dan ramah.

Tempat pengajian Juni di daerah Tiban, dan rumahnya di Tembesi, Batu Aji. Berpikir bahwa saat tidak ada agenda lagi, entah kenapa, tiba-tiba Juni terpikir untuk mencoba jalur baru menuju rumahnya. Lama berjalan, Juni sadar bahwa ia tersesat. Selidik punya selidik, ia malah hampir ke Pelabuhan Sekupang.

Saat itu hanya ada dua orang yang berada di sekitar tempat ia tersasar. Satu bapak berambut panjang dan satu lagi seorang pria yang mengendarai sebuah motor. Merasa ada orang, Juni memberanikan diri menyapa pria yang tengah menyalakan starter motornya itu.  “Kalau mau ke Batu aji belok mana, ya? Ini udah buntu ya?”

Si Abang mendelik. “Iya, ini udah buntu. Batu aji dimananya?”

“Daerah Tembesi,” jawab Juni.

“Oya udahlah bareng. Saya juga deket daerah itu, deket pom bensin Melati Subur,” ajak si pria itu.

Jadilah Juni mengikuti abang tersebut. Ia mengendari motor di belakang si abang. Sepanjang jalan, pria itu kerap bertanya. Menurut Juni, pria ini termasuk ramah, sehingga tak pernah terbersit sedikitpun ada pikiran yang bukan-bukan di kepalang.

Lama menyusur jalan, Juni sadar, mereka sampai di daerah Tanjung Riau. Juni tak tahu sama sekali tentang daerah mana. “Bang, kok belum nyampe-nyampe juga? Saya pernah dulu nyasar ke Sekupang, ada ini ada ini, ada kuburan Kristen, koq sampe sekarang belum jumpa juga, lama kali, kan udah jauh kan, udah sunyi lagi?”

Si Abang menjawab, “Oh, mau gak motong?”

“Motong? Dari mana?”

Pria tersebut menunjukan jalan menuju seperti hutan. Juni mulai curiga. Ketika memasuki daerah itu, setelah agak jauh, Juni bertanya, “Bang, kok sunyi?”

Si abang menghentikan motornya, dan menahan laju motor Juni. Pria itu mengeluarkan sebuah gunting. “ Turun!!! Mau mati atau mau hidup?”

Juni terkesiap. “Kenapa Abang ini? Bicara baik-baiklah Bang, kalau mau motorku ambil, mau handphoneku, ambil…”

Pria itu tak menjawab. Malah dengan satu sentakan yang keras, ia menarik jaket Juni. Juni berontak. Ia diseret lelaki itu. Selintas Juni berpikir, pria ini hendak memerkosanya.

Pria itu terus menyeret Juni, dan berusaha untuk membuka helnya. Merasa gelagat sudah tidak beres, Juni berusaha bangkit, dan sebisa mungkin memukul orang tersebut. Ia berusaha meraih kayu untuk memukul si lelaki yang sudah beritikad tidak baik tersebut. Tapi sia-sia. Tenaga lelaki itu terlampau besar untuknya.

Lelaki itu berhasil mempreteli jaket yang dikenakan Juni. Tapi tidak baju gamis lebarnya. Ia menyekap Juni. Juni terus berontak, dan menjerit-jerit. Kesal, si lelaki itu memukul Juni sekuat tenaga. Juni menggeloso ke tanah, dan pura-pura pingsan. Si lelaki menyangka Juni betulan pingsan. Ia menjadi agak lengah, sementara Juni berdoa dalam hatinya, “Ya Allah, ini makhlukMu,… janganlah matikan aku di tempat seperti ini dengan cara yang seperti ini.” Juni terus berdoa tiada henti. Juni mengumpulkan tenaga dan dengan sebat, sambil berterak keras “Allahu Akbar!”, Juni menendang si lelaki. Juni tidak tahu bagian mana yang ia tendang.

Si lelaki beringas kembali. Ia kembali menodongkan gunting ke arah Juni. “Kamu mau mati ya?”

Juni menukas, “Lebih baik aku mati!”

Si lelaki merangsek dan menusukkan gunting itu beberapa kali ke perut Juni.  Tapi ajaib, ketika itu, Juni tidak merasa sakit, dan tak ada darah yang keluar dari perut Juni. Melihat itu, si lelaki tambah beringas. Diarahkannya gunting itu ke leher Juni. Digesek-gesekkannya sebat. Juni berusaha melindungi dengan tangannya sambil bertanya-tanya dalam hati,  “Ya Allah, udah putus belum ya urat leherku ini…”

Juni bisa bangkit. Si lelaki kalap. Mungkin karena Juni ternyata masih belum mati juga. Juni sendiri tidak merasakan apa-apa lagi. Yang ada di kepalanya hanya satu, ia berdoa agar ia selamat dan tetap terjaga.

Si lelaki yang geram kemudian menerkam Juni dengan sambil tetap menusukkan guntingnya ke seluruh tubuh Juni. Juni terjerambab. Ia meronta-ronta. Sekarang, ia merasakan mulutnya berdarah. Ia terus meronta-ronta.

JUNI terjengkang kembali. Menggeloso di tanah. Tak bergerak. Si laki-laki tampaknya menyangka Juni sudah mati, dikarenakan tusukan dan pukulan sudah bertubi-tubi mencabik tubuh Juni.

Entah dapat pikiran dari mana, Juni perlahan bangkit, berdiri dan menghampiri si lelaki itu. “Aku hidup kembali…” geram Juni pada lelaki itu.

Tanpa dinyana, si lelaki itu terlihat jelas ketakutan. Juni sendiri berpikir ketika itu ia sudah mati. Ia dengan jelas bisa merasakan bahwa muka dan tubuhnya dipenuhi darah. Giginya sudah tanggal di beberapa bagian, dan akibatnya penglihatannya juga kabur, sama-samar.

Si lelaki berlari. Juni mengejar. Seluruh tubuh Juni sudah dipenuhi dengan darah. Tangan, rambut, muka, dan kaki Juni dibaluti warna merah.

Ketika si lelaki sudah kabur, Juni duduk menggeloso, lemas dan lemah. Ia mencoba meraih tasnya, namun susah karena tangannya berlumuran darah. Pun begitu ketika akan meraih telepon selulernya. Dengan sekuat tenaga, ia meraih, dan berhasil.

Biasanya, sinyal ponsel di daerah itu selalu jelek, namun saat itu, mungkin dengan izin Allah, tidak ada gangguan. Juni langsung mencoba menghubungi kawannya yang terdekat.  Tapi tidak bisa karena tangannya penuh darah.

Juni diam. Ia tidak bisa melihat. Dan sejenak, samar-samar dan jauh, Juni terbayang, siapa yang akan menemukannya di situ? Sepuluh menit berlalu, dan pikiran Juni juga tidak bisa mengenyahkan bayangan jika lelaki jahat itu datang kembali.

Juni berusaha bangkit. Ia berusaha mencari jilbabnya. Alhamdulillah, ia menemukannya. Namun ia tidak berhasil menemukan jaketnya. Dalam kondisi antara sadar dan tidak, yang ada dalam pikiran Juni adalah, ia akan segera keluar dari hutan, dan mungkin bertemu dengan orang banyak, sehingga ia harus mengenakan penutup auratnya.

Keluar dari hutan, Juni terus berjalan, namun hanya beberapa langkah, tenaganya habis. Ia terduduk.

Ketika itu, lewatlah seorang anak laki-laki tanggung. Tentu anak laki-laki itu kaget. Namun Juni berusaha meminta tolong untuk menelepon orang-orang penting lewat ponsel milik Juni.

Beberapa saat kemudian, berdatangan orang-orang. RT setempat berusaha mengamankan motor Juni dan ia dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Polisi Batam sampai sekarang tengah mengusut pelaku. Keluarga Juni berharap pihak kepolisian segera mengusut tuntas kasus ini agar tidak memakan korban lainnya.

Kamis (2/1/2014), Juni sudah bisa pulang ke rumah. Sekitar satu pekan ia dirawat di rumah sakit.

Mari kita doakan kesembuhan untuk Juni
Untuk para muslimah, lebih berhati-hati ya berkendaraan di malam hari

Best Regards
Iswandi Banna

Twitter iswbanna

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host