Rabu, 10 November 2010

HAPUSKAN PERGURUAN TINGGI KEDINASAN !!! (STAN, DKK) ! ---> What???

Membaca tulisan di kompasiana, dengan judul provokatif diatas, saya langsung berpikir ahh sudah basi, paling-paling menghujat, atau mencerca. Tapi, ternyata setelah membaca tulisan ini, lumayanlah untuk meng-counter isu-isu yang seringkali menyudutkan Sekolah Tinggi Kedinasan.






Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) merupakan sekolah tinggi yang sengaja didirikan untuk mempersiapkan tenaga kerja (PNS) yang kelak akan dipekerjakan di berbagai kementerian maupun lembaga tinggi lainnya. Di Indonesia terdapat banyak sekali PTK yang telah didirikan, antara lain Akpol, Akmil, STAN, IPDN, STIS, AMG, STSN (untuk lebih lejas mengenai profil PTK tersebut, silahkan googling), dan lain-lain. Sempat beberapa kali kasus yang dilakukan oleh alumni kampus-kampus ini menyeruak ke publik. Antara lain kasus korupsinya Gayus Tambunan alumni STAN dan penganianyaan sesama mahasiswa IPDN.

Naas sekali nasib PTK-PTK  ini, ibarat kata karena nila setitik rusak susu sebelanga. Akibat beberapa oknum yang mencemarkan nama almamater ini, maka banyak orang awam yang menilai buruk PTK tersebut dan bahkan menuntut PTK itu agar dibubarkan dan meminta agar penerimaan PNS hanya melalui tes CPNS. Banyak yang bilang, “Hapus STAN karena STAN pencetak korupsi!!”. Baru satu orang yang terbukti korupsi kok dibilang kampus koruptor??

Berikut sekedar mengingatkan nama-nama orang yang pernah dituduh melakukan korupsi dan asal perguruan tingginya :

Abdullah Puteh, Mantan Gubernur Aceh, Insinyur Teknik Planologi di ITB melakukan korupsi dalam pembelian 2 buah helikopter PLC Rostov jenis MI-2 senilai Rp 12,5 miliar. Dipenjara di Rutan Salemba, 7 Desember 2004,

Laksamana Sukardi, sarjana Teknik Sipil, Institut Teknologi Bandung 1979 terkait dugaan korupsi dalam penjualan dua kapal tanker VLCC Pertamina, kerugian negara mencapai hingga merugikan negara hingga US$ 54 juta

Fadel Muhammad, insinyur dari Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1978. Ybs menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengucuran dana sisa lebih Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2001. Nilai dana itu sebesar Rp 5,4 miliar

Muhammad Iqbal, (mantan anggota KPPU) Alumni Teknik Industri Institut Teknologi Bandung 1981 menerima uang yang diduga uang suap senilai 500 juta Rupiah dari Presiden Direktur PT First Media Tbk. Billy Sindoro

Nazaruddin Sjamsuddin, sarjana Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia pada tahun 1970 korupsi dalam pengadaan asuransi kecelakaan diri sehingga merugikan keuangan negara Rp 5,03 miliar

Mulyana Wira Kusumah (MWK), dosen kriminologi Universitas Indonesia (UI), terkait kasus penyuapan terhadap pemeriksa BPK
Widjanarko Puspoyo, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta (sarjana muda, 1973), Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia untuk Corporate Planning (1983), terganjal dugaan kasus sapi impor fiktif senilai Rp 11 milyar

Burhanuddin Abdullah, Mantan Gubernur Bank Indonesia . sarjana pertanian lulusan Universitas Pajajaran (Unpad) Bandung (1974) terpidana korupsi aliran dana Rp 100 miliar untuk anggota DPR dan penegak hukum.
Rokhmin Dahuri, guru besar tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), yang dulunya lulusan Sarjana Perikanan (1982) dan Magistar Sains Bidang Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (1986). Ia tersandung korupsi dana nonbudgeter DKP dan dihukum 8 tahun.

Irawady Joenoes, lulus dari fakultas hukum Universitas Sriwijaya tahun 1967, Mantan Anggota Komisi Yudisial . Terbukti menerima uang Rp 600 juta dan 30.000 dollar AS dari Freddy Santoso. Dijatuhi hukuman delapan tahun penjara pada 14 Maret 2008

Urip Tri Gunawan, Jaksa lulusan Fakultas Hukum (FH) Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, terganjal Kasus dugaan suap sebesar US$660,000.

Dari beberapa nama tersebut, terbukti ternyata banyak sekali koruptor yang justru bukan berasal dari PTK. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang merupakan dosen di PTN. Jika STAN dikatakan pencetak koruptor karena GT, dan banyak yang menuntut STAN agar ditutup, apakah perguruan tinggi lain yang alumninya koruptor harus ditutup semua? dengan begini mungkin semua perguruan tinggi di indonesia harus ditutup.

Merekrut PNS baru dengan tes CPNS justru dianggap beberapa kalangan sebagai jalan terbaik untuk menghilangkan budaya korupsi (yang seperti meraka tuduhkan).

Tes CPNS??? Sejujurnya sejak kecil saya sering bertanya-tanya, apa yang menyebabkan sarjana pertanian bisa kerja di kantor keuangan? Kenapa sarjana perikanan bisa bekerja di badan kepegawaian? Kenapa bahkan sarjana teknik kimia bisa menjadi pegawai kejaksaan? Bukankah seharusnya kita bekerja sesuai disiplin ilmu yang kita pelajari? Tapi dengan tes megadasyat ini, semua bisa terjadi. Bukan rahasia umum lagi bahwa tes cpns hanya akan meluluskan “orang-orang pilihan” yang terpilih melalui seleksi ketat.

Inikah yang diharapkan sebagian besar kalangan yang menuding-nuding PTK sebagai pencipta korupsi dan segala kelakuan buruk lainnya? Dan pantaskah semakin lama instansi negara justru diisi dengan orang-orang yang bekerja tidak sesuai dengan disiplin ilmu mereka hanya karena mereka sebagian besar merupakan  “orang-orang terpilih yang mampu membayar ratusan juta untuk lulus tes ???

Apa yang terjadi jika saat ini, BMKG yang sedang meramalkan keadaan gunung merapi ternyata mempekerjakan sarjana kedokteran untuk meramalkan keadaan gunung, bukan lulusan AMG yang selama tiga tahun khusus mempelajari geologi dan meteorologi?

~~~Sekarang Indonesia dipandang sebelah mata, bukan karena orang Indonesia bodoh. Tapi karena orang Indonesia gampang terhasut oleh pendapat-pendapat yang justru dia tidak tahu kebenarannya. Sekarang Indonesia dipandang sebelah mata, karena ramai orang Indonesia yang berbicara padahal tidak mengerti.~~~

(penulis Dea Virda Tantriani , alumnus STAN 2010)
dari kompasiana.com

6 komentar:

sandro mengatakan...

sepertinya saya kenal penulisnya..

bangsaid mengatakan...

Wah... ane setuju sekali statement terakhir :

"ndonesia dipandang sebelah mata, bukan karena orang Indonesia bodoh. Tapi karena orang Indonesia gampang terhasut oleh pendapat-pendapat yang justru dia tidak tahu kebenarannya."

iswandi arkan al banna mengatakan...

@sandro: wah kenal sama dea virda dmana>???

@bangsaid: betul bro, saat kita mudah terprovokasi...

Novriansyah Rosyid mengatakan...

ini mah tulisan si dea..wkkk.
bravo FMKI..jayalah PTK

isw_banna mengatakan...

@novri: wah kenal dea toh?

✿ Asian Fanatics ✿ mengatakan...

menurut sy mereka2 yg bekrja di disiplin ilmu yg berbeda it krn mereka jg diajari mt kul lain.. semisal jur pertanian bs kerja di bank.. itu krn di pertanian tdk hany diajrkn ttg pertanian doank tp jg ada makul lain sprt statistika, matematika bahkan jg diajarkn ttg kimia..
begitu jg di jurusan lain.. hal itu dilakukan untuk mempermudah mencari lap. pekerjaan.. jd menurut sy tes cpns tdk semua pesrtany melakukan suap ..

dan statmnt yg menyatakn satu orng yang berbuat tp almameter yg kena it sy setuju.. moral bngsa rusak bukan krn almameter yg mendidik mereka tp karena diri mereka sendiri... seharusnya pmrnth lebih tegas dlm menindak korupsi. misal dg memberi hukuman mati pd koruptor...

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host