Selasa, 10 Januari 2012

Pensiun Dini? Would You?

gambar: google
 
Ada cerita menarik yang ditulis oleh salah satu sesepuh di DJBC. Siapa lagi kalo bukan pejabat dengan bakat fotografi yang mumpuni, moderator andal, terakhir ternyata beliau memiliki talenta  menulis, Bapak Ardani.
Tulisan ini juga bisa menjadi bahan perenungan bagi para PNS se-nusantara yang berniat untuk menuju 'Golden Shakehand' alias pensiun dini. Check this one out!

--------------------------------

“Pensiun dini, pensiun dini…..Yess pensiun dini..!!!” hayo siapa mau ikut..?” kata Fawzi  rekan bus jemputan kami. 

Bus jemputan seolah-olah menjadi rumah ketiga kami setelah Rumah-Kantor-Bus. Fawzi memang meiliki bakat provokasi termasuk menjadi Moderator setiap akhir pekan membahas isu isu teraktual di Kantor. Lumayanlah sebagai penghilang rasa stress macet di jalan.

Meski tidak satupun dari kami yang tinggal di Bintaro, entah mengapa armadaJemputan ini dinamakan Bus Jemputan Bintaro. Padahal, hampir semua penumpang berdomisili di pinggiran Jakarta, di Kota Tangerang Selatan.

“Saya Mau!!" tiba-tiba Bu Yani seorang istri pejabat berkomentar. Sebagai informasi Bu Yani termasuk penumpang setia meskipun sebetulnya beliau bisa saja memakai sopir pribadi. Thanks bu atas supportnya.

“Ayo siapa lagi..?” sumbu kompor Fawzy mulai menyulut kami

“Mas Fawzy, saat mengisi Quisionare kemarin besaran pesangon maksudnya bagaimana  ya?” Cecar Rahmat menantu kesayangan Pak Malik imam masjid Assaadah di Komplek Safari Indah.

"Saya isi nominal uang yang saya minta ketika pensiun dini. Bener gak ya..?”

“Diisi berapa Mas Rahmat..?” Tanya Gani atlet Voli kantor pusat yang sedang merintis bisnis Es Pisang Ijo.

“Saya isi saja 1 Milyar…” jawab Rahmat

“Hahhhh…bener tuh..??” Gani terbengong-bengong

“Serius kok! emang ada yang salah? Lha kita ini kan tenaga terdidik, usia produktif lagi. Ketika Perusahaan sudah menawarkan pensiun dini, berarti Perusahaan sudah berpikir matang untuk melepaskan kita."

“Nggak salah Mas Rahmat? " kata Ibu Yani, sambil melepas kaca matanya 
"Apakah  wajar nilai pesangon sebesar itu?”

“Saya hanya membandingkan dengan perusahaan adik saya di Jababeka saja, Bu. Meski tidak sebesar kantor kita, mereka berani memberi pesangon besar lho." Rahmat berkoar dengan begitu semangatnya

“Amin, semoga terkabul ya Mas Rahmat. Lalu, kalau dapat uang sebesar itu mau dibuat apa Mas? ujar Banna, “ Sang Pujangga” karena saat SD berhasil menyabet gelar jawara baca puisi Tingkat Propinsi.

“Saya akan gunakan sebagai modal buat mengembangkan usaha jualan busana muslim istri saya di Pasar Cipulir Mas Is” Rahmat menjawab dengan begitu meyakinkan

“Semoga Sukses ya dan diberikan keberkahan.”

“Kalau Mas Moderator kita bagaimana?” Kata  Iswandi Sang Pujangga kepada Fawzy

“Saya pasti ambil Mas. Lalu saya akan kembali ke kampung  halaman  di Solo melanjutkan usaha ayah saya. WIRUN Sukoharjo adalah kampung gamelan Mas, sebagian besar warganya pembuat gamelan.” Fawzy dengan lugas menyampaikan rencananya

“Wah hebat! Ternyata Mas Fawzy ini anak pengusaha toh!” kata Banna sampai terkagum-kagum

 “Pengusaha opo Mas Is. Ini hanya usaha rumah tangga kok. Bisa dikatakan kampung kami di Wirun sana adalah penjaga dan pelestari budaya, terutama budaya jawa. Oya sampeyan tahun ndak kalau gamelan produk kampung kami sudah diekspor ke Eropa dan Jepang lho!"

“Kalo Pak Ardani mau dipakai buat apa pesangonnya Pak?” kata Fawzy

“Paling akan saya depositokan. Tahu sendiri kan saya ndak bakat menjadi pengusaha, mungkin itu yang akan jadi pilihan saya” kata Pak Ardani bersahaja

Di tengah diskusi hangat meniti kemacetan kota Jakarta ini, Mujib sopir bus jemputan kami yang asli Madura dan jebolan dari sebuah pesantren tradisional di daerah tapal kuda Jawa Timur ikut meramaikan diskusi.

Dengan gaya khas Madura dan tanpa basa basi ia langsung berkomentar,

“Bapak dan Ibu ini seperti orang yang tidak beragama saja. Kalau memang sampeyan -sampeyan diberi pesangon karena pensiun dini, dari tadi koq tidak ada yang punya niat untuk bayar ONH sih. Padahal uang sebesar itu bisa untuk naik haji  lho itung-itung sebagai BEKAL nanti di akherat. Bukankah hidup ini tidak hanya di dunia saja?" Kata Mujib dengan logat kental Maduranya.

"Coba sampeyan nanti kalau sudah di rumah buka Al Qur’an surat Al Hasyir ayat 18  deh. Kira-kira bunyinya seperti ini,

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang diperbuatnya utnuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Ucapan Mujib sopir bus jemputan kami sejenak membuat kami semua terdiam. Betapa hinanya kami karena hanya  memikirkan dunia saja. Hanya memikirkan bagaimana kami bisa survive setelah menerima uang pensiun dini dari perusahaan. Bus jemputan pun hening dengan membawa lamunan kami terkait uang pesangon pensiun dini yang sedang marak dibicarakan.

Jakarta, awal tahun 2012

note:
Semoga bisa menjadi bahan perenungan bersama. Thanks to pa Ardani. Mohon maaf tulisannya banyak yang saya edit. hehe.

2 komentar:

maryu mengatakan...

Subhanallah... betapa serunya! Salam buat Pak supirnya ya!

iswbanna mengatakan...

@maryu: hehe pensiun dini smoga mjdi alternatif

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Masukkan alamat email Anda untuk menerima gratis update terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

 
Free Web Hosting | Top Web Host